Archive for February, 2007

Menikah, Kenapa Takut?

Tuesday, February 27th, 2007

Baru berani nge-ngepos yang begini. doakan yah teman2:) supaya berani melakukannya.

wass wr wb,
SAdr LM

Menikah, Kenapa Takut?
Oleh: DR. Amir Faishol Fath
———————————————————-

"MENIKAH"

Kita hidup di zaman yang mengajarkan pergaulan bebas,
menonjolkan aurat, dan mempertontonkan perzinaan. Bila
mereka berani kepada Allah dengan melakukan tindakan yang
tidak hanya merusak diri, melainkan juga menghancurkan
institusi rumah tangga, mengapa kita takut untuk mentaati
Allah dengan membangun rumah tangga yang kokoh? Bila kita
beralasan ada resiko yang harus dipikul setelah menikah,
bukankah perzinaan juga punya segudang resiko? Bahkan
resikonya lebih besar. Bukankankah melajang ada juga
resikonya?

Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko.
Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak
dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana
lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak
pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang
mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya,
maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah
kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu
bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko
pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan
pernikahan dan menolak perzinaan.

Saya sering ngobrol, dengan kawaan-kawan yang masih
melajang, padahal ia mampu untuk menikah. Setelah saya
kejar alasannya, ternyata semua alasan itu tidak berpijak
pada fondasi yang kuat: ada yang beralasan untuk
mengumpulkan bekal terlebih dahulu, ada yang beralasan
untuk mencari ilmu dulu, dan lain sebagainya. Berikut ini
kita akan mengulas mengenai mengapa kita harus segera
menikah? Sekaligus di celah pembahasan saya akan menjawab
atas beberapa alasan yang pernah mereka kemukakan untuk
membenarkan sikap.

Menikah itu Fitrah

Allah Taala menegakkan sunnah-Nya di alam ini atas dasar
berpasang-pasangan. Wa min kulli syai’in khalaqnaa
zaujain, dan segala sesuatu kami ciptakan
berpasang-pasangan (Adz-Dzariyaat: 49). Ada siang ada
malam, ada laki ada perempuan. Masing-masing memerankan
fungsinya sesuai dengan tujuan utama yang telah Allah
rencanakan. Tidak ada dari sunnah tersebut yang Allah
ubah, kapanpun dan di manapun berada. Walan tajida
lisunnatillah tabdilla, dan kamu sekali-kali tidak akan
mendapati perubahan pada sunnah Allah (Al-Ahzab: 62).
Walan tajida lisunnatillah tahwiila, dan kamu tidak akan
mendapati perubahan bagi ketetapan kami itu. (Al-Isra: 77)

Dengan melanggar sunnah itu berarti kita telah meletakkan
diri pada posisi bahaya. Karena tidak mungkin Allah
meletakkan sebuah sunnah tanpa ada kesatuan dan
keterkaitan dengan sIstem lainnya yang bekerja secara
sempurna secara universal.

Manusia dengan kecanggihan ilmu dan peradabannya yang
dicapai, tidak akan pernah mampu menggantikan sunnah ini
dengan cara lain yang dikarang otaknya sendiri. Mengapa?
Sebab, Allah swt. telah membekali masing-masing manusia
dengan fitrah yang sejalan dengan sunnah tersebut.
Melanggar sunnah artinya menentang fitrahnya sendiri.

Bila sikap menentang fitrah ini terus-menerus dilakukan,
maka yang akan menanggung resikonya adalah manusia itu
sendiri. Secara kasat mata, di antara yang paling tampak
dari rahasia sunnah berpasang-pasangan ini adalah untuk
menjaga keberlangsungan hidup manusia dari masa ke masa
sampai titik waktu yang telah Allah tentukan. Bila
institusi pernikahan dihilangkan, bisa dipastikan bahwa
mansuia telah musnah sejak ratusan abad yang silam.

Mungkin ada yang nyeletuk, tapi kalau hanya untuk
mempertahankan keturunan tidak mesti dengan cara menikah.
Dengan pergaulan bebas pun bisa. Anda bisa berkata
demikian. Tetapi ada sisi lain dari fitrah yang juga Allah
berikan kepada masing-masing manusia, yaitu: cinta dan
kasih sayang, mawaddah wa rahmah. Kedua sisi fitrah ini
tidak akan pernah mungkin tercapai dengan hanya semata
pergaulan bebas. Melainkan harus diikat dengan tali yang
Allah ajarkan, yaitu pernikahan. Karena itulah Allah
memerintahkan agar kita menikah. Sebab itulah yang paling
tepat menurut Allah dalam memenuhi tuntutan fitrah
tersebut. Tentu tidak ada bimbingan yang lebih sempurna
dan membahagiakan lebih dari daripada bimbingan Allah.

Allah berfirman fankihuu, dengan kata perintah. Ini
menunjukan pentingnya hakikat pernikahan bagi manusia.
Jika membahayakan, tidak mungkin Allah perintahkan. Malah
yang Allah larang adalah perzinaan. Walaa taqrabuzzina,
dan janganlah kamu mendekati zina (Al-Israa: 32). Ini
menegaskan bahwa setiap yang mendekatkan kepada perzinaan
adalah haram, apalagi melakukannya. Mengapa? Sebab Allah
menginginkan agar manusia hidup bahagia, aman, dan sentosa
sesuai dengan fitrahnya.

Mendekati zina dengan cara apapun, adalah proses
penggerogotan terhadap fitrah. Dan sudah terbukti bahwa
pergaulan bebas telah melahirkan banyak bencana. Tidak
saja pada hancurnya harga diri sebagai manusia, melainkan
juga hancurnya kemanusiaan itu sendiri. Tidak jarang kasus
seorang ibu yang membuang janinnya ke selokan, ke tong
sampah, bahkan dengan sengaja membunuhnya, hanya karena
merasa malu menggendong anaknya dari hasil zina.

Perhatikan bagaimanan akibat yang harus diterima ketika
institusi pernikahan sebagai fitrah diabaikan. Bisa
dibayangkan apa akibat yang akan terjadi jika semua
manusia melakukan cara yang sama. Ustadz Fuad Shaleh dalam
bukunya liman yuridduz zawaj mengatakan, "Orang yang hidup
melajang biasanya sering tidak normal: baik cara berpikir,
impian, dan
sikapnya. Ia mudah terpedaya oleh syetan, lebih dari
mereka yang telah menikah."

Menikah Itu Ibadah

Dalam surat Ar-Rum: 21, Allah menyebutkan pentingnya
mempertahankan hakikat pernikahan dengan sederet
bukti-bukti kekuasaan-Nya di alam semesta. Ini menunjukkan
bahwa dengan menikah kita telah menegakkan satu sisi dari
bukti kekusaan Allah swt. Dalam sebuah kesempatan
Rasulullah saw. lebih menguatkan makna pernikahan sebagai
ibadah, "Bila seorang menikah berarti ia telah melengkapi
separuh dari agamanya, maka hendaknya ia bertakwa kepada
Allah pada paruh yang tersisa." (HR. Baihaqi, hadits
Hasan)

Belum lagi dari sisi ibadah sosial. Dimana sebelum menikah
kita lebih sibuk dengan dirinya, tapi setelah menikah kita
bisa saling melengkapi, mendidik istri dan anak. Semua itu
merupakan lapangan pahala yang tak terhingga. Bahkan
dengan menikah, seseorang akan lebih terjaga moralnya dari
hal-hal yang mendekati perzinaan. Alquran menyebut orang
yang telah menikah dengan istilah muhshan atau muhshanah
(orang yang terbentengi). Istilah ini sangat kuat dan
menggambarkan bahwa kepribadian orang yang telah menikah
lebih terjaga dari dosa daripada mereka yang belum
menikah.

Bila ternyata pernikahan menunjukkan bukti kekuasan Allah,
membantu tercapainya sifat takwa. dan menjaga diri dari
tindakan amoral, maka tidak bisa dipungkiri bahwa
pernikahan merupakan salah satu ibadah yang tidak kalah
pahalanya dengan ibadah-ibadah lainnya. Jika ternyata Anda
setiap hari bisa menegakkan ibadah shalat, dengan tenang
tanpa merasa terbebani, mengapa Anda merasa berat dan
selalu menunda untuk menegakkan ibadah pernikahan, wong
ini ibadah dan itupun juga ibadah.

Pernikahan dan Penghasilan

Seringkali saya mendapatkan seorang jejaka yang sudah tiba
waktu menikah, jika ditanya mengapa tidak menikah, ia
menjawab belum mempunyai penghasilan yang cukup. Padahal
waktu itu ia sudah bekerja. Bahkan ia mampu membeli motor
dan HP. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai mobil.
Setiap hari ia harus memengeluarkan biaya yang cukup besar
dari penggunakan HP, motor, dan mobil tersebut. Bila
setiap orang berpikir demikian apa yang akan terjadi pada
kehidupan manusia?

Saya belum pernah menemukan sebuah riwayat yang
menyebutkan bahwa Rasulullah saw. melarang seorang
sahabatnya yang ingin menikah karena tidak punya
penghasilan. Bahkan dalam beberapa riwayat yang pernah
saya baca, Rasulullah saw. bila didatangi seorang
sahabatnya yang ingin menikah, ia tidak menanyakan berapa
penghasilan yang diperoleh perbulan, melainkan apa yang ia
punya untuk dijadikan mahar. Mungkin ia mempunyai cincin
besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika
tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar
maharnya dengan menghafal sebagian surat Alquran.

Apa yang tergambar dari kenyatan tersebut adalah bahwa
Rasulullah saw. tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai
masalah, melainkan sebagai pemecah persoalan. Bahwa
pernikahan bukan sebuah beban, melainkan tuntutan fitrah
yang harus dipenuhi. Seperti kebutuhan Anda terhadap
makan, manusia juga butuh untuk menikah. Memang ada
sebagian ulama yang tidak menikah sampai akhir hayatnya
seperti yang terkumpul dalam buku Al-ulamaul uzzab
alladziina aatsarul ilma ‘alaz zawaj. Tetapi, itu bukan
untuk diikuti semua orang. Itu adalah perkecualian. Sebab,
Rasulullah saw. pernah melarang seorang sahabatanya yang
ingin hanya beribadah tanpa menikah, lalu menegaskan bahwa
ia juga beribadah tetapi ia juga menikah. Di sini jelas
sekali bagaimana Rasulullah saw. selalu menuntun kita agar
berjalan dengan fitrah yang telah Allah bekalkan tanpa
merasakan beban sedikit pun.

Memang masalah penghasilan hampir selalu menghantui setiap
para jejaka muda maupun tua dalam memasuki wilayah
pernikahan. Sebab yang terbayang bagi mereka ketika
menikah adalah keharusan membangun rumah, memiliki
kendaraan, mendidik anak, dan seterusnya di mana itu semua
menuntut biaya yang tidak sedikit. Tetapi kenyataannya
telah terbukti dalam sejarah hidup manusia sejak ratusan
tahun yang lalu bahwa banyak dari mereka yang menikah
sambil mencari nafkah. Artinya, tidak dengan memapankan
diri secara ekonomi terlebih dahulu. Dan ternyata mereka
bisa hidup dan beranak-pinak. Dengan demikian kemapanan
ekonomi bukan persyaratan utama bagi sesorang untuk
memasuki dunia pernikahan.

Mengapa? Sebab, ada pintu-pintu rezeki yang Allah sediakan
setelah pernikahan. Artinya, untuk meraih jatah rezki
tersebut pintu masuknya menikah dulu. Jika tidak, rezki
itu tidak akan cair. Inilah pengertian ayat iyyakunu
fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un
aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka
dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha
mengetahui (An-Nur: 32). Ini adalah jaminan langsung dari
Allah, agar masalah penghasilan tidak dikaitkan dengan
pernikahan. Artinya, masalah rezki satu hal dan pernikahan
hal yang lain lagi.

Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata,
"Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi
janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup."
Al-Qurthubi berkata, "Ini adalah janji Allah untuk
memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk
mencapai ridha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan."
(lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami’
liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah,
Beirut).

Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan
berkata, "Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah
dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan
memberkahi." (HR. Thabarni). Dalam hadits lain
disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya:
"Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan." (HR.
Turmudzi dan Nasa’i)

Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah,
"Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan
Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang
menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau
perbuatan maksiat." (lihat Siyar A’lamun Nubala’ oleh Imam
Adz Dzahaby). Ini semua secara makna menguatkan pengertian
ayat di atas. Di mana Allah tidak akan pernah membiarkan
hamba-Nya yang bertakwa kepada Allah dengan membangun
pernikahan.

Persoalannya sekarangan, mengapa banyak orang berkeluarga
yang hidup melarat? Kenyataan ini mungkin membuat banyak
jejaka berpikir dua kali untuk menikah. Dalam masalah
nasib kita tidak bisa mengeneralisir apa yang terjadi pada
sebagian orang. Sebab, masing-masing ada garis nasibnya.
Kalau itu pertanyaanya, kita juga bisa bertanya: mengapa
Anda bertanya demikian? Bagaimana kalau Anda melihat fakta
yang lain lagi bahwa banyak orang yang tadinya melarat dan
ternyata setelah menikah hidupnya lebih makmur? Dari sini
bahwa pernikahan bukan hambatan, dan kemapanan penghasilan
bukan sebuah persyaratan utama.

Yang paling penting adalah kesiapan mental dan kesungguhan
untuk memikul tanggung jawab tersebut secara maksimal.
Saya yakin bahwa setiap perbuatan ada tanggung jawabnya.
Berzina pun bukan berarti setelah itu selesai dan bebas
tanggungjawab. Melainkan setelah itu ia harus memikul
beban berat akibat kemaksiatan dan perzinaan. Kalau tidak
harus mengasuh anak zina, ia harus menanggung dosa zina.
Keduanya tanggung jawab yang kalau ditimbang-timbang,
tidak kalah beratnya dengan tanggung jawab pernikahan.

Bahkan tanggung jawab menikah jauh lebih ringan, karena
masing-masing dari suami istri saling melengkapi dan
saling menopang. Ditambah lagi bahwa masing-masing ada
jatah rezekinya yang Allah sediakan. Tidak jarang seorang
suami yang bisa keluar dari kesulitan ekonomi karena jatah
rezeki seorang istri. Bahkan ada sebuah rumah tangga yang
jatah rezekinya ditopang oleh anaknya. Perhatikan
bagaimana keberkahan pernikahan yang tidak hanya saling
menopang dalam mentaati Allah, melainkan juga dalam sisi
ekonomi.

Pernikahan dan Menuntut Ilmu

Seorang kawan pernah mengatakan, ia ingin mencari ilmu
terlebih dahulu, baru setelah itu menikah. Anehnya, ia
tidak habis-habis mencari ilmu. Hampir semua universitas
ia cicipi. Usianya sudah begitu lanjut. Bila ditanya kapan
menikah, ia menjawab: saya belum selesai mencari ilmu.

Ada sebuah pepatah diucapkan para ulama dalam hal mencari
ilmu: lau anffaqta kullaha lan tashila illa ilaa ba’dhiha,
seandainya kau infakkan semua usiamu ?untuk mencari ilmu?,
kau tidak akan mendapatkannya kecuali hanya sebagiannya.
Dunia ilmu sangat luas. Seumur hidup kita tidak akan
pernah mampu menelusuri semua ilmu. Sementara menikah
adalah tuntutan fitrah. Karenanya, tidak ada aturan dalam
Islam agar kita mencari ilmu dulu baru setelah itu
menikah.

Banyak para ulama yang menikah juga mencari ilmu. Benar,
hubungan mencari ilmu di sini sangat berkait erat dengan
penghasilan. Tetapi banyak sarjana yang telah
menyelesaikan program studinya bahkan ada yang sudah
doktor atau profesor, tetapi masih juga pengangguran dan
belum mendapatkan pekerjaan. Artinya, menyelesaikan
periode studi juga bukan jaminan untuk mendapatkan
penghasilan. Sementara pernikahan selalu mendesak tanpa
semuanya itu. Di dalam Alquran maupun Sunnah, tidak ada
tuntunan keharusan menunda pernikahan demi mencari ilmu
atau mencari harta. Bahkan, banyak ayat dan hadits berupa
panggilan untuk segera menikah, terlepas apakah kita
sedang mencari ilmu atau belum mempunyai penghasilan.

Berbagai pengalaman membuktikan bahwa menikah tidak
menghalangi seorang dalam mencari ilmu. Banyak sarjana
yang berhasil dalam mencari ilmu sambil menikah. Begitu
juga banyak yang gagal. Artinya, semua itu tergantung
kemauan orangnya. Bila ia menikah dan tetap berkemauan
tinggi untuk mencari ilmu, ia akan berhasil. Sebaliknya,
jika setelah menikah kemauannya mencari ilmu melemah, ia
gagal. Pada intinya, pernikahan adalah bagian dari
kehidupan yang harus juga mendapatkan porsinya.
Perjuangan seseorang akan lebih bermakna ketika ia
berjuang juga menegakkan rumah tungga yang Islami.

Rasulullah saw. telah memberikan contoh yang sangat
mengagumkan dalam masalah pernikahan. Beliau menikah
dengan sembilan istri. Padahal beliau secara ekonmi bukan
seorang raja atau konglomerat. Tetapi semua itu Rasulullah
jalani dengan tenang dan tidak membuat tugas-tugas
kerasulannya terbengkalai. Suatu indikasi bahwa pernikahan
bukan hal yang harus dipermasalahkan, melainkan harus
dipenuhi. Artinya, seorang yang cerdas sebenarnya tidak
perlu didorong untuk menikah, sebab Allah telah
menciptakan gelora fitrah yang luar biasa dalam dirinya.
Dan itu tidak bisa dipungkiri. Masing-masing orang lebih
tahu dari orang lain mengenai gelora ini. Dan ia sendiri
yang menanggung perih dan kegelisahan gelora ini jika ia
terus ditahan-tahan.

Untuk memenuhi tuntutan gelora itu, tidak mesti harus
selesai study dulu. Itu bisa ia lakukan sambil berjalan.
Kalaupun Anda ingin mengambil langkah seperti para ulama
yang tidak menikah (uzzab) demi ilmu, silahkan saja.
Tetapi apakah kualitas ilmu Anda benar-benar seperti para
ulama itu? Jika tidak, Anda telah rugi dua kali: ilmu
tidak maksimal, menikah
juga tidak. Bila para ulama uzzab karena saking sibuknya
dengan ilmu sampai tidak sempat menikah, apakah Anda telah
mencapai kesibukan para ulama itu sehingga Anda tidak ada
waktu untuk menikah? Dari sini jika benar-benar ingin ikut
jejak ulama uzzab, yang diikuti jangan hanya tidak
menikahnya, melainkan tingkat pencapaian ilmunya juga.
Agar seimbang.

Kesimpulan

Sebenarnya pernikahan bukan masalah. Menikah adalah
jenjang yang harus dilalui dalam kondisi apapun dan
bagaimanapun. Ia adalah sunnatullah yang tidak mungkin
diganti dengan cara apapun. Bila Rasulullah menganjurkan
agar berpuasa, itu hanyalah solusi sementara, ketika
kondisi memang benar-benar tidak memungkinkan. Tetapi
dalam kondisi normal, sebenarnya tidak ada alasan yang
bisa dijadikan pijakan untuk menunda pernikahan.

Agar pernikahan menjadi solusi alternatif, mari kita
pindah dari pengertian "pernikahan sebagai beban" ke
"pernikahan sebagai ibadah". Seperti kita merasa senang
menegakkan shalat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa
saat tiba Ramadhan, kita juga seharusnya merasa senang
memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa
beban. Apapun kondisi ekonomi kita, bila keharusan menikah
telah tiba "jalani saja dengan jiwa tawakkal kepada
Allah". Sudah terbukti, orang-orang bisa menikah sambil
mencari nafkah. Allah tidak akan pernah membiarkan
hambaNya yang berjuang di jalanNya untuk membangun rumah
tangga sejati.

Perhatikan mereka yang suka berbuat maksiat atau berzina.
Mereka begitu berani mengerjakan itu semua padahal
perbuatan itu tidak hanya dibenci banyak manusia,
melainkan lebih dari itu dibenci Allah. Bahkan Allah
mengancam mereka dengan siksaan yang pedih. Melihat
kenyataan ini, seharusnya kita lebih berani berlomba
menegakkan pernikahan, untuk mengimbangi mereka. Terlebih
Allah menjanjikan kekayaan suatu jaminan yang luar biasa
bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya dengan membangun
pernikahan. Wallahu a’lam bishshawab.

Lidah tak bertulang

Tuesday, February 27th, 2007

Memang benar paribahasa tersebut, lidah bisa menjadi senjata yang menyakitkan. Begitu banyak hadist2 dan peribahasa untuk menahan lidah supaya tidak bergoyang. Dari diam adalah emas, sampai fitnah lebih kejam daripada membunuh. Karena dengan kata2, anda bisa membunuh karakter orang, merayu orang, bahkan menipu orang. Akibatnya akan terlihat ketika kata2 sudah dikeluarkan.
Begitu juga kata2 dengan menuduh, malahan kalau kita mengeluarkan kata2 yang menuduh orang berbuat zina maka kita harus mendatangkan 4 saksi, jika tidak ada saksi maka dia harus bersumpah yang dimana kalau sumpah itu palsu maka kutukan Allah siap menanti.
Muhaballah, kalau katanya tidak salah saya sebut, menguji kebenaran yang diyakini dengan konsekuensi kutukan Allah akan berlaku kepada pihak yang bersalah, merupakan salah satu pertanggung jawaban akan kata2 yang dikeluarkan.
Yang paling mendasar sekali dalam Islam adalah syahadat yaitu pengucapan ikrar bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah dan Muhammad adalah pesuruhnya adalah berupa kata2 juga yang dimana kata2 itu menimbulkan beberapa kewajiban dan hak yang harus ditunaikan dan diterima. Ijab kabul dalam perdagangan dan pernikahan juga merupakan buah dari kata2 yang mengandung konsekuensi.
Begitu juga ketika anda masuk organisasi, partai, ataupun menjadi pegawai negeri, anda akan disumpah yang dimana isi sumpahnya itu adalah berikrar dengan mengatas namakan Tuhan. Sebuah sumpah yang sangat berat sekali, yang sayangnya tidak terpikirkan ketika mengatakan itu.
Minggu kemarin saya belajar tentang hukum internasional. Dalam dunia bisnis antar pedagang dikenal istilah express term yaitu perjanjian yang tidak tertulis tetapi mempunyai implikasi yang besar terhadap transaksi yang berlaku. Ingat meskipun tidak tertulis alias hanya obral janji tentang produknya, ini dianggap sebagai sesuatu perjanjian yang dapat diadukan ke pengadilan, meskipun pembuktiannya bisa berbeda.
Bagi yang pernah pacaran pun pasti sering banyak mengumbar janji yang ujung2nya terjadi pertengkaran yang mungkin hebatnya ketika sudah terjadi pernikahan bisa berujung penceraian karena terlalu banyak janji2 yang diumbar tanpa ada pengimplementasian. Pada hal pekerjaan pun janji adalah suatu yang sangat dipegang. Pernah waktu wawancara penulis diberi 2 pilihan yang sangat memberatkan, akhirnya penulis memilih untuk mengambil pilihan yang penulis anggap aman. Ternyata keputusan itu penulis sesali seumur hidup,untungnya tidak ada kejadian yang seperti dalam pertanyaan itu sampai penulis keluar dari pekerjaan tersebut.
Kadang2 kita sama teman sangat mudah dalam mengeluarkan kata2 yang hendaknya harus dipikirkan terlebih dahulu. Mungkin tampak dari permukaan keadaannya biasa saja, tapi kalau rasa sudah terakumulasi wah bisa sangat merusak silaturahmi. Dengan alasan inilah diri saya, atau kitakan orang asik, atau dia adalah teman saya, kita sering menghindar dari tanggung jawab atas perkataan kita.
Dengan tulisan ini juga penulis ingin meminta maaf bila penulis pernah berbuat salah terutama dalam mengumbar kata2.

wass wr wb,
SAdr LM
Vaihigen, 27.2.2007

Tips for using JFace Viewer

Sunday, February 18th, 2007

Maybe you have problem showing your query in JFace Viewer. The principles to use JFace Viewer is
1. Create the Viewer
Specify what kind of Viewer do u want to implement. (Ex: List, Table, Combo, Tree Viewer)
2. Create the Label Provider for specific Viewer
3. Create the Content Provider for specific Viewer
4. Create root of input (It is very important)
To set an input in Viewer, it is better if u make class which implements all the required methods in the Label and Content Provider interface. And add 2 members which are model class and vector of the input class. And before u set input in the viewer make sure to instance the input class and add query class as input’s child
Example:
I used TableViewer and the implements class is like this

public class JournalView implements ITableView {

    private Journal j;
    private Vector<JournalView> jvList;
    private int viewType;

    public JournalView(Journal j) {
        super();
        this.j = j;
    }

    /**
     * Default Constructor
     * It will initialize the General Ledger List Vector
     */
    public JournalView() {
        super();
        this.jvList = new Vector<JournalView>(0,1);
    }

    /**
     * Add transaction to the view
     * The view will be shown Table
     * @param General Ledger
     */
    public void addJournalView(JournalView glView) {
        jvList.add(glView);
    }

    /*
     * (non-Javadoc)
     * @see com.asdev.gui.ITableView#addListener(org.eclipse.jface.viewers.ILabelProviderListener)
     */
    public void addListener(ILabelProviderListener listener) {
        // TODO Auto-generated method stub

    }

    /*
     * (non-Javadoc)
     * @see com.asdev.gui.ITableView#dispose()
     */
    public void dispose() {
        // TODO Auto-generated method stub

    }

    /*
     * (non-Javadoc)
     * @see com.asdev.gui.ITableView#getColumnImage(int)
     */
    public Image getColumnImage(int columnIndex) {
        // TODO Auto-generated method stub
        return null;
    }

    /*
     * (non-Javadoc)
     * @see com.asdev.gui.ITableView#getColumnText(int)
     */
    public String getColumnText(int columnIndex) {
        SimpleDateFormat sdf = new SimpleDateFormat("dd-MM-yyyy");

        switch (viewType) {
        case ConstantView.LIST_TRANSACTION:

            if (j.getId().getNumber()==1) {
                switch (columnIndex) {
                case 0:
                    return j.getId().getId();
                case 1:
                    return sdf.format(j.getId().getTransactiondate());
                case 2:
                    return j.getTransaction().getReceiptid();
                }
            }
            else {
                switch (columnIndex) {
                case 0:
                    return "";
                case 1:
                    return "";
                case 2:
                    return "";
                }
            }
            switch (columnIndex) {
            case 3:
                return j.getAccount().getCode()+" "+j.getAccount().getName();
            case 4:
                return j.getDebit().toString();
            case 5:
                return j.getCredit().toString();
            }
            break;

        case ConstantView.START_TRANSACTION:
            switch (columnIndex) {
            case 3:
                return "Saldo sebelum";
            case 4:
                return j.getDebit().toString();
            case 5:
                return j.getCredit().toString();
            }
        case ConstantView.END_TRANSACTION:
            switch (columnIndex) {
            case 3:
                return "Saldo sesudah";
            case 4:
                return j.getDebit().toString();
            case 5:
                return j.getCredit().toString();
            }
        }

        return null;
    }

    /*
     * (non-Javadoc)
     * @see com.asdev.gui.ITableView#getElements()
     */
    public Object[] getElements() {
        return jvList.toArray();
    }

    /*
     * (non-Javadoc)
     * @see com.asdev.gui.ITableView#inputChanged(org.eclipse.jface.viewers.Viewer, java.lang.Object, java.lang.Object)
     */
    public void inputChanged(Viewer viewer, Object oldInput, Object newInput) {
        // TODO Auto-generated method stub

    }

    /*
     * (non-Javadoc)
     * @see com.asdev.gui.ITableView#isLabelProperty(java.lang.String)
     */
    public boolean isLabelProperty(String property) {
        // TODO Auto-generated method stub
        return false;
    }

    /*
     * (non-Javadoc)
     * @see com.asdev.gui.ITableView#removeListener(org.eclipse.jface.viewers.ILabelProviderListener)
     */
    public void removeListener(ILabelProviderListener listener) {
        // TODO Auto-generated method stub

    }

    public void setJournalViewList(Vector<JournalView> glList) {
        this.jvList = glList;
    }

    public Journal getJournal() {
        return j;
    }

    public void setViewType(int viewType) {
        this.viewType = viewType;
    }

}

And before u set input in TableViewer, do this one

JournalView glView = new JournalView();
glView.setJournalViewList(JournalViewManagement.listJournalByTransactionTypeAndBetweenDate(transactionType, fromDate, toDate));
tableViewer.setInput(glView);

Good luck and have a nice code:)

wass wr wb,
SAdr LM

Jalan-jalan ke Nürnberg

Thursday, February 15th, 2007

Jalan2 selesai akhirnya musti kerja lagi. Perjalanan yang cukup menarik, kota yang tidak sebesar kota Stuttgart, dan jumlah penduduk Indonesia yang sangat jauh daripada Stuttgart tetapi mempunyai cerita yang selalu sama di kota manapun. Penduduk Indonesia yang selalu berkelompok dan tidak mau tahu dengan kelompok yang lain. Saya benar dan kamu pasti salah:) Sebenarnya tidak semua sih tapi ini agak sedikit hiperbola biar lebih ramai. Hari pertama saya dijemput oleh mas Budi dan Andika, dua orang yang belum pernah kenal dan ketemu. Satu orang kenal karena balasan imel dan orang lain adalah teman yang baru saja bertemu.
Mungkin karena kita sama-sama berjiwa petualang dan selalu ingin mencari teman dan sahabat baru, Alhamdulillah kita langsung akrab. Tujuan pertama adalah pameran Embedded System di Messe Nürnberg. Andika terpaksa pulang terlebih dahulu karena ada sesuatu keperluan. Saya dan mas Budi berangkat menuju pameran. Di setiap stand di pameran kita selalu disambut dengan baik dan kadang-kadang mereka mengatakan Nihou (ejaan?) dan Sie sie (ejaan?) kata-kata dari bahasa Cina yang berarti Apa Kabar, dan Terima kasih. Meskipun kita kurang sreg dengan perkataan mereka tapi mau apalagi memang hal ini sering terjadi seperti kita kenal orang bule semuanya berasal dari tempat yang sama. Mereka juga tidak mau kalau kita salah menyebutkan daerah asal mereka:)
Pameran menekankan bidang sistem dalam sistem, sistem yang terbanyak tentunya sistem untuk kendaraan. Dari segala macam protokol sampai sistem wireless terbaru saingannya Bluetooth yaitu ZigBee. Kelebihannya adalah lebih cepat daripada Bluetooth untuk mencari teman sesama ZigBee nya, tentunya ini berefek juga ketika menyalakan atau mengirim pesan kepada sesamanya. Dan hebatnya lagi antar komponen bisa berjarak sekitar 50 m (kalau tidak salah) dan kalau anda punya 100 buah (maksimal 255 komponen, 8 bit) jarak maksimal dari ujung satu ke ujung yang lain 5000 m. Ini secara teorinya. Tiap-tiap komponen dapat berlaku sebagai Router (menerima dan mengirim pesan), End switch (pelaksana atau pemberi pesan), Coordinator (pengatur pesan untuk siapa dan dari siapa). Setiap jaringan star dari ZigBee maksimal mempunyai 1 coordinator, dan bila coordinator mati, maka komponen lain langsung berubah jadi coordinator dan begitu seterusnya. Sebenarnya banyak sekali yang saya ingin ceritakan tapi nanti judulnya harus diganti dong:)
Rasa lapar pun tidak terasa sampai perut kami keroncongan, kita berangkat ke tempat Doner terenak se-Nürnberg, karena tempat Doner Teller terenak bukan disini tempatnya. Sausnya memang beda dan rotinya pun lebih lebar, ditambah teh khas Turki yang gratis bo’ pokoknya enak disamping harganya lebih murah 50 sen dari harga standarnya Stuttgart.
Ketika saya berbicara dengan mas Budi, ternyata menjadi orang baik susah juga sekarang. Apalagi jika kebaikan itu disembunyikan oleh fitnah dan dibumbui oleh iri kemudian ditambah dengan nasehat yang salah dan yang tidak lupa dikompori oleh sifat suudzon. Hancurlah tali silaturahmi. Dan yang paling saya sedih ada saja orang yang mengambil keuntungan dari insiden ini. Lebih dasyatnya lagi tak ada seorang pun yang mau menfasilitasi keretakan tali silaturahmi. Saya hanya bisa bernafas panjang tanpa bisa berbuat apa-apa. Semoga yang benar akan diperlihatkan.
Malam pun memayungi Nürnberg, saya dititipkan di rumah orang Malaysia, seorang bumiputera bernama Hatimi. Sosok yang masih muda tapi pemikirannya menerawang ke depan, dan tahu apa yang terjadi di negaranya dan apa yang musti dia perbuat. Ternyata apa yang pernah terjadi di Indonesia, sekarang sedang terjadi di negeri jiran, semoga saja mereka tidak melakukan kesalahan seperti yang pernah kita lakukan. Malam pun menjelang kita pun terlelap.
Esoknya kita membicarakan tentang politik yang terjadi di Malaysia yang terjadi baru-baru ini. Siapa itu Mahathir, Anwar Ibrahim, dan pak Lah (sebutan untuk Abdullah Badawi). Yang paling mengejutkan adalah protes yang menginginkan agama Islam sebagai agama resmi Malaysia harus dicabut, tapi untungnya pak Lah dengan tegas bahwa hal agama tidak boleh diganggu gugat. Apakah hal ini berhenti disini ternyata tidak karena mereka yang protes meminta bantuan campur tangan asing. Ceritanya sangat ramai dan panjang tapi akhirnya pembicaraan terhenti ketika kita bersepakat untuk membangun bumiputera, dan saling bekerja sama di masa depan.
Yap menuju ke pameran lagi, karena kemaren baru bagian Service, sekarang Hardware dan Tools. Di pameran banyak sekali microprocessor lain dan tipenya pun bermacam2. Ternyata processor tidak hanya Intel dan AMD, tapi ada banyak lagi Renesas, AVR, VIA, Toshiba, wah banyak sekali dah. Intel pun tidak hanya Pentium atau Core Duo ternyata ada XScale. Waktu main ke Toshiba ternyata ada main PS3 kalau menang dapat PSP. Tapi sayang saya gagal karena ternyata ada orang yang lebih jago dan sewaktu saya maen agak ada sifat sombong jadinya mobilnya nabrak bukit dah. Urutannya pindah ke nomer 10:((
Pulang dari Nürnberg banyak segudang imijinasi, ide, dan solusi. Memang pameran tersebut memberikan perluasan pengetahuan. Aplikasi yang ada di pameran tampaknya sangat sulit terealisasi dan dibuat di negeri kita jika tidak ada peraturan dan bantuan dari pemerintah. Karena selain mahal biaya untuk memulai, diperlukan juga kerjasama dari masing2 pihak industri dan pemberi modal. Sehingga hasil produksi dapat digunakan dan mau digunakan untuk kebutuhan dalam negeri dan semoga bisa bersaing dengan luar negeri.
Wah maaf kalau pembicaraannya tidak terstruktur karena banyak yang saya mau curahkan tapi takutnya banyak banget. Saya ucapkan terima kasih sekali lagi untuk mas Budi (semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah) meskipun persyaratan kegiatan harus dipenuhi:) , Andika (semoga berhasil dengan studenkollege nya), dan Hatimi (hidup bumiputera :) )

wass wr wb,
SAdr LM
15-02-2007, 23:39

Ketika semua berbalik menyerang

Monday, February 12th, 2007

Tangan ini tak sabar untuk menulis, seketika temenku menceritakan kehidupannya. Sungguh tergetar hati. Bayangkan ketika anda membutuhkan orang untuk berpegang, untuk dijadikan andalan untuk membantu, ternyata orang tersebut malah menyerang dari belakang dan menjatuhkan diri anda.
Saya sungguh tidak dapat berpikir, bagaimana seseorang yang telah mengenal kamu dan kamu telah mengenal dia seumur hidup, menjustifikasi kamu untuk berbuat sesuatu yang tidak kamu sukai bahkan oleh orang yang menyuruh kamu melakukan itu.
Pertama ketika saya mendengar cerita ini, saya langsung marah kepada temanku tersebut, mengapa kau melakukan hal tersebut, itu tidak sesuai dengan kata hatimu. Itu tidak sesuai dengan apa yang selalu kamu dambakan. Saya mencap dia sebagai orang yang plin-plan dan tidak  bertanggung jawab dan saya berkata untung saya tidak mengenal kamu terlalu dekat. Kalau tidak saya sudah menghajarmu dari tadi.
Tapi apakah yang terjadi kemudian, saya mendengar berita yang seakan-akan terbalik dari apa yang saya dapatkan. Saya terhenyak, masih sedikit kaget, saya mencoba untuk menulis dan berkata "Maafkan saya yang salah sangka, temanku, sahabat sejatiku", ternyata saya lah orang yang tidak mengerti tentang temanku. Sayalah yang selalu meminta tanpa tahu malu. Maafkan aku teman, mulai sekarang saya lah akan mendorong dan menjagamu. Kamilah semua kawan-kawan yang selalu berjalan bersama. Maafkan saya kawan. Semoga engkau dapat berusaha dan menjalani semua.
Selamat dan selalu berusaha bersama.

wass wr wb,
sahabatmu,
webmuh an SAdr LM

Ceramah jumat hari (that’s hit the spot)

Friday, February 9th, 2007

Jumat ini tidak seperti biasanya, dari pagi sekali saya harus keluar rumah. Pertama wawancara untuk thesis kemudian dilakukan sholat Jumat di ruangan kelas yang disulap menjadi mesjid untuk 1 jam. Ceramah hari itu sangat menarik dan mengena sekali kepada saya. Ceramah itu tentang mengapa kita menjadi umat yang terbaik jika dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Kita bukan umat yang terbaik karena kuat, seperti bangsa dahulu yang dapat memahat dinding untuk dijadikan rumah, kita bukan umat yang kaya, yang kekayaan dan kerajaan dari ujung barat dan ujung timur, tetapi kita sebagai umat yang terbaik karena kita umat yang menyuruh kepada yang baik dan melarang kepada yang mungkar.
Ceramah itu pula mengatakan, ketika nabi Muhammad saw sebelum meninggal ,sahabat beliau berjumlah sekitar 124.000 orang yang tinggal di Madinah. Dan tahukah berapa yang meninggal di Madinah dan Mekkah, hanya 10000 orang saja.
Lalu kemana yang 114.000 orang? Mereka semua menyebar ke seluruh dunia, kemana saja mereka bisa mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar. Ada yang kuburannya terdapat di Rusia, bahkan akhirnya sampai juga di Indonesia. Dengan apa mereka menyebarkan Islam di negara kita, Cina, Malaysia? Apakah dengan pedang dan perang?Tidak pernah, mereka disebarkan malahan oleh pedagang. Yang kemudian berinteraksi dan melakukan dakwah. Yang Alhamdulillah dakwahnya telah sampai kepada kita.
Apakah tugas kita sekarang, hanya belajar, atau mengejar usaha. Semua orang muslim mempunyai tugas berdakwah, baik dengan perilaku, ucapan, maupun secara langsung mengajak. Apa yang saya khawatirkan adalah ketika seseorang dihukum untuk masuk neraka dan seorang itu berkeberatan karena dia tidak pernah diberi ceramah oleh mukmin yang berada di sekitarnya. Apakah kita akan diminta juga pertanggung jawabannya? Apakah jawaban kita? Apakah kita bisa bilang kita hidup disini dengan urusan masing-masing oleh karena itu carilah kebenaran sendiri? Apakah alasan untuk menjaga kesopanan kita tidak berdakwah? Apakah karena kita malu untuk mengatakan kita muslim?
Seketika khutbah itu selesai pertanyaan tersebut masih mengiang di telinga dan menyerap di otak. Apakah saya termasuk orang yang tidak melaksanakan dakwah itu? Apakah saya tidak termasuk dalam umat yang terbaik? Alasan apa yang bisa saya berikan ketika ditanya? Tolonglah beri kami kekuatan untuk berdakwah.

wass wr wb,
SAdr LM

Tips membuat JFace Dialog

Saturday, February 3rd, 2007

JFace Dialog mempunyai 2 bagian utama (dialog window dan isi dialog). Isi dialog dibagi menjadi 3 bagian title yang berwarna putih, isi yang berwarna abu-abu dan buttonBar yang berisi button2. Keterangan tambahannya:
1. Window yang berisi title dan logo. Bila anda mau mengubah title dan logo window maka anda harus menggoveride method configureShell(Sehll parentShell) dengan baris pertama kode beris panggilan ke method yang sama di superclass.
2. Untuk mengubah title yang berwarna putih anda bisa menggoverride method createContens() dan baris pertama kode berisi panggilan ke superclass untuk method yang sama.
3. Untuk mengubah isi yang berwarna abu2 anda menggoverride method createDialogArea. Panggilan ke superclass untuk method yang sama tidak harus.
4. Untuk mengubah buttonBar and bisa menggoverride method createButtonBar atau createButtonsforButtoBar. Panggilan ke superclass untuk method yang sama tidak harus.
Untuk membuat JFace Dialog bagian2 yang sebaiknya di modifikasi adalah
1. override createContents(), di bagian ini anda bisa menambah widget yang lain ataupun merubah title dan teks lain. Sebagai tambahan pada baris pertama overriding methodnya harus memanggil method yang sama di superclass (super.createContents)
2. Cara yang lebih baik adalah mengoverride method createDialogArea untuk memodifikasi dialog dengan ditambah widget yang lain, kemudian mengoverride methos createButtonBar bila anda benar2 mau mengubah isi dan layout dari button2 yang berada di bawah dialog tapi kalau hanya ingin mengubah urutan dan buttontampilan dari button yang ada, anda cukup menggoveride method createButtonsforButtonBar. dan di method itu anda menggunakan method createButton(Composite parent, int id, String name, boolean defaultButton) untuk membuat button. Tapi bila anda hanya ingin menambahkan button yang sudah ada maka di akhir method creatButtonsforButtonBar tambahkan kode super.createButtonsforButtonBar untuk memanggil method yang berada di superclass. Tambahan id untuk button anda adalah IDialogConstand.CLIENT_ID + index. Bila anda menambahkan sesuatu  pada button bar maka anda harus mengoverride method buttonPressed(int id)

Contoh program

public class BetweenDateDialog extends Dialog{
   
    /*
     * (non-Javadoc)
     * @see org.eclipse.jface.window.Window#configureShell(org.eclipse.swt.widgets.Shell)
     */
    @Override
    protected void configureShell(Shell newShell) {
        super.configureShell(newShell);
        newShell.setText("Pilih Tanggal");
        shell = newShell;
    }

    /*
     * (non-Javadoc)
     * @see org.eclipse.jface.dialogs.Dialog#createDialogArea(org.eclipse.swt.widgets.Composite)
     */
    @Override
    protected Control createDialogArea(Composite parent) {
        Composite composite = new Composite(parent, SWT.NONE);
        GridLayout layout = new GridLayout(4, false);
        composite.setLayout(layout);

        //First Row
        Label fromDateLabel = new Label(composite, SWT.NONE);
        fromDateLabel.setText("Dari Tanggal");

        return composite;
    }
   
    /*
     * (non-Javadoc)
     * @see org.eclipse.jface.dialogs.Dialog#okPressed()
     */
    @Override
    protected void okPressed() {
        ErrorMessageDialog emd = new ErrorMessageDialog("errorBetweenDatesDialog");
        if (fromDateCombo.getDate()==null) {
            emd.addErrorStatus(IStatus.INFO, "Masukkan Tanggal Dari");
        }
        if (toDateCombo.getDate()==null) {
            emd.addErrorStatus(IStatus.INFO, "Masukkan Tanggal Sampai");
        }
        ErrorDialog ed = emd.getErrorMessageDialog(shell, "Kesalahan Memilih Tanggal", "Kesalahan ketika memilih tanggal", IStatus.INFO|IStatus.ERROR);
        if (ed == null) {
            fromDate = fromDateCombo.getDate();
            toDate = toDateCombo.getDate();
            super.okPressed();
        }
        else
            ed.open();
    }

    @Override
    protected void buttonPressed(int buttonId) {
        if (IDialogConstants.CLIENT_ID+1==buttonId) {
            super.okPressed();
        }
        else if (IDialogConstants.CLIENT_ID+2==buttonId) {
            super.okPressed();
        }
        else if (IDialogConstants.CLIENT_ID+3==buttonId) {
            super.okPressed();
        }
        super.buttonPressed(buttonId);
    }

    @Override
    protected void createButtonsForButtonBar(Composite parent) {
        if ((style&BetweenDateDialog.DAY)==BetweenDateDialog.DAY) {
            createButton(parent, IDialogConstants.CLIENT_ID+1, "Hari ini", false);
        }
        if ((style&BetweenDateDialog.MONTH)==BetweenDateDialog.MONTH) {
            createButton(parent, IDialogConstants.CLIENT_ID+2, "Bulan ini", false);
        }
        if ((style&BetweenDateDialog.YEAR)==BetweenDateDialog.YEAR) {
            createButton(parent, IDialogConstants.CLIENT_ID+3, "Tahun ini", false);
        }
        super.createButtonsForButtonBar(parent);
    }
}

semoga berguna.
wass wr wb,
vaihingen, 3 Februari 2007
SAdr LM