Sampai segitunyakah kita

Ketika itu saya sedang tenang2 saja mengetik kemudian ada temen lama saya men-buzz dan mengajak teman yang lain berbicara. Seperti biasa pembukaan forum diisi sekedar obrolan ngalor ngidul sehingga kadang2 kita mentertawakan diri sendiri tentang apa yang kita kerjakan. Tapi meskipun kita bercanda sampai tertawa, di forum tersebut secara implisit kita tidak boleh memperolok-olok agama karena khawatir kalau itu akan menjadi kebiasaan yang akibatnya kita tidak kuat menanggung akibatnya.
Sekedar ngobrol pun akhirnya selesai dan temannya temenku mengajakku untuk berketik langsung lewat chatting. Sesudah sedikit perkenalan mulailah masuk ke pembicaraan serius sehingga kita agak memasuki daerah perdebatan dalam agama, yang saya terperangah adalah teman baru ini langsung menghakimi saya bahwa saya ini fundamental, kemudian saya bertanya mengapa kok bisa bilang saya fundamental. Karena kita tidak sependapat dalam beberapa hal, saya terperangah dan bertanya kok bisa begitu apa alasannya. Alasannya ternyata hanya itu, titik.
Saya khawatir kejadian yang sama pernah terjadi pada teman2 yang lain, yang pernah dicap sebagai fundamental, padahal yang lebih tegas dan tinggi dari saya lebih sangat banyak apakah mereka disebut raja fundamental atau super fundamental.
Apakah kita dengan alasan tidak setuju atau lebih tegas kemudian mencap yang lain fundamental dan anehnya di sisi lain kita menjunjung pluralisme atau toleransi terhadap agama lain tapi itu tidak berlaku dengan agama sendiri. Saya melihat itu karena kita sudah "sebegitunya" dipengaruhi oleh cap fundamentalis yang dibuat oleh media padahal arti kata sebenarnya fundamental itu adalah yang benar atau berpegang tegang pada akar. Aneh memang kita menjunjung pluralisme tapi menuduh orang lain fundamental:)

Leave a Reply