Muenster, Den Haag, Delft, Amstelveen, dan Amsterdam bagian 1
Salam.
Wuih tidak terasa sudah sampai di kos-kosan lagi. Dimulai dari Stuttgart hari Sabtu 27 Januari 2007 pukul 8 tapi karena salju turun deras maka perjalanan baru dimulai sejam kemudian. Ternyata kecanggihan teknologi tidak mampu melawan kemampuan alam, saya tidak mau menulis dengan keganasan alam karena manusia lebih ganas daripada alam dalam hal berinteraksi. Ternyata keterlambatan itu berbuntut panjang, semua jalur dan jadwal kereta berubah total, saya yang seharusnya berhenti di darmstadt ternyata tidak berhenti disana, kereta terus berlanjut sampai di Frankfurt. Saya kaget juga karena tiket saya bukan tiket "biasa" alias ga bisa diubah tanggal dan jam berangkatnya, resikonya saya harus beli tiket lagi. Wah berabe nih, tapi hebatnya ketika saya melapor ke DB (penyedia layanan kereta api antar propinsi dan antar negara) mereka mengganti tiket saya dengan tiket yang berlaku satu hari dan dapat menggunakan kereta apapun. Perencanaan tanggung jawab yang bagus sekali, mereka tidak menyalahkan penumpang maupun kereta yang terlambat karena itu memang tidak mungkin menyalahkan yang sudah lampau, tetapi langsung menggantinya dengan yang lain ditambah dengan bingkisan sekedarnya (sayang saya tidak dapat karena saya masih bingung tentang jadwal kereta saya). Ini merupakan kritik juga untuk sistem perkereta apian di Indonesia yang katanya mau di swastanisasi karena tidak efektif. Kok tidak efektif di swastanisasi yah???
Sampailah saya di Muenster, walau sempat menunggu beberapa menit, akhirnya sahabat saya mas Ahmad Norma datang menjemput. Petualangan di Muenster pun dimulai. Kota Muenster adalah kota yang sangat kecil dan merupakan kota yang ternyaman sedunia dengan jumlah penduduk di bawah 500 ribu, yang melebihi dari itu adalah Melbourne, hmmm saya ingin sekali kesana. Memang kota ini kecil sekali sehingga untuk mengelilingi pusat kota cukup dengan tiket satu zone saja (di jerman tarif angkutan berdasarkan zone). Di tengah kota terdapat gereja yang besar sekali, dan terkenal dengan Westphalia, dimana terjadi pembantaian orang kristen oleh orang Katolik. Mereka yang dihukum dikurang dan digantung baik dalam keadaan hidup ataupun mati di atas gereja. Tempat hukuman dan kurungan sampai sekarang masih dapat dilihat di Muenster. Ini untuk mengingatkan bahwa kejadian itu jangan sampai pernah terjadi dua kali. Muenster adalah satu-satunya kota Katolik di Jerman. Setelah sampai di tempat mas Ahmad Norma, saya dikenalkan dengan istri beliau mbak Dewi Candraningrum, aktivis Female Gender di Indonesia.
Pada malam hari kami sempat berdialog tentang agama, teologi, politik, dan kapitalisme. Pembicaraan yang sangat menarik tapi sayang karena keterbatasan waktu dan besok pagi2 kita harus sudah berangkat menuju Den Haag maka pembicaraan akhirnya terhenti setelah berdialog tentang Tuhan dan konsep waktu.