Aku seorang tentara
Monday, April 9th, 2007Perkenalkan namaku Jajang, aku berasal dari Garut, tepatnya Leles. Aku adalah seorang marinir. Sekarang sudah 5 tahun lamanya aku mengabdi sebagai seorang tentara. Ini memang jalan hidupku, pilihan yang aku cita-citakan sejak kecil. Pilihan yang terinspirasi oleh Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Pangeran DIponegoro, dan tidak lupa ayahku, seorang laskar jihad yang kembali memilih menjadi petani setelah kemerdekaan.
Aku kadang-kadang bingung ketika teman-teman sering mengatakan bahwa tentara itu terlalu mentaati atasannya. Aku menjadi bertanya, bukankah semua tentara dibentuk untuk melaksanakan perintah atasan. Bagaimana jadinya kalau ketika perang, bawahan menentang segala rencana atasan, bukannya bisa hancur lebur. Jika dalam keadaan biasa, perintah yang dianggap tidak pantas tentunya akan kami pertentangkan meskipun di kemudian hari kami disebut mbalelo tapi itulah konsekuensi kami menjadi tentara. Tentang taat pada pimpinan, aku sering membaca dan mencontoh ketika tentara Thalut menghadapi Jalut. Pada perjalanan menuju medan pertempuran, hari itu panas sekali, tenggorakan sangatlah kering, tetapi di depan sudah terlihat ada sungai atau mata air, kemudian muncul perintah supaya meneguk hanya sekali saja. Tentunya ini perintah yang tidak masuk diakal, bukankah kita sangat kehausan, dan di depan mata kita air sedemikian banyaknya, mengapa kita tidak boleh meminumnya. Atau perintah Umar kepada Khalid tentang penurunan jabatan, khalid juga mentaati tanpa membantah.
Mungkin itu sekelumit tentang mekanisme aturan di tentara. Kalau orang bertanya, bagaimana menjadi tentara. Aku suka menjawab meskipun aku bergaji kecil tapi kalau dari sabang sampai merauke, silahkan tanya padaku insya Allah aku bisa jawab.
Ada tiga hal yang menarik ketika aku bertugas di beberapa daerah di Indonesia. Yang pertama adalah ketika aku berada di sebuah suku di propinsi Sulawesi. Terdapat warga Australia yang gemar sekali menyelam dan melihat terumbu karang. Orang ini menyusuri tepi pantai sehingga sampailah dia di suatu suku yang menangkap ikan dengan menggunakan racun potasium dan bom. Orang asing ini prihatin dengan cara-cara yang mereka perbuat, kemudian dia pulang ke Australia dan meminta ijin kepada istri dan anaknya untuk tinggal di suku tersebut. Dia berada di suku tersebut lebih dari 7 tahun, tapi apa yang didapat. Suku itu sekarang telah sadar akan alamnya dan kemudian tempat itu menjadi konservasi alam ditambah dengan pembiakan ikan. Investor dari singapura dan Jepang sudah menjejakkan bisnisnya di tempat tersebut. Dan yang paling akhir pemerintah daerah baru saja mengadakan penyuluhan. Yang kedua, adalah warga Australia juga, dia adalah seorang penasihat hukum, dia pernah mengurus nelayan Indonesia yang tertangkap di Australia. Dia mendatangi desa tersebut bersama salah satu nelayan yang tertangkap, dia ajari bagaimana menangkap dan membudidayakan ikan tanpa mengeluarkan tenaga sama sekali. Setelah berhasil membina orang tersebut, maka pulanglah orang ini ke Australia. Beberapa tahun lamanya orang ini teringat kembali akan nelayan yang pernah dibantunya, dia menemui nelayan itu yang ternyata sudah menjadi nelayan ikan yang sukses, dan desa tersebut menjadi nelayan teladan dengan konsumen berasal dari Eropa dan Amerika. Menangislah orang Australia, karena haru dan bahagia bahwa orang tersebut dapat mensejahterakan desanya.Yang terakhir ketika aku berada di daerah selatan dari propinsi, di situ terdapat suku yang beragama Islam, mempunyai hukum adat dalam mengunakan alam termasuk mencari ikan. Dan hasilnya daerah tersebut menjadi primadona pariwisata ditambah dengan hasil perikanan yang memadai.
Aku sering berpikir, negara kita ini sangatlah kaya tetapi mengapa masih miskin. Pikirku disebabkan kesalahan manjemen, pemerintah yang tidak peka kepada masyarakatnya, dan mungkin terlalu banyak orang yang rakus akan perutnya. Aku hanya bisa berdedikasi kepada bangsa dan agama ini melalu profesiku sebagai tentara. Cita-citaku adalah menjadi tentara seperti dulu ayahku.