Archive for the ‘Coretan Fiksi’ Category

Pekerjaan: Menunggu

Sunday, May 6th, 2007

Untuk sebagian orang pekerjaan saya mungkin dianggap sangat remeh, saya hanya seorang penjaga karcis. Tiap hari saya hanya duduk di kursi bundar yang tidak ada sandarannya. Di tangan selalu ada jegregran untuk menandakan bahwa karcis itu telah terpakai. Saya sudah bekerja disini sejak namanya masih PJKA, kereta api pada saat ini lebih ramah daripada sekarang. Meskipun kelas eksekutif belum ada, kelas bisnis dan ekonomi sangat nyaman. Tidak adanya pengamen yang masuk dan penjaja makanan membuat penumpang merasa nyaman. Jika perlu makanan penumpang itu akan beranjak keluar atau sekedar menengok dan memanggil penjual yang sudah siap sedia.
Sudah dapat diduga, gaji penjaga karcis sangatlah kecil. Tapi saya masih beruntung, teman saya tiap malam harus mencek rel kereta api, sendirian lagi. Pernah ada yang ingin membantu tapi di tengah jalan orang itu ijin minta pulang, karena dia kecapaian. Dengan gaji yang seadanya saya bisa menghidupi istri dan 3 orang anak saya. Yang paling besar sekarang sudah mulai masuk Universitas Negeri di jakarta. Memang rejeki itu tidak mungkin salah alamat, ada seorang mahasiswa pernah bilang ke saya, kalau negara kita tidak korupsi, pegawai negeri bisa digaji sekitar 8 juta. Wah saya pikir kalau jadi pegawai negeri gajinya segitu, pasti banyak yang ingin jadi pegawai negara, mana mungkin saya diterima. Saya yang cuman lulusan SD. Saya berjanji kepada diri saya sendiri supaya anak-anak saya tidak mengalami nasib yang seperti saya, seorang lulusan SD.
Ada satu hal yang membuat saya senang menjadi penjaga karcis. Saya selalu bertemu dengan orang-orang baru tetapi ada juga orang-orang yang sudah rutin naik kereta api, ditambah juga raut muka ceria ketika orang-orang sudah berkumpul dengan keluarga atau temannya. Tidak dapat dipungkiri juga saya sering terharu ketika melihat orang berpisah, tetapi dibalik keterpisahan itu saya melihat secercah harapan dan semangat.
Harapan dan semangatlah yang membuat saya betah disini. Harapan hari esok lebih baik bagi saya dan keluarga. Semangat dalam berbuat yang terbaik untuk hidup yang sekali ini. Jam kerja saya sudah habis, kuraih tas dan sepeda yang terkunci di pintu belakang. Kukayuh sepeda dengan harapan mendapat sambutan hangat ketika pulang.

Suatu malam di Bosnia

Monday, April 2nd, 2007

"Aaaaahhhhh", aku terhenyak terbangun dari tidur, "Mimpi itu lagi", kataku dalam hati. Badanku berkeringat dingin, tergambar kejadian pada hari itu, perang saudara Bosnia Serbia. Pagi itu, 2 jam sebelum adzan Subuh berkumandang, rentetan senjata otomatis memecah kesunyian malam. Aku yang masih tertidur pulas, terbangun dan langsung menangis. Keadaan yang sangat gelap karena sudah 3 hari listrik padam, yang terlihat hanyalah lompatan api dari letusan senjata. Pelan - pelan mataku menyesuaikan dengan keadaan sekitar, meskipun masih agak buram, aku dapat melihat ibuku yang masih memakai mukena datang padaku seraya berkata, "Cepat kita pergi ke bunker (tempat persembunyian)". Aku yang bingung dan tercekam takut hanya dapat menuruti kata-kata ibu tanpa bisa berkata apa-apa seakan-akan suaraku habis dimakan oleh kekagetan. Kulihat ayah sudah berdiri di depan pintu memanggul senjata yang sudah dipersiapkannya beberapa hari lalu setelah desa tetangga kami diserang oleh pasukan Serbia. "Anakku, ayo sini", ayahku mendekapku dengan tangan kirinya dan mengangkatku sambil berlalu, tangan kanannya memegang erat senjata AK-47 buatan Rusia.
Sampailah kami pada tempat yang menyerupai bukit kecil, di bagian bawah bukit itu terdapat lekukan agak menjorok ke dalam, hampir mirip sebuah gua, di tempat itu terdapat pintu yang kemudian diketok oleh ayahku. "Siapa itu?", teriak suara laki-laki yang berbicara dengan agak keras. "Laskar Allah", kata ayahku. Laskahr Allah adalah kata sandi yang dipakai untuk memasuki pintu tersebut. Tak lama kemudian pintu itu dibuka, lalu ayah menyuruhku dan ibuku masuk ke tempat itu.
Dapat kulihat bibiku, ibu guru, dan teman-teman bermainku, Hasan, Abdullah, Qosim, dan juga Hamzah menggigil ketakutan di pelukan ibunya yang berusaha menenangkannya, dan ada juga yang menangis tetapi ditahan mulutnya supaya tidak terdengar oleh musuh. Persembunyian ini memang cukup aman, disamping tempatnya berada di pinggir tebing, yang kemungkinan musuh tidak akan mendatanginya kecuali kalau desa kami telah ditaklukan.
Terdengar suara meriam bertubi-tubi, kami semua berteriak karena kaget. "Jangan teriak.", bisik penjaga pintu tadi yang tidak lain adalah pak Hakeem, guru olahraga kami di sekolah dasar. Beliau mengintip ke arah luar melalui lubang kecil yang terdapat pada dinding pintu, seraya mengokang senjatanya untuk jaga-jaga jika ada pasukan Serbia yang mendengar teriakan kami. Tung, tung ,tung, kembali terdengar desingan peluru yang sepertinya berasal dari arah atas, mungkin terkena atap beton bunker yang ditutupi oleh semak-semak.
Di tengah-tengah ketakutan aku pun tertidur kembali di pelukan ibu karena lelah menangis. Kubermimpi diriku sedang berlari di suatu taman bersama orang tuaku, nenek, kakek, bibi, paman, dan saudara-saudaraku yang lain. Tempatnya sepertinya sudah pernah kudatangi sebelumnya, oh ya kebun punya nenek, setiap musim panen kami sekeluarga berkunjung ke rumah nenek dan kakek untuk membantu mereka mengambil hasil panenan. Biasanya saudara-saudara kami yang lain pun hadir, keadaannya hampir menyerupai Idul Adha di desa kami. Indahnya mimpi itu.
Kuterbangun ketika adzan subuh berkumandang seraya diikuti oleh teriakan dari ayahku dan rekan-rekan ayahku. Kulihat badan ayahku kotor terkena lumpur dan terlihat sedikit darah di bajunya. Kubertanya pada ibuku apa yang terjadi, "Kita menang anakku, pertolongan Allah telah datang". Pada hari itu kami menang, tapi kami tidak bisa senang terlalu lama. Setelah sholat Shubuh, kami sekeluarga dan orang-orang desa siap mengungsi ke daerah lain untuk berkumpul dan mengatur kekuatan.
Aku terduduk sebentar di tempat tidurku, lalu kuambil segelas air minum dari dapur.Kejadian 17 tahun lalu sangat membekas di hatiku. Keluarga nenek buyutku yang berjumlah 13 orang habis dibantai kecuali nenek buyutku bersama-sama 3 orang anaknya yang berhasil kabur karena diselamatkan oleh kakek buyutku yang memberanikan diri sebagai martir keluarga. Begitulah sejatinya seorang suami dan ayah yang baik, selalu menjaga keamanan dan kehormatan keluarganya, pesan nenek buyutku yang selalu diucapkan ketika kami berkumpul. Dia juga selalu mengingatkan kami untuk selalu bekerja dengan giat dan serius mengerjakan sesuatu dalam segala hal karena keadaan dapat berubah dengan tiba-tiba. Dan tidak lupa selalu beristighfar mengingat Allah setiap saat, karena kita tidak tahu kapan akan dipanggil.
Ketika kuberjalan, kulihat jam dinding yang terletak di bawah foto kakek dan nenekku buyutku ketika Idul Adha setahun sebelum perang terjadi, masih jam 3 pagi. "Ah segarnya tenggorakanku"kataku dalam hati. Kulihat ibu dan ayahku sedang sholat tahajjud, kebiasaan yang tidak pernah hilang sampai sekarang ketika kami sudah berada di jerman. Aku duduk sebentar, sayup-sayup terdengar ayat dari surat Ar-Rahman, "Dan nikmat-Nya yang manakah yang kau dustakan?". Kuterdiam dan tanpa terasa air mataku mengalir, kubelokkan langkah kaki untuk mengambil air wudhu seraya berkata, "Tidak ada ya Allah".

Jam tangan

Thursday, June 15th, 2006

Jam itu adalah pemberian orang tuaku ketika aku akan berangkat ke jakarta. Jam yang akan mengingatkanku tentang waktu, waktu yang akan selalu berlari. Kulihat jam baruku, modelnya memang elegan tetapi agak kuno, disertai angka yang cukup besar. Tidak sesuai seleraku dalam hati. Perkataan hatiku yang kusesali seumur hidup. Jam itu selalu kupakai dalam segala hal, untuk ujian, menepati janji, dan tentunya untuk mengetahui waktu. Jam itu tidak pernah kurawat, tampilan kacanya sudah bergaret-garet, talinya sudah mau putus. Aku berpikir, biarlah jam ini rusak, biar ada alasan untuk mengganti yang baru.
Apa yang kudapat, hari itu aku akan berangkat ke salemba, kupasang jam ku disertai dengan mengaca dan merapikan rambut. Siap jalan, tas n baju baru disertai dengan sedikit ego atau lebih bisa disebut sedikit sombong, aku berangkat ke salemba dengan kereta listrik (KRL). KRL yang penuh sesak, kadang-kadang kakiku tidak bisa menapak ketika KRL terlalu penuh. Ah dapat tempat duduk rupanya, wuih tumben aku dapat tempat duduk. KRL berhenti di pasar minggu, banyak penumpang turun untuk berganti dengan bus. Kulihat jamku, hmmm masih ada waktu, kataku.
Kulihat seorang ibu yang cukup umur ada di depanku, sebagai lelaki sejati tentunya aku memberikan tempat dudukku kepada ibu tersebut. Silahkan bu, kataku, terima kasih mas, jawab ibu tersebut.
Karcis, karcis, petugas berteriak ke penumpang. Kulihat jam ku lagi, keren. Bu, karcisnya, petugas itu berkata ke ibunya, si ibu mengasih uang seribuan ke petugas…..

Pagi berdarah

Thursday, April 20th, 2006

Ketika itu hari masih terlalu pagi untuk disebut menjadi siang. Cuaca yang cerah tidak menyurutkan keinginanku untuk melakukannya. Sudah kupikir matang-matang sejak tadi malam apa yang akan aku lakukan pada hari ini. Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun, masih terbayang konsekuensi apa yang akan terjadi bila perbuatan yang kurencanakan dilakukan. Kuasah golok yang sudah aku persiapkan sehingga menjadi sangat tajam, bahkan aku sendiri tidak berani untuk mencobanya.

Waktunya telah tiba, "jangan, jangan, jangan kau lakukan itu", bisik sesuatu dalam hatiku."Lakukan sajalah, apa susahnya sih, cukup sekali semua menjadi beres bukan", sisi lain hatiku membisiki. "Sudah kaupikirkan baik-baik apa yang akan kau lakukan, sudah siap semua yang kaurencanakan, ingat kalau kau sudah melakukannya jangan sampai lepas sehingga dapat dipastikan bahwa ianya telah mati", sebuah nasehat yang sangat lugas diberikan oleh teman seprofesi.

Setelah kuberjalan sebentar ternyata sudah ketemu, tidak susah mencarinya. "Ternyata semuanya sudah sesuai dengan rencana", kataku dalam hati. Langsung saja kudekati, kuikat, lalu kusengkat sehingga ianya terjatuh. Kuikat lagi sekuat-kuatnya sehingga ianya tidak berkutik, ianya hanya bisa mengeluh tanpa bisa berkata apa-apa. Kuangkat golok yang sudah kupersiapkan, jesssss tak terasa darah mengembur dengan deras dari lehernya, kugorok lehernya sampai tidak berkutik lagi. Kutinggalkan dan kumelihat sebentar, terlihat ianya sedang meregang dan menunggu mau menjemput. "Mati juga akhirnya", kataku.

Tapi perasaan di hati ini belum puas juga, aku harus mengulitinya dan mencacah dagingnya. Kutarik tubuhnya yang sudah tidak bernyawa, kutebas kepalanya hingga buntung, dan kubelah dadanya sebagai pembuka. Kukiliti dengan pelan-pelan dan hati-hati, "Masih amatir", kataku dalam hati.

Setelah kukiliti lalu kuacungkan golokku tinggi-tinggi dan crot terdengar bunyi daging yang tercacah-cacah. Setelah semuanya sudah terlambat aku baru tersadar, apa yang aku lakukan, bajuku penuh darah, ditanganku ada golok, didepanku banyak daging yang berserakan. Lemas sudah seluruh tubuhku.

Aku terkaget ketika ada seseorang yang menyentuhku dan berkata "Apa yang kau lakukan?". Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, badanku sudah lemas semuanya. "Mana dagingnya, orang-orang sudah menunggu dari tadi, jadi bikin sate ga, soalnya kalau terlalu siang nanti keburu lapar", kata temenku. "Oh iya sampe lupa, sekarang kan Idul Adha yah", kataku girang.

Kisah si Budi(2)

Saturday, December 3rd, 2005

Setelah semua proses kredit yang normal maupun yang abnormal kujalani, kredit itu pun cair. Akhirnya semua usaha lancar, keluarga menjadi harmonis. Biarlah kupegang keputusan itu untuk diriku sendiri sampai mati.

alternatif Kisah si Budi(2)

Saturday, December 3rd, 2005

Setelah semua uang suap aku penuhi, dengan cara meminjam uang kepada seorang kawan dengan jaminan rumah dan isinya, Pencairan kredit pun mulai. Pencairan dana dibagi menjadi 3 tahap. Tahap pertama 50%, yang kedua 30%, dan yang ketiga 20%. Tahap pertama pencairan sudah berjalan, aku bisa melihatnya di buku tabungan yang diberikan oleh pak Pemasaran.

Tapi yang mengagetkan ketika uang itu akan diambil, pihak bank mengatakan semua kredit terpaksa diberhentikan. Pimpinan bank tersebut terkena kasus suap dan korupsi. Semua anak buahnya pun dipanggil untuk dijadikan saksi, termasuk juga pak Pemasaran. Seminggu kemudian pihak kepolisian mengunjungi rumahku dan memberi surat pemanggilan atas kasus suap. Tak lama kemudian statusku berubah dari saksi menjadi tersangka, semua proses kredit diberhentikan secara total. Utang perusahaan selama 6 bulan belum juga terbayar, temenku yang meminjam uang sudah menagih kapan akan dibayar, dia juga mengancam akan menyegel rumahku. Pikiranku kacau kembali, lebih kacau daripada waktu memutuskan akan memberi suap. Usaha hancur, rumah hilang, keluarga terkatung-katung, harga diri dimata rekan dagang rusak, nasibku sudah tak menentu. Akhirnya aku dipertemukan dengan pak Pemasaran dalam satu ruangan, cuman berdua. Beliau hanya bisa menunduk, tanpa berani menoleh. Hatiku panas pada saat itu, dengan sejuta penyesalan. Coba dulu kalau aku tidak pinjam ke bank, kalau aku tidak menyuap, semua penyesalan memuncak menjadi kemarahan kepada pak Pemasaran yang mendorongku berbuat suap.  Kulihat ada bolpen di meja, kuputuskan pada saat itu aku menjadi seorang pembunuh.

(Cerita ini fiksi belaka, nama dan tempat tidak pernah disesuaikan)

Kisah si Budi(1)

Saturday, December 3rd, 2005

Sebut saja namaku Budi, sebuah nama samaran yang simpel, yang diambil dari buku pelajaran membaca kelas 1 SD yang dipinjamkan oleh kakak kelas (pada saat ini kegiatan pinjam meminjam buku dari kakak kelas sudah tidak berlaku lagi sekarang karena tiap catur wulan diwajibkan mengganti buku). Ketika anda membaca kisah ini, mungkin aku sedang berada di penjara atau masih buron atau juga sedang bersenang-senang dengan keluarga.

Aku mempunyai seorang istri dan seorang anak yang masih kecil, maklum usia pernikahan kami masih muda. Keluarga kami adalah keluarga yang harmonis. Pekerjaanku adalah wiraswasta, setelah tidak lulus pada ujian ke-3 di sebuah Bank terkemuka milik pemerintah. Kabar burung yang beredar mengatakan ada sebagian peserta yang tidak terdaftar bisa lolos masuk ujian ke-4, tetapi aku tidak mengambil pusing hal itu. Selain itu dengan keadaan yang sekarang perekonomian keluarga kami bisa dibilang lebih dari cukup.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, imbas krisis ekonomi menerpa juga kepada kami. Pesanan barang menurun drastis, perusahaan untuk sementara merumahkan karyawan. Untuk hidup sehari-hari kami menggunakan tabungan yang sebelumnya disisihkan untuk hari tua.  Dua tahun sejak imbas ekonomi, tabungan sudah berada dititik batas. Tetapi untungnya pesanan barang sudah mulai kembali. Habis gelap terbitlah terang, mungkin perkataan itu cocok sekali dengan perusahaan kami. Pesanan barang meningkat dengan cepat, dan kondisi keuangan yang sekarang sudah tidak mampu lagi untuk membeli barang-barang modal. Kuputuskan untuk meminjam uang di bank. Keputusan inilah yang akan mengubah hidupku untuk selamanya.

Aku memberanikan diri untuk meminjam uang di bank tempat aku mencoba untuk melamar kerja pertama kali. Pilihan memilih bank Pemerintah karena uang yang di bank tersebut adalah uang rakyat, jadinya kalau rakyat ingin meminjam uang maka lebih mudah daripada di bank Swasta. Asumsi yang ternyata terlalu naif. Pihak pemasaran bank tersebut memberikan syarat-syarat normal untuk mengajukan proposal peminjaman uang. Aku sebut syarat-syarat normal karena nanti ada syarat-syarat tidak normal yang akan kuceritakan. Setelah membaca seluruh dokumen dari bank, terbersit senyum optimis. Persyaratannya mudah, semua dokumen yang dibutuhkan sudah tersedia di rumah. Seminggu kemudian aku kembali menemui pihak perbankan untuk memberikan formulir, dokumen, dan proposal. Pihak bank mengatakan akan memproses peminjaman uang, silahkan bapak menunggu jawabannya satu bulan ke depan.

Tak terasa sebulan telah berlalu, telepon yang ditunggu-tunggu pun berbunyi. "Bisa bicara dengan bapak Budi?", "Ya, betul saya sendiri.",jawabku, "Kredit bapak bisa cair minggu ini, tapi pihak kami membutuhkan audit independen terhadap perusahaan bapak", "Bisa, kebetulan saya mempunyai klien sebuah perusahaan audit independen ternama.",jawabku lagi. "Oh kalau begitu silahkan bapak ke kantor kami besok pagi.","Terima kasih pak.". Akhirnya selesai juga semuanya.

Keesokan harinya, ku menemui Pak Pemasaran. "Bagaimana kabarnya pak?"kubuka pembicaraan. Setelah kami berbasa basi sebentar, beliau mengatakan "Tentang perusahaan audit yang bapak katakan kemarin, kami tidak bisa menjamin apakah kredit bisa cair atau tidak.", "Lho kok bisa pak?"tanyaku, "bukankah perusahaan itu sudah diakui secara nasional."."Sebenarnya bukan disitu masalahnya, ehm, begini pak, pihak perbankan kami mempunyai kebijakan bahwa dalam pencairan kredit kami harus menggunakan audit yang benar-benar sudah kami percayai. Jadi kami mempunyai rekanan yang sudah ditunjuk."terang bapak Pemasaran. "Oh tidak masalah, kalau begitu tolong beri saya daftar rekanan yang pihak Bapak percayai."jawabku polos.

Hari itu juga aku menelpon beberapa rekanan. Ada hal yang mengagetkan, semua rekanan yang aku telpon sudah mematok harga yang tidak jauh beda, padahal mereka belum melihat perusahaanku. Bagaimana mereka bisa mematok harga, padahal tidak tahu kondisi kliennya, pikirku dalam hati, daripada tidak dapat, coba saja dulu. "Baik pak Budi, jadi besok kita ketemu di kantor bapak." jawab bapak Rekanan.

"Begini pak, biaya audit sekian juta harus bapak persiapkan terlebih dahulu.",kata Pak Rekanan. "Wah kalau itu terlalu besar, maksimal 30 persen dong, normalnya kan segitu pak.",tawarku. "Wah tidak bisa pak, ini sudah kebijakan semua perusahaan yang sudah menjadi rekanan bank. Kalau bapak tidak mau, kami juga tidak rugi, yang membutuhkan uang kan bapak.". Jawaban dari bapak Rekanan membuatku tersentak. Gila ini pelegalan KKN dengan bungkus audit independen, kenapa aku tidak sadar dari awal, kasihan yang mempunyai profesi sebagai audit, dicoreng dengan adanya hal yang seperti ini. ".

Akhirnya aku menyerah juga, daripada perusahaan tidak berjalan, kusetujui perjanjian itu. Uang tabungan setengahnya sudah terpakai untuk membayar proses pengauditan. "Selamat pak, kredit bapak akan cair dalam waktu satu bulan ke depan.",jawab pak Pemasaran setelah melihat hasil audit. Sebulan kurang dari waktu yang dijanjikan, pak Pemasaran menelpon kembali "Bisa bapak besok kesini, saya menemukan kejanggalan di perusahaan bapak. Saya takut kalau bapak tidak segera menyelesaikan proses pencairan uang bisa tertunda."

Keesokan harinya bapak Pemasaran mengenalkan beberapa orang kepadaku. Dia mengatakan mereka semua adalah yang mengatur semua proses pencairan uang. Aku gembira sekali, ternyata orang-orangnya sudah siap semua, tinggal menunggu uangnya saja. "Begini pak, sebenarnya persyaratannya sudah lengkap, tapi kami harus survei juga ke perusahaan bapak.". "Untuk apa, bukankah sudah diaudit yang rekanan yang bapak tunjuk dan percayai, masa bapak tidak percaya dengan hasilnya?", tanyaku. "Betul pak, tapi ini formalitas untuk pengecekan dokumen audit"."Baik kalau begitu".

Setelah proses survei dilakukan, banyak pengurus pencairan yang menelpon. Ada yang menanyakan bagaimana kabarku, kabar keluargaku, yang anehnya lagi kadang-kadang ada yang menanyakan kabar proses pencairan kredit. Aku jadi berbalik bertanya "kan bapak yang tahu kok tanya ke saya". Sebulan, dua bulan, tiga bulan, telpon yang sama selalu berdering, ketika aku menanyakan ke pak Pemasaran, jawabannya selalu sama "Sedang diproses". Kredit belum cair juga seperti yang telah dijanjikan, padahal uang tabungan sudah terpakai untuk biaya survei dan pengurusan dokumen yang harus dibuat oleh rekanan yang lain. Ketika aku bertemu dengan teman yang bekerja di perusahaan audit, beliau bilang bahwa telpon itu pertanda bahwa mereka minta uang pelicin. Pada saat itu aku tidak percaya sama sekali, soalnya semua dokumenku asli dan memang aku punya niat untuk mengembalikan uang pinjamannya itu. Sudah setengah tahun proses pencairan belum juga selesai , sempat terpikir untuk memakai uang pelicin.

Akhirnya telpon yang ditunggu pun berbunyi "Kredit bapak bisa cair besok". Wah akhirnya. "Begini pak, bapak mempunyai rekening tabungan di bank kami, pencairan uang akan dimasukkan ke rekening tersebut. Tetapi sebelumnya karena bapak belum mengerti juga, bahwa kami disini meminta 10% dari nilai kredit untuk hadiah lebaran. Kalau uang ini sudah kami terima, uang sudah bisa diambil". Aku sempat tertegun mendengar berita itu hadiah lebaran dari uang suap, gila.

Sehari semalam aku tidak bisa tidur memikirkan hal itu, darimana aku bisa mendapatkan uang sebesar itu, apakah waktu 6 bulan menangkis suap harus kalah juga, apakah tidak ada lagi cara untuk mendapatkan uang yang halal, bagaimana dengan anak dan istriku, apakah mereka akan memakan uang dari hasil uang suap, gila, tabungan habis, modal tidak ada, mau nambah modal malah habis modal, ini benar-benar gila. Akhirnya keputusan gila itu kuambil juga, dan kredit pun cair.

Bersambung…