Pekerjaan: Menunggu
Untuk sebagian orang pekerjaan saya mungkin dianggap sangat remeh, saya hanya seorang penjaga karcis. Tiap hari saya hanya duduk di kursi bundar yang tidak ada sandarannya. Di tangan selalu ada jegregran untuk menandakan bahwa karcis itu telah terpakai. Saya sudah bekerja disini sejak namanya masih PJKA, kereta api pada saat ini lebih ramah daripada sekarang. Meskipun kelas eksekutif belum ada, kelas bisnis dan ekonomi sangat nyaman. Tidak adanya pengamen yang masuk dan penjaja makanan membuat penumpang merasa nyaman. Jika perlu makanan penumpang itu akan beranjak keluar atau sekedar menengok dan memanggil penjual yang sudah siap sedia.
Sudah dapat diduga, gaji penjaga karcis sangatlah kecil. Tapi saya masih beruntung, teman saya tiap malam harus mencek rel kereta api, sendirian lagi. Pernah ada yang ingin membantu tapi di tengah jalan orang itu ijin minta pulang, karena dia kecapaian. Dengan gaji yang seadanya saya bisa menghidupi istri dan 3 orang anak saya. Yang paling besar sekarang sudah mulai masuk Universitas Negeri di jakarta. Memang rejeki itu tidak mungkin salah alamat, ada seorang mahasiswa pernah bilang ke saya, kalau negara kita tidak korupsi, pegawai negeri bisa digaji sekitar 8 juta. Wah saya pikir kalau jadi pegawai negeri gajinya segitu, pasti banyak yang ingin jadi pegawai negara, mana mungkin saya diterima. Saya yang cuman lulusan SD. Saya berjanji kepada diri saya sendiri supaya anak-anak saya tidak mengalami nasib yang seperti saya, seorang lulusan SD.
Ada satu hal yang membuat saya senang menjadi penjaga karcis. Saya selalu bertemu dengan orang-orang baru tetapi ada juga orang-orang yang sudah rutin naik kereta api, ditambah juga raut muka ceria ketika orang-orang sudah berkumpul dengan keluarga atau temannya. Tidak dapat dipungkiri juga saya sering terharu ketika melihat orang berpisah, tetapi dibalik keterpisahan itu saya melihat secercah harapan dan semangat.
Harapan dan semangatlah yang membuat saya betah disini. Harapan hari esok lebih baik bagi saya dan keluarga. Semangat dalam berbuat yang terbaik untuk hidup yang sekali ini. Jam kerja saya sudah habis, kuraih tas dan sepeda yang terkunci di pintu belakang. Kukayuh sepeda dengan harapan mendapat sambutan hangat ketika pulang.