Berpuasa di Stuttgart
Monday, October 15th, 2007Tak terasa sudah hampir tiga tahun saya bersama keluarga besar Stuttgart. Banyak teman baru yang datang maupun teman lama yang sudah pulang berbakti di negeri tercinta, Indonesia. Tak terasa pula dua idul fitri dan satu idul adha saya ikuti di kota ini. Banyak sekali petualangan dan pengalaman yang saya terima disini. Apalagi ketika puasa kemarin, hanya satu kali saya berbuka puasa, itupun karena saya sakit karena keracunan nasi basi:) Inilah akibat kemalasan saya untuk menanak nasi sebelum sahur yang akibatnnya nasi yang agak basi pun saya sikat habis dengan asumsi baunya masih seperti nasi biasa.
Tentunya sudah dapat kita kira, puasa di negara yang minoritas Islamnya, sungguh sulit untuk berpuasa yang khusyu’. Dari tayangan televisi dan iklan yang kurang senonoh yang dapat kita lihat di jalan umum ditambah cuaca yang cukup panas membuat pemandangan harus benar-benar dijaga. Barulah saya teringat betapa nikmatnya berpuasa di negeri tercinta, Indonesia, dimana kegiatan selama bulan Ramadhan begitu terasa dan mudah diketemukan walaupun agak terkotori oleh sifat konsumenisme yang digembor-gemborkan selama bulan ramadhan dibungkus dengan alasan mulia yaitu harus tampil baru sesudah ramadhan.
Di kota ini, Stuttgart, untuk tidak berpuasa sangatlah mudah, dari alasan kita musafir sampai dengan tidak akan ada yang melihat perbuatan kita jika berbuka. Kedai kopi, dan restoran berjejer di sepanjang jalan atau yang paling mudah masak saja sendiri. Disinilah godaan yang sangat besar, apalagi disini jarang sekali orang yang akan mengingatkan jika kita tidak berpuasa. Tapi ada yang menarik, di toko makanan kesukaan saya di daerah Feuerbach, tutup selama bulan Ramadhan, dan ada juga yang tidak buka ketika siang hari. Mereka tidak takut akan kekurangan rezeki karena mereka yakin rezeki dari Allah. Tidak ada disini warung setengah malu ataupun lembaran kain menutup selama bulan ramadhan. Buka atau tidak sama sekali. Argumen yang akan saya selalu ingat, masa keuntungan selama sebelas bulan lainnnya tidak bisa menutupi untuk bulan Ramadhan.
Ifthar dapat ditemui di hampir semua masjid, ada yang tiap hari ataupun yang akhir pekan saja. Menunya sangat lengkap dari makanan ringan sampai dengan makanan utama. Semua masjid menyajikan semua menunya. Makanya tidak heran ketika bulan Ramadhan bukannya turun berat badannya, malah naik karena ada perbaikan gizi setiap hari:)