Archive for May, 2007

Saat bangsa INDONESIA diisolasi dunia internasional…

Friday, May 18th, 2007
Postingan dari temen...

Assalamualaikum wr. wb.

Tahun 1945 kita menyatakan diri merdeka (kalau di SMA dulu, istilahnyaDE FACTO). Di buku sejarah diceritakan, Belanda ingin balik kembali keIndonesia. Maka terjadilah perang kemerdekaan. Baru tahun 1949 (4 tahunkemudian) kemerdekaan kita diakui dunia internasional (kita diajari disekolah dengan istilah DE JURE).

Saat-saat kritis 4 tahun tsb. siapa kira-kira yang paling perduli danmengkampanyekan kemerdekaan bangsa Indonesia ? Pasukan sekutu-kah ?Mereka yang menang perang dunia ke-2 kah ?

Ternyata ditulis di buku sejarah, yang pertama kali mengakui Indonesiamerdeka adalah MESIR. Tokoh-tokoh Islam Mesir pernah menyerukan boikotterhadap kapal-kapal Belanda yang mampir via terusan Suez. Buruh-buruhmesir di kapal mengibarkan bendera merah putih.

Dunia Arab membuat komite solidaritas untuk kemerdekaan bangsaIndonesia. Salah satu anggota nya adalah Mufti Palestina. Saat ituIndonesia belum ada apa-apanya, masih tertatih-tatih. Para pemimpin kita(H. Agus Salim dll) mengunjungi dunia Arab untuk minta dukungankemerdekaan.

Maka entahlah, apa kata kita sekarang. Saat anak-anak menangis karenalapar, orang yang sedang sakit terus merintih karena tidak ada obat,dll. Dan itu semua hanya karena diisolasi, bantuan ditutup. Pelajaranbagi kita untuk perduli dan berbagi, walau hanya dengan sekeping uanglogam.

"Barangsiapa tidak perduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukangolongan mereka". [Al Hadits]

Problem when Installing Debian with ATI VGA Card

Thursday, May 10th, 2007

If you found problem to start x-window in your debian system maybe this is the answer.

First you must install all the packages for ATI driver. The packages are fglrx-driver (the core driver, you can install only this package but you won’t get 3D capabilities, not worthed hah), fglrx-kernel-src (the driver to enable your 3D power), fglrx-control (control panel for your ATI). Because the driver place in Non-Free directory in Debian, you won’t find it in your CD or DVD distribution so you must download them with your self.  There are several ways to install and get the packages.

I assume that you are root and use the i386 platform

1a. Install and get the packages with apt-get command
apt-get install fglrx-driver fglrx-kernel-src fglrx-control
if you don’t need the last two just exclude them

1b. Download with your browser and install in your home directory, if you used lynx you will get some problem when installing directly from the website. install in home directory with

dpkg -i fglrx-driver_8.28.8-4_i386.deb
dpkg -i fglrx-kernel-src_8.28.8-4_i386.deb
dpkg -i fglrx-control_8.28.8-4_i386.deb

Make sure that all the depended package are already installed.
The information can be found in http://packages.debian.org/stable/x11/

2. Compiling the kernel

module-assistant prepare
module-assistant update
module-assistant a-i fglrx

It will arise some errors but no problem just do the next step

3. Execute this command

aticonfig –initial

4. Confirm if it works

fglrxinfo

5. Try the x-window if you have any problem, execute this command

dpkg-reconfigure xserver-xorg (for debian 4)
dpkg-reconfigure xserver-xfree86 (for debian 3)

6. Try again the x-window if you have the x-window started but with blur image try step 3 again, after that execute startx to start x-window

I hope your debian will works as mine, feel free to ask

salam,
SAdr LM

Pekerjaan: Menunggu

Sunday, May 6th, 2007

Untuk sebagian orang pekerjaan saya mungkin dianggap sangat remeh, saya hanya seorang penjaga karcis. Tiap hari saya hanya duduk di kursi bundar yang tidak ada sandarannya. Di tangan selalu ada jegregran untuk menandakan bahwa karcis itu telah terpakai. Saya sudah bekerja disini sejak namanya masih PJKA, kereta api pada saat ini lebih ramah daripada sekarang. Meskipun kelas eksekutif belum ada, kelas bisnis dan ekonomi sangat nyaman. Tidak adanya pengamen yang masuk dan penjaja makanan membuat penumpang merasa nyaman. Jika perlu makanan penumpang itu akan beranjak keluar atau sekedar menengok dan memanggil penjual yang sudah siap sedia.
Sudah dapat diduga, gaji penjaga karcis sangatlah kecil. Tapi saya masih beruntung, teman saya tiap malam harus mencek rel kereta api, sendirian lagi. Pernah ada yang ingin membantu tapi di tengah jalan orang itu ijin minta pulang, karena dia kecapaian. Dengan gaji yang seadanya saya bisa menghidupi istri dan 3 orang anak saya. Yang paling besar sekarang sudah mulai masuk Universitas Negeri di jakarta. Memang rejeki itu tidak mungkin salah alamat, ada seorang mahasiswa pernah bilang ke saya, kalau negara kita tidak korupsi, pegawai negeri bisa digaji sekitar 8 juta. Wah saya pikir kalau jadi pegawai negeri gajinya segitu, pasti banyak yang ingin jadi pegawai negara, mana mungkin saya diterima. Saya yang cuman lulusan SD. Saya berjanji kepada diri saya sendiri supaya anak-anak saya tidak mengalami nasib yang seperti saya, seorang lulusan SD.
Ada satu hal yang membuat saya senang menjadi penjaga karcis. Saya selalu bertemu dengan orang-orang baru tetapi ada juga orang-orang yang sudah rutin naik kereta api, ditambah juga raut muka ceria ketika orang-orang sudah berkumpul dengan keluarga atau temannya. Tidak dapat dipungkiri juga saya sering terharu ketika melihat orang berpisah, tetapi dibalik keterpisahan itu saya melihat secercah harapan dan semangat.
Harapan dan semangatlah yang membuat saya betah disini. Harapan hari esok lebih baik bagi saya dan keluarga. Semangat dalam berbuat yang terbaik untuk hidup yang sekali ini. Jam kerja saya sudah habis, kuraih tas dan sepeda yang terkunci di pintu belakang. Kukayuh sepeda dengan harapan mendapat sambutan hangat ketika pulang.

Ego dan egois

Thursday, May 3rd, 2007

Ada satu hal yang sangat kurasakan jika sudah lama tinggal disini, yaitu ego ku yang semakin bertambah. Ego untuk menjadi apa yang di sebut orang. Kadang ego itu bagus jika egonya didorong untuk semangat belajar dan beribadah supaya lebih baik daripada orang lain bukan untuk menjatuhkan atau menelantarkan orang yang meminta bantuan, tetapi yang sering saya rasakan adalah ego yang lebih condong kepada keakuan. Ketika orang ada yang meminta bantuan, sering tersirat ini orang muncul pas perlunya saja, atau ketika ada patungan makanan dipilih harga yang paling murah alias super hemat atau bisa juga disebut kikir.
Ego ini sangat susah dihilangkan, mungkin pengaruh lingkungan yang dapat berupa interaksi manusia juga pengaruh cuaca yang membuat orang jadi membosankan dan harus bertahan hidup sendiri dalam menghadapi perubahan iklim. Tetapi untungnya ada teman yang merasakan hal yang sama dan kita berusaha untuk saling menasehati jika ada kesalahan atau sikap yang terasa di luar batas. Mungkin saja ketika nasehat itu dikeluarkan secara spontan, otomatis kadang-kadang kita merasa tersinggung juga. Tapi untunglah ketersinggungan itu hanya bersifat sementara karena kita mengetahui bahwa orang itu melakukan tersebut karena perhatian sama kita, supaya kita sama-sama tidak terjerumus ke dalam jurang ego yang negatif.
Terima kasih untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikannya.

wass wr wb,
SAdr LM

Berbuka puasa di Jerman

Tuesday, May 1st, 2007

Mungkin ada orang yang melihat tulisan saya yg sekarang agak aneh, karena tiba-tiba saya menulis tentang bulan puasa di Jerman. Saya hanya ingin menulis tentang apa yang kita kerjakan ketika bulan puasa tapi lebih tepatnya apa yang kita lakukan ketika akan berbuka. Saya masih ingat ketika saya melakukan pertama kali puasa di sini, saya beserta sahabat saya, Fedy, mengidekan bagaimana kalau kita berkelilig masjid untuk berbuka disana, karena di setiap masjid dapat dipastikan semuanya menyediakan makanan untuk berbuka dari makanan ringan sampe yang berat. Tapi sebelum kami melakukan itu, kami berpikir bagaimana kalau nasib kami seperti teman kami di salah satu kota di Jerman karena sangat seringnya mereka makan di satu masjid dalam jumlah yang banyak, panitia masjid itu meminta bantuan mereka untuk melakukan sesuatu. Dan dapat ditebak keesokkan harinya tidak ada mahasiswa Indonesia yang datang ke tempat itu lagi.
Akhirnya kami memutuskan untuk berbuka di sebuah masjid Pakistan, ketika acara berbuka datanglah makanan ringan khas Pakistan bakwan bombay goreng, pertamanya kami agak sungkan untuk mengambil karena baru pertama kali melihat bakwan isinya bawang bombay saja. Tetapi teman kami orang Pakistan yang melihat kami kebingungan memaksa kami untuk mencoba dan ternyata enak sekali, langsung saja jatah 4 orang yang ada di depan kami, kami lahap habis. Selesai makanan pembuka kami pun melakukan sholat Maghrib.
Setelah itu datang menu yang kami tunggu-tunggu yaitu kari kambing beserta roti bantal, khas makanan dari Pakistan, India, Afghanistan, dan sekitarnya. Kari tersebut diletakkan di sebuah nampan yang besar, yang bisa menampung sampai dengan 5 porsi. Tiap-tiap nampan di letakkan di depan sekelompok orang. Kebetulan posisi kami berada di tengah-tengah 2 nampan, tanpa dikomando kami semua berkumpul mengelilingi nampan tersebut. Dan tanpa di komando saya dan fedy harus berbeda kelompok karena porsi makan kami yang cukup dasyat apalagi kalau gratis. Roti pun disebarkan disekeliling nampan, pertamanya saya agak aneh, makan kari dengan roti. Saya melihat orang Pakistan mulai menyobek roti tersebut dan mencelupkannya di nampan sambil mengambil daging dengan bantuan roti tersebut, hebatnya tangannya tidak menjadi basah ketika mengambil daging tersebut. Saya mencobanya tetapi dagingnya jatuh lagi, seorang teman menawarkan apakah saya memerlukan sebuah sendok, saya menolaknya dengan mengucapkan terima kasih. Akhirnya saya berhasil dan ternyata rasannya nikmat sekali. Porsi untuk 5 orang tersebut langsung habis, ketika panitia masjid melihat nampan kami sudah habis, beliau kembali lagi menuju dapur dan membawa sebuah nampan lagi.
Setelah berbuka selesai, yang hadir pun mulai meninggalkan tempat duduk, kami sebelum pulang mengumpulkan nampan-nampang yang ada dan membawanya ke belakang untuk dicuci, tetapi kami dicegah untuk mencuci oleh panitia masjid itu, malahan dia menawarkan kami untuk makan bersama mereka di dapur dan mengambil mangkok dan dipersilahkan mengambil kari di kuali yang besar sekali, mungkin bisa dipakai untuk berendam 2-3 orang anak kecil.
Pengalaman yang lain adalah ketika kami berbuka di masjid Arab, pertama kali masuk masjid, kebetulan kami sudah telat datang sehingga adzan sudah berkumandang. Di pintu masuk masjid berjejer orang menawarkan kurma yang telah dibelinya, karena pahala memberikan sesuatu untuk berbuka sama dengan pahala puasa orang berpuasa. Penuh sesaklah pintu masuk masjid dengan orang-orang yang menawarkan kurma. Ketika saya mengambil satu buah kurma ternyata masih ada batangnya, jadinya sekali ambil sekitar 6 buah kurma saya dapatkan. Alhamdulillah, lebih dari yang biasa dimakan oleh Rasul, karena Rasul berbuka hanya dengan 3 buah kurma saja. Sesudah memakan kurma sholat Maghrib pun kami laksanakan yang dilanjutkan dengan sholat sunnah sesudah Maghrib. Seakan-akan para hadirin sudah mengetahui apa yang harus dilakukan, kami duduk bershaf-shaf dan saling berhadapan. Di depan kami direntangkan plastik yang cukup panjang, kemudian semangkuk sup ayam di distribusikan, Bismillah, enak sekali rasanya. Saya sangka itu merupakan makanan beratnya ternyata apa yang saya fikirkan adalah salah. Datang lagi menu nasi beserta sup kacang merah ditambah dengan daging, porsinya 1,5 kali porsi orang Indonesa yang membuat kami cukup kenyang. Ketika kami beranjak sesudah memakan menu tersebut, kami ditahan oleh rekan kami dari Mesir dan ternyata kami diberi menu penutup, yoghurt khas Arab.
Dijamin puasa di Jerman, adalah perbaikan gizi karena makannya selalu daging dan menghemat uang belanja:). Suatu rahmat Allah untuk para pencari ilmu. Disamping kalau musim dingin puasanya sangat sebentar sekali kadang-kadang sahur pukul 6.30 pagi dan jam 5 sore sudah berbuka.