Berbuka puasa di Jerman
Mungkin ada orang yang melihat tulisan saya yg sekarang agak aneh, karena tiba-tiba saya menulis tentang bulan puasa di Jerman. Saya hanya ingin menulis tentang apa yang kita kerjakan ketika bulan puasa tapi lebih tepatnya apa yang kita lakukan ketika akan berbuka. Saya masih ingat ketika saya melakukan pertama kali puasa di sini, saya beserta sahabat saya, Fedy, mengidekan bagaimana kalau kita berkelilig masjid untuk berbuka disana, karena di setiap masjid dapat dipastikan semuanya menyediakan makanan untuk berbuka dari makanan ringan sampe yang berat. Tapi sebelum kami melakukan itu, kami berpikir bagaimana kalau nasib kami seperti teman kami di salah satu kota di Jerman karena sangat seringnya mereka makan di satu masjid dalam jumlah yang banyak, panitia masjid itu meminta bantuan mereka untuk melakukan sesuatu. Dan dapat ditebak keesokkan harinya tidak ada mahasiswa Indonesia yang datang ke tempat itu lagi.
Akhirnya kami memutuskan untuk berbuka di sebuah masjid Pakistan, ketika acara berbuka datanglah makanan ringan khas Pakistan bakwan bombay goreng, pertamanya kami agak sungkan untuk mengambil karena baru pertama kali melihat bakwan isinya bawang bombay saja. Tetapi teman kami orang Pakistan yang melihat kami kebingungan memaksa kami untuk mencoba dan ternyata enak sekali, langsung saja jatah 4 orang yang ada di depan kami, kami lahap habis. Selesai makanan pembuka kami pun melakukan sholat Maghrib.
Setelah itu datang menu yang kami tunggu-tunggu yaitu kari kambing beserta roti bantal, khas makanan dari Pakistan, India, Afghanistan, dan sekitarnya. Kari tersebut diletakkan di sebuah nampan yang besar, yang bisa menampung sampai dengan 5 porsi. Tiap-tiap nampan di letakkan di depan sekelompok orang. Kebetulan posisi kami berada di tengah-tengah 2 nampan, tanpa dikomando kami semua berkumpul mengelilingi nampan tersebut. Dan tanpa di komando saya dan fedy harus berbeda kelompok karena porsi makan kami yang cukup dasyat apalagi kalau gratis. Roti pun disebarkan disekeliling nampan, pertamanya saya agak aneh, makan kari dengan roti. Saya melihat orang Pakistan mulai menyobek roti tersebut dan mencelupkannya di nampan sambil mengambil daging dengan bantuan roti tersebut, hebatnya tangannya tidak menjadi basah ketika mengambil daging tersebut. Saya mencobanya tetapi dagingnya jatuh lagi, seorang teman menawarkan apakah saya memerlukan sebuah sendok, saya menolaknya dengan mengucapkan terima kasih. Akhirnya saya berhasil dan ternyata rasannya nikmat sekali. Porsi untuk 5 orang tersebut langsung habis, ketika panitia masjid melihat nampan kami sudah habis, beliau kembali lagi menuju dapur dan membawa sebuah nampan lagi.
Setelah berbuka selesai, yang hadir pun mulai meninggalkan tempat duduk, kami sebelum pulang mengumpulkan nampan-nampang yang ada dan membawanya ke belakang untuk dicuci, tetapi kami dicegah untuk mencuci oleh panitia masjid itu, malahan dia menawarkan kami untuk makan bersama mereka di dapur dan mengambil mangkok dan dipersilahkan mengambil kari di kuali yang besar sekali, mungkin bisa dipakai untuk berendam 2-3 orang anak kecil.
Pengalaman yang lain adalah ketika kami berbuka di masjid Arab, pertama kali masuk masjid, kebetulan kami sudah telat datang sehingga adzan sudah berkumandang. Di pintu masuk masjid berjejer orang menawarkan kurma yang telah dibelinya, karena pahala memberikan sesuatu untuk berbuka sama dengan pahala puasa orang berpuasa. Penuh sesaklah pintu masuk masjid dengan orang-orang yang menawarkan kurma. Ketika saya mengambil satu buah kurma ternyata masih ada batangnya, jadinya sekali ambil sekitar 6 buah kurma saya dapatkan. Alhamdulillah, lebih dari yang biasa dimakan oleh Rasul, karena Rasul berbuka hanya dengan 3 buah kurma saja. Sesudah memakan kurma sholat Maghrib pun kami laksanakan yang dilanjutkan dengan sholat sunnah sesudah Maghrib. Seakan-akan para hadirin sudah mengetahui apa yang harus dilakukan, kami duduk bershaf-shaf dan saling berhadapan. Di depan kami direntangkan plastik yang cukup panjang, kemudian semangkuk sup ayam di distribusikan, Bismillah, enak sekali rasanya. Saya sangka itu merupakan makanan beratnya ternyata apa yang saya fikirkan adalah salah. Datang lagi menu nasi beserta sup kacang merah ditambah dengan daging, porsinya 1,5 kali porsi orang Indonesa yang membuat kami cukup kenyang. Ketika kami beranjak sesudah memakan menu tersebut, kami ditahan oleh rekan kami dari Mesir dan ternyata kami diberi menu penutup, yoghurt khas Arab.
Dijamin puasa di Jerman, adalah perbaikan gizi karena makannya selalu daging dan menghemat uang belanja:). Suatu rahmat Allah untuk para pencari ilmu. Disamping kalau musim dingin puasanya sangat sebentar sekali kadang-kadang sahur pukul 6.30 pagi dan jam 5 sore sudah berbuka.
May 3rd, 2007 at 6:42 pm
Mau donk bakwan isi bawang bombay, kari kambing, roti bantal,kurma khas jerman, sup ayam, sup kacang merah, yoghurt khas Arab…Hmmm…Nyamiiii.. ^_^
Ntar kalo pulang ke indo bawa yaks sebagai oleh2 =)
tapi kagak pake basi hehehe…
^_^
May 6th, 2007 at 6:49 am
hmmmm, hobi makan juga tokh:) udah pas olimpiade fisika di eropa ikut aja kesini. bilang aja sama bos kamu:)