Lidah tak bertulang
Memang benar paribahasa tersebut, lidah bisa menjadi senjata yang menyakitkan. Begitu banyak hadist2 dan peribahasa untuk menahan lidah supaya tidak bergoyang. Dari diam adalah emas, sampai fitnah lebih kejam daripada membunuh. Karena dengan kata2, anda bisa membunuh karakter orang, merayu orang, bahkan menipu orang. Akibatnya akan terlihat ketika kata2 sudah dikeluarkan.
Begitu juga kata2 dengan menuduh, malahan kalau kita mengeluarkan kata2 yang menuduh orang berbuat zina maka kita harus mendatangkan 4 saksi, jika tidak ada saksi maka dia harus bersumpah yang dimana kalau sumpah itu palsu maka kutukan Allah siap menanti.
Muhaballah, kalau katanya tidak salah saya sebut, menguji kebenaran yang diyakini dengan konsekuensi kutukan Allah akan berlaku kepada pihak yang bersalah, merupakan salah satu pertanggung jawaban akan kata2 yang dikeluarkan.
Yang paling mendasar sekali dalam Islam adalah syahadat yaitu pengucapan ikrar bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah dan Muhammad adalah pesuruhnya adalah berupa kata2 juga yang dimana kata2 itu menimbulkan beberapa kewajiban dan hak yang harus ditunaikan dan diterima. Ijab kabul dalam perdagangan dan pernikahan juga merupakan buah dari kata2 yang mengandung konsekuensi.
Begitu juga ketika anda masuk organisasi, partai, ataupun menjadi pegawai negeri, anda akan disumpah yang dimana isi sumpahnya itu adalah berikrar dengan mengatas namakan Tuhan. Sebuah sumpah yang sangat berat sekali, yang sayangnya tidak terpikirkan ketika mengatakan itu.
Minggu kemarin saya belajar tentang hukum internasional. Dalam dunia bisnis antar pedagang dikenal istilah express term yaitu perjanjian yang tidak tertulis tetapi mempunyai implikasi yang besar terhadap transaksi yang berlaku. Ingat meskipun tidak tertulis alias hanya obral janji tentang produknya, ini dianggap sebagai sesuatu perjanjian yang dapat diadukan ke pengadilan, meskipun pembuktiannya bisa berbeda.
Bagi yang pernah pacaran pun pasti sering banyak mengumbar janji yang ujung2nya terjadi pertengkaran yang mungkin hebatnya ketika sudah terjadi pernikahan bisa berujung penceraian karena terlalu banyak janji2 yang diumbar tanpa ada pengimplementasian. Pada hal pekerjaan pun janji adalah suatu yang sangat dipegang. Pernah waktu wawancara penulis diberi 2 pilihan yang sangat memberatkan, akhirnya penulis memilih untuk mengambil pilihan yang penulis anggap aman. Ternyata keputusan itu penulis sesali seumur hidup,untungnya tidak ada kejadian yang seperti dalam pertanyaan itu sampai penulis keluar dari pekerjaan tersebut.
Kadang2 kita sama teman sangat mudah dalam mengeluarkan kata2 yang hendaknya harus dipikirkan terlebih dahulu. Mungkin tampak dari permukaan keadaannya biasa saja, tapi kalau rasa sudah terakumulasi wah bisa sangat merusak silaturahmi. Dengan alasan inilah diri saya, atau kitakan orang asik, atau dia adalah teman saya, kita sering menghindar dari tanggung jawab atas perkataan kita.
Dengan tulisan ini juga penulis ingin meminta maaf bila penulis pernah berbuat salah terutama dalam mengumbar kata2.
wass wr wb,
SAdr LM
Vaihigen, 27.2.2007