Muenster, Den Haag, Delft, Amstelveen, dan Amsterdam bagian 2
Pagi hari sekali kami sudah bangun dan bersiap menuju Den Haag. Kami berangkat bersama dengan ketua PCIM (Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah) Belanda, bapak Rasjid Suparwata. Pertemuan dan pelantikan diadakan di kedubes RI di Den Haag. Pelantikan sendiri dipimpin oleh Ketua Muhammadiyah bapak Din Syamsudin. Dalam pidatonya beliau berkata bahwa penegakan amal ma`ruf dan nahi mungkar itu harus dan tidak boleh fleksibel. Ini berlaku juga untuk penyakit agama seperti TBC (Takhayul, Bidàh, dan Khurafat). Pembentukan partai atau simpatisan partai yang masuk ke dalam tubuh Muhammadiyah tidak boleh mempromosikan partainya di dalam tubuh organisasi. Bersama-sama dengan organisasi Islam lainnya, diharapkan Islam di Indonesia tetap menjadi utuh diantara perbedaan jangan sampai apa yang terjadi di Timur Tengah akan terjadi pula di Indonesia. Disini perlunya komunikasi antar pimpinan organisasi dan komunikasi vertikal antara pimpinan organisasi dengan pendukung akar rumput. Dan yang terakhir beliau mengatakan bahwa ladang dakwah sangatlah luas, jangan sampai antar organisasi Islam berebutan kue yang sama dan melupakan PR lain yang lebih banyak.
Dalam hal kapasitas beliau sebagai wakil ketua MUI, beliau mengatakan tentang fatwa MUI tentang pluralitas adalah MUI menolak keras tentang relativisme agama, yang mengatakan semua agama adalah sama tetapi tidak menolak pluralitas agama dalam hal bahwa agama memang bermacam-macam dan berbeda-beda. Fatwa ini pun sejalan dengan keputusan PGI (Persatuan Gereja Indonesia) tentang relativisme agama yang di Indonesia sering digembor-gemborkan atas nama leberalisme. Beliau juga menjelaskan tentang fatwa MUI tentang kesesatan Ahmadiyah. Di Ahmadiyah terdapat golongan yang mengatakan bahwa ada Nabi setelah Nabi Muhammad yaitu Mirza Ghulam Ahmad yang merupakan pendiri Ahmadiyah. MUI mengatakan sesat karena Ahmadiyah mengaku sebagai bagian dari Islam tapi syarat mutlak Islam yang utama adalah bersaksi tentang keesaan Allah dan tentang pengakuan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Fatwa itu tidak berlaku lagi jika Ahmadiyah tidak mengaku sebagai bagian dari Islam dan membuat agama sendiri.
Pelantika PCIM Belanda ditutup dengan dipilihnya bapak Muhammad Surya Alinegara, yang ternyata sekampung dengan kakek saya di Ciomas, Banten. Memang dunia kecil sekali dan sekarang saya bersiap menuju Delft. bersambung.