Muenster, Den Haag, Delft, Amstelveen, dan Amsterdam bagian 3
Siap-siap menuju Delft untuk bermalam, sistem pertiketan di Belanda berbeda dengan di Jerman, tiket menggunakan sistem strip, kartu strip ini dapat dibeli di kios ataupun langsung ke pengemudi tram atau bus tapi harganya lebih mahal daripada kalau kita membeli di kios. Untuk setiap kali naik kita harus menandai berapa zone yang kita lewati ditambah dengan satu strip tambahan tapi kalau kita lupa ternyata zonenya melebihi yang kita strip, kita cukup menandai berapa zone yang kita lupa tanpa tambahan satu trip jika masih dalam waktu yang diperbolehkan (misal: 2-4 strip berlaku satu jam). Enaknya disini bila kita menandai kartu strip maka kita bisa berada dan menggunakan angkutan umum selama waktu tertentu, meskipun kita bolak-balik dalam satu jalur, lebih mirip satu jam tiket untuk 2-4 strip.
Di Delft saya menginap di tempat mas Bayu atas referensi dari kang Deden Permana. Mas Bayu ahli dalam hal jaringan dan sistem operasi. Beliau mengajarkan saya tentang Voip, Asteriks, dan perangkat keras komputer. Wah ternyata tidak rugi saya jalan-jalan di Delft, banyak menambah ilmu. Saya diajak untuk melihat-lihat TU Delft, memang saya akui teknologi pengairan sangat maju sekali dan saya melihat ada kapal selam mini yang bisa dimasuki di tengah2 kolam.
Perjalanan pun dilanjutkan menuju Madurodam, objek wisata di dekat kota Den Haag. Yang menarik hati saya adalah alat penghantam badai, karena Belanda berada di bawah air laut (Netherland yang berarti tanah rendah) maka pemerintah mendorong dibuatnya dam-dam penahan air. Dari konsep pengambil air seperti sumur dan penahan bila terjadi badai, sebenarnya kita bisa belajar untuk mengatasi bah air laut di sekitar Tanjung Priok dengan teknologi yang terdapat di Belanda. Masa kita hanya mencontoh korupsinya VOC tanpa belajar ilmu yang lebih bermanfaat di Belanda.
Jadwal hari ini saya menginap di tempat kang Arga di Amstelveen sekitar 50 menit dari Amsterdam. Naik kereta dari Den Haag menuju Schipol dan naik bis menuju rumah kang Arga. Belanda tidak mempunyai kereta sangat cepat seperti di Jerman (ICE), mereka hanya mempunya Snelltrain yang berarti kereta cepat, tetapi kalau dibandingkan dengan ICE kereta tersebut sangatlah lamban. Ini dapat dimaklumi karena Belanda adalah negara yang kecil yang dari ujung satu ke ujung yang lain hanya 400 km tetapi dapat menjajah Indonesia selama 350 tahun ditambah dengan jajahan pinjaman uang yang sampai sekarang masih berlaku.
Tiba di kang Arga kita berbicara tentang jalan hidup, pembicaraan cukup menarik karena masa lalu beliau hampir mirip dengan masa lalu saya:) jadinya kita cepat nyambung apalagi kita daerah kita sangat berdekatan Kuningan dan Tasikmalaya, cukup sejam saja. Saya diajak untuk melihat yang namanya kawasan lampu merah. Kawasan ini adalah kawasan bebas, prostitusi dan ganja dapat dengan mudah dibeli disini. Sebenarnya disini tidak terlalu bebas, para pelacur harus bersih dari segala penyakit, dan kafe yang menjual ganja tidak boleh menjual alkohol. Dimana-mana terdapat kamera tersembunyi yang banyak sekali sehingga bila ada pelanggaran maka langsung ditutup. Setiap kamar pelacur diberi warna lampu merah, yang saya rasa ketika melihat kamar tersebut bukannya nafsu yang keluar tapi rasa kasihan, disitu terlihat jelas bahwa wanita telah jatuh sebagai objek dari pria dan harga diri wanita sangat rendah sekali. Hanya dengan sekian Euro maka mereka menjual dirinya. Sayang sekali gerakan feminis tidak pernah menyinggung masalah ini.
Akhirnya saya pun pulang dengan menggunakan kereta menuju Stuttgart dengan ditemani Vlaas Frites (ejaan?) sebuah makanan kentang khas Belanda. Perjalanan yang menambah ilmu.zzzzzz
wass wr wb,
SAdr LM