Suatu malam di Bosnia
"Aaaaahhhhh", aku terhenyak terbangun dari tidur, "Mimpi itu lagi", kataku dalam hati. Badanku berkeringat dingin, tergambar kejadian pada hari itu, perang saudara Bosnia Serbia. Pagi itu, 2 jam sebelum adzan Subuh berkumandang, rentetan senjata otomatis memecah kesunyian malam. Aku yang masih tertidur pulas, terbangun dan langsung menangis. Keadaan yang sangat gelap karena sudah 3 hari listrik padam, yang terlihat hanyalah lompatan api dari letusan senjata. Pelan - pelan mataku menyesuaikan dengan keadaan sekitar, meskipun masih agak buram, aku dapat melihat ibuku yang masih memakai mukena datang padaku seraya berkata, "Cepat kita pergi ke bunker (tempat persembunyian)". Aku yang bingung dan tercekam takut hanya dapat menuruti kata-kata ibu tanpa bisa berkata apa-apa seakan-akan suaraku habis dimakan oleh kekagetan. Kulihat ayah sudah berdiri di depan pintu memanggul senjata yang sudah dipersiapkannya beberapa hari lalu setelah desa tetangga kami diserang oleh pasukan Serbia. "Anakku, ayo sini", ayahku mendekapku dengan tangan kirinya dan mengangkatku sambil berlalu, tangan kanannya memegang erat senjata AK-47 buatan Rusia.
Sampailah kami pada tempat yang menyerupai bukit kecil, di bagian bawah bukit itu terdapat lekukan agak menjorok ke dalam, hampir mirip sebuah gua, di tempat itu terdapat pintu yang kemudian diketok oleh ayahku. "Siapa itu?", teriak suara laki-laki yang berbicara dengan agak keras. "Laskar Allah", kata ayahku. Laskahr Allah adalah kata sandi yang dipakai untuk memasuki pintu tersebut. Tak lama kemudian pintu itu dibuka, lalu ayah menyuruhku dan ibuku masuk ke tempat itu.
Dapat kulihat bibiku, ibu guru, dan teman-teman bermainku, Hasan, Abdullah, Qosim, dan juga Hamzah menggigil ketakutan di pelukan ibunya yang berusaha menenangkannya, dan ada juga yang menangis tetapi ditahan mulutnya supaya tidak terdengar oleh musuh. Persembunyian ini memang cukup aman, disamping tempatnya berada di pinggir tebing, yang kemungkinan musuh tidak akan mendatanginya kecuali kalau desa kami telah ditaklukan.
Terdengar suara meriam bertubi-tubi, kami semua berteriak karena kaget. "Jangan teriak.", bisik penjaga pintu tadi yang tidak lain adalah pak Hakeem, guru olahraga kami di sekolah dasar. Beliau mengintip ke arah luar melalui lubang kecil yang terdapat pada dinding pintu, seraya mengokang senjatanya untuk jaga-jaga jika ada pasukan Serbia yang mendengar teriakan kami. Tung, tung ,tung, kembali terdengar desingan peluru yang sepertinya berasal dari arah atas, mungkin terkena atap beton bunker yang ditutupi oleh semak-semak.
Di tengah-tengah ketakutan aku pun tertidur kembali di pelukan ibu karena lelah menangis. Kubermimpi diriku sedang berlari di suatu taman bersama orang tuaku, nenek, kakek, bibi, paman, dan saudara-saudaraku yang lain. Tempatnya sepertinya sudah pernah kudatangi sebelumnya, oh ya kebun punya nenek, setiap musim panen kami sekeluarga berkunjung ke rumah nenek dan kakek untuk membantu mereka mengambil hasil panenan. Biasanya saudara-saudara kami yang lain pun hadir, keadaannya hampir menyerupai Idul Adha di desa kami. Indahnya mimpi itu.
Kuterbangun ketika adzan subuh berkumandang seraya diikuti oleh teriakan dari ayahku dan rekan-rekan ayahku. Kulihat badan ayahku kotor terkena lumpur dan terlihat sedikit darah di bajunya. Kubertanya pada ibuku apa yang terjadi, "Kita menang anakku, pertolongan Allah telah datang". Pada hari itu kami menang, tapi kami tidak bisa senang terlalu lama. Setelah sholat Shubuh, kami sekeluarga dan orang-orang desa siap mengungsi ke daerah lain untuk berkumpul dan mengatur kekuatan.
Aku terduduk sebentar di tempat tidurku, lalu kuambil segelas air minum dari dapur.Kejadian 17 tahun lalu sangat membekas di hatiku. Keluarga nenek buyutku yang berjumlah 13 orang habis dibantai kecuali nenek buyutku bersama-sama 3 orang anaknya yang berhasil kabur karena diselamatkan oleh kakek buyutku yang memberanikan diri sebagai martir keluarga. Begitulah sejatinya seorang suami dan ayah yang baik, selalu menjaga keamanan dan kehormatan keluarganya, pesan nenek buyutku yang selalu diucapkan ketika kami berkumpul. Dia juga selalu mengingatkan kami untuk selalu bekerja dengan giat dan serius mengerjakan sesuatu dalam segala hal karena keadaan dapat berubah dengan tiba-tiba. Dan tidak lupa selalu beristighfar mengingat Allah setiap saat, karena kita tidak tahu kapan akan dipanggil.
Ketika kuberjalan, kulihat jam dinding yang terletak di bawah foto kakek dan nenekku buyutku ketika Idul Adha setahun sebelum perang terjadi, masih jam 3 pagi. "Ah segarnya tenggorakanku"kataku dalam hati. Kulihat ibu dan ayahku sedang sholat tahajjud, kebiasaan yang tidak pernah hilang sampai sekarang ketika kami sudah berada di jerman. Aku duduk sebentar, sayup-sayup terdengar ayat dari surat Ar-Rahman, "Dan nikmat-Nya yang manakah yang kau dustakan?". Kuterdiam dan tanpa terasa air mataku mengalir, kubelokkan langkah kaki untuk mengambil air wudhu seraya berkata, "Tidak ada ya Allah".