Archive for January, 2007

Muenster, Den Haag, Delft, Amstelveen, dan Amsterdam bagian 3

Wednesday, January 31st, 2007

Siap-siap menuju Delft untuk bermalam, sistem pertiketan di Belanda berbeda dengan di Jerman, tiket menggunakan sistem strip, kartu strip ini dapat dibeli di kios ataupun langsung ke pengemudi tram atau bus tapi harganya lebih mahal daripada kalau kita membeli di kios. Untuk setiap kali naik kita harus menandai berapa zone yang kita lewati ditambah dengan satu strip tambahan tapi kalau kita lupa ternyata zonenya melebihi yang kita strip, kita cukup menandai berapa zone yang kita lupa tanpa tambahan satu trip jika masih dalam waktu yang diperbolehkan (misal: 2-4 strip berlaku satu jam). Enaknya disini bila kita menandai kartu strip maka kita bisa berada dan menggunakan angkutan umum selama waktu tertentu, meskipun kita bolak-balik dalam satu jalur, lebih mirip satu jam tiket untuk 2-4 strip.
Di Delft saya menginap di tempat mas Bayu atas referensi dari kang Deden Permana. Mas Bayu ahli dalam hal jaringan dan sistem operasi. Beliau mengajarkan saya tentang Voip, Asteriks, dan perangkat keras komputer. Wah ternyata tidak rugi saya jalan-jalan di Delft, banyak menambah ilmu. Saya diajak untuk melihat-lihat TU Delft, memang saya akui teknologi pengairan sangat maju sekali dan saya melihat ada kapal selam mini yang bisa dimasuki di tengah2 kolam.
Perjalanan pun dilanjutkan menuju Madurodam, objek wisata di dekat kota Den Haag. Yang menarik hati saya adalah alat penghantam badai, karena Belanda berada di bawah air laut (Netherland yang berarti tanah rendah) maka pemerintah mendorong dibuatnya dam-dam penahan air. Dari konsep pengambil air seperti sumur dan penahan bila terjadi badai, sebenarnya kita bisa belajar untuk mengatasi bah air laut di sekitar Tanjung Priok dengan teknologi yang terdapat di Belanda. Masa kita hanya mencontoh korupsinya VOC tanpa belajar ilmu yang lebih bermanfaat di Belanda.
Jadwal hari ini saya menginap di tempat kang Arga di Amstelveen sekitar 50 menit dari Amsterdam. Naik kereta dari Den Haag menuju Schipol dan naik bis menuju rumah kang Arga. Belanda tidak mempunyai kereta sangat cepat seperti di Jerman (ICE), mereka hanya mempunya Snelltrain yang berarti kereta cepat, tetapi kalau dibandingkan dengan ICE kereta tersebut sangatlah lamban. Ini dapat dimaklumi karena Belanda adalah negara yang kecil yang dari ujung satu ke ujung yang lain hanya 400 km tetapi dapat menjajah Indonesia selama 350 tahun ditambah dengan jajahan pinjaman uang yang sampai sekarang masih berlaku.
Tiba di kang Arga kita berbicara tentang jalan hidup, pembicaraan cukup menarik karena masa lalu beliau hampir mirip dengan masa lalu saya:) jadinya kita cepat nyambung apalagi kita daerah kita sangat berdekatan Kuningan dan Tasikmalaya, cukup sejam saja. Saya diajak untuk melihat yang namanya kawasan lampu merah. Kawasan ini adalah kawasan bebas, prostitusi dan ganja dapat dengan mudah dibeli disini. Sebenarnya disini tidak terlalu bebas, para pelacur harus bersih dari segala penyakit, dan kafe yang menjual ganja tidak boleh menjual alkohol. Dimana-mana terdapat kamera tersembunyi yang banyak sekali sehingga bila ada pelanggaran maka langsung ditutup. Setiap kamar pelacur diberi warna lampu merah, yang saya rasa ketika melihat kamar tersebut bukannya nafsu yang keluar tapi rasa kasihan, disitu terlihat jelas bahwa wanita telah jatuh sebagai objek dari pria dan harga diri wanita sangat rendah sekali. Hanya dengan sekian Euro maka mereka menjual dirinya. Sayang sekali gerakan feminis tidak pernah menyinggung masalah ini.
Akhirnya saya pun pulang dengan menggunakan kereta menuju Stuttgart dengan ditemani Vlaas Frites (ejaan?) sebuah makanan kentang khas Belanda. Perjalanan yang menambah ilmu.zzzzzz

wass wr wb,
SAdr LM

Muenster, Den Haag, Delft, Amstelveen, dan Amsterdam bagian 2

Tuesday, January 30th, 2007

Pagi hari sekali kami sudah bangun dan bersiap menuju Den Haag. Kami berangkat bersama dengan ketua PCIM (Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah) Belanda, bapak Rasjid Suparwata. Pertemuan dan pelantikan diadakan di kedubes RI di Den Haag. Pelantikan sendiri dipimpin oleh Ketua Muhammadiyah bapak Din Syamsudin. Dalam pidatonya beliau berkata bahwa penegakan amal ma`ruf dan nahi mungkar itu harus dan tidak boleh fleksibel. Ini berlaku juga untuk penyakit agama seperti TBC (Takhayul, Bidàh, dan Khurafat). Pembentukan partai atau simpatisan partai yang masuk ke dalam tubuh Muhammadiyah tidak boleh mempromosikan partainya di dalam tubuh organisasi. Bersama-sama dengan organisasi Islam lainnya, diharapkan Islam di Indonesia tetap menjadi utuh diantara perbedaan jangan sampai apa yang terjadi di Timur Tengah akan terjadi pula di Indonesia. Disini perlunya komunikasi antar pimpinan organisasi dan komunikasi vertikal antara pimpinan organisasi dengan pendukung akar rumput. Dan yang terakhir beliau mengatakan bahwa ladang dakwah sangatlah luas, jangan sampai antar organisasi Islam berebutan kue yang sama dan melupakan PR lain yang lebih banyak.
Dalam hal kapasitas beliau sebagai wakil ketua MUI, beliau mengatakan tentang fatwa MUI tentang pluralitas adalah MUI menolak keras tentang relativisme agama, yang mengatakan semua agama adalah sama tetapi tidak menolak pluralitas agama dalam hal bahwa agama memang bermacam-macam dan berbeda-beda. Fatwa ini pun sejalan dengan keputusan PGI (Persatuan Gereja Indonesia) tentang relativisme agama yang di Indonesia sering digembor-gemborkan atas nama leberalisme. Beliau juga menjelaskan tentang fatwa MUI tentang kesesatan Ahmadiyah. Di Ahmadiyah terdapat golongan yang mengatakan bahwa ada Nabi setelah Nabi Muhammad yaitu Mirza Ghulam Ahmad yang merupakan pendiri Ahmadiyah. MUI mengatakan sesat karena Ahmadiyah mengaku sebagai bagian dari Islam tapi syarat mutlak Islam yang utama adalah bersaksi tentang keesaan Allah dan tentang pengakuan Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya. Fatwa itu tidak berlaku lagi jika Ahmadiyah tidak mengaku sebagai bagian dari Islam dan membuat agama sendiri.
Pelantika PCIM Belanda ditutup dengan dipilihnya bapak Muhammad Surya Alinegara, yang ternyata sekampung dengan kakek saya di Ciomas, Banten. Memang dunia kecil sekali dan sekarang saya bersiap menuju Delft. bersambung.

Muenster, Den Haag, Delft, Amstelveen, dan Amsterdam bagian 1

Tuesday, January 30th, 2007

Salam.
Wuih tidak terasa sudah sampai di kos-kosan lagi. Dimulai dari Stuttgart hari Sabtu 27 Januari 2007 pukul 8 tapi karena salju turun deras maka perjalanan baru dimulai sejam kemudian. Ternyata kecanggihan teknologi tidak mampu melawan kemampuan alam, saya tidak mau menulis dengan keganasan alam karena manusia lebih ganas daripada alam dalam hal berinteraksi. Ternyata keterlambatan itu berbuntut panjang, semua jalur dan jadwal kereta berubah total, saya yang seharusnya berhenti di darmstadt ternyata tidak berhenti disana, kereta terus berlanjut sampai di Frankfurt. Saya kaget juga karena tiket saya bukan tiket "biasa" alias ga bisa diubah tanggal dan jam berangkatnya, resikonya saya harus beli tiket lagi. Wah berabe nih, tapi hebatnya ketika saya melapor ke DB (penyedia layanan kereta api antar propinsi dan antar negara) mereka mengganti tiket saya dengan tiket yang berlaku satu hari dan dapat menggunakan kereta apapun. Perencanaan tanggung jawab yang bagus sekali, mereka tidak menyalahkan penumpang maupun kereta yang terlambat karena itu memang tidak mungkin menyalahkan yang sudah lampau, tetapi langsung menggantinya dengan yang lain ditambah dengan bingkisan sekedarnya (sayang saya tidak dapat karena saya masih bingung tentang jadwal kereta saya). Ini merupakan kritik juga untuk sistem perkereta apian di Indonesia yang katanya mau di swastanisasi karena tidak efektif. Kok tidak efektif di swastanisasi yah???
Sampailah saya di Muenster, walau sempat menunggu beberapa menit, akhirnya sahabat saya mas Ahmad Norma datang menjemput. Petualangan di Muenster pun dimulai. Kota Muenster adalah kota yang sangat kecil dan merupakan kota yang ternyaman sedunia dengan jumlah penduduk di bawah 500 ribu, yang melebihi dari itu adalah Melbourne, hmmm saya ingin sekali kesana. Memang kota ini kecil sekali sehingga untuk mengelilingi pusat kota cukup dengan tiket satu zone saja (di jerman tarif angkutan berdasarkan zone). Di tengah kota terdapat gereja yang besar sekali, dan terkenal dengan Westphalia, dimana terjadi pembantaian orang kristen oleh orang Katolik. Mereka yang dihukum dikurang dan digantung baik dalam keadaan hidup ataupun mati di atas gereja. Tempat hukuman dan kurungan sampai sekarang masih dapat dilihat di Muenster. Ini untuk mengingatkan bahwa kejadian itu jangan sampai pernah terjadi dua kali. Muenster adalah satu-satunya kota Katolik di Jerman. Setelah sampai di tempat mas Ahmad Norma, saya dikenalkan dengan istri beliau mbak Dewi Candraningrum, aktivis Female Gender di Indonesia.
Pada malam hari kami sempat berdialog tentang agama, teologi, politik, dan kapitalisme. Pembicaraan yang sangat menarik tapi sayang karena keterbatasan waktu dan besok pagi2 kita harus sudah berangkat menuju Den Haag maka pembicaraan akhirnya terhenti setelah berdialog tentang Tuhan dan konsep waktu.

Gerakan syahwat merdeka (taken from Taufik Ismail)

Thursday, January 11th, 2007
Perlawanan Sastra Taufiq Ismail di IPB Jan 9, '07 8:19 AM

Hari ini, Taufiq Ismail berbicara dihadapan dosen-dosen IPB.Makalah yang beliau baca sama dengan pidato Taman Ismail Marzukiyaitu : ‘Budaya Malu dikikis Gerakan SyahwatMerdeka’. Di penghujung pidatonya tadi, beliau mengusapairmatanya, sedih melihat kondisi yang terjadi.Saya lampirkan tulisan beliau yang dahsyat menyentak kita semua:

Budidaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka

Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail

Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantaiIndonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demigelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan,mulai 1998 ketika reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabunganzaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membukalebar pintu dan jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalamdua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalulama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arusmenderu-deru.

Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik,berdiri-menjamurnya partai-partai politik baru, keleluasaanberdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP (izin penerbitan pers),dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilihan umumbebas dan langsung, dan seterusnya, dinikmati belum sampaisewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belumterpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan rekeningreformasi ternyata mahal sekali.

Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuhdan menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yangsejak 1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbukepulauan kita adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka.Gerakan tak bersosok organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri,tapi bekerjasama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengankapital raksasa mendanainya, ideologi gabungan yang melandasinya,dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengerassuaranya.

Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?

PERTAMA adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dankelompok dalam perilaku seks bebas hetero dan homo,terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelasanti kehidupan berkeluarga normal, sebagian lebih besar, tak maumenampakkan diri. 

KEDUA, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmatitiada perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuanmuda, lalu menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria danwanita lewat nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagaialat kelamin tiruan (kue pancong berkumis dan lemper berbaterai)dan boneka karet perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.

KETIGA, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisisyahwat. Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengansiswa, siswa dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja sekskomersial ---- ditayangkan pada jam prime time, kalau pemainnyaterkenal. Remaja berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmenpasar penting tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikankeluhan pada saya. “Citra kami guru-guru SMA di sinetronadalah citra guru tidak cerdas, kurang pergaulan danmemalukan.” Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh tayanganlayar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata 170.000.000yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.

KEEMPAT, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia,100,000 (seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Denganempat kali klik di komputer, anatomi tubuh perempuan danlaki-laki, sekaligus fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya,sama mudahnya dilakukan baik dari San Francisco, Timbuktu,Rotterdam mau pun Klaten.

Pornografi gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorangsosiolog Amerika Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu dinegaranya bagaikan “gelombang tsunami setinggi 30 meter,dan kami melawannya dengan dua telapak tangan.” 

Di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs porno diblokirpemerintah untuk terutama melindungi anak-anak dan remaja.Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama. 

KELIMA, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat ¼ sastradan ½ sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkankaryanya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik denganwilayah selangkang dan sekitarnya mayoritas penulis perempuan.Ada kritikus sastra Malaysia berkata: “Wah, pak Taufiq,pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu,ya?” Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH TERKIKIS,bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s. (sastramazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyakbagian dari bangsa. 

KEENAM, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakanterbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kitaitu tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnyabanyak gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antarasiswa dengan Bu Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itutidak semata lucah saja, tapi ada pula kadar ideologinya.Ideologinya adalah anjuran perlawanan pada otoritas orangtua danguru, yang banyak aturan ini-itu, termasuk terhadap seks bebas.Dalam salah satu komik itu saya baca kecaman yang paling sengitadalah pada Menteri Pendidikan Jepang. Tentu saja dalam teksterjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri PendidikanNasional kita.

KETUJUH, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penontonVCD/DVD biru. Indonesia kini jadi sorga besar pornografi palingmurah di dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmiproduksi dan bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebutantara 2 juta – 20 juta keping setahun. Harga yang dulu Rp30.000 sekeping, kini turun menjadi Rp 3.000, bahkan lebih murahlagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek yang diisap 15 menit,orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru dengan pelaku kulitputih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa murah. Anak SDkita bisa membelinya tanpa risi tanpa larangan peraturanpemerintah. 

Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat adamurid-murid laki-laki yang kumpul dua sore seminggu di rumahsalah seorang dari mereka, lalu menayangkan VCD-DVD porno.Sesudah selesai mereka onani bersama-sama. Siswa sekolah apa, dankelas berapa? Siswa SD, kelas lima. Tak diceritakan apa eksesselanjutnya.

KEDELAPAN, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dariberbagai merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasanbotol kecil diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah,dijual di kios tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebasbisa membelinya. Di Amerika dan Eropa batas umur larangan dibawah 18 tahun. Negeri kita pasar besar minuman keras, jualannyasampai ke desa-desa.

KESEMBILAN, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkatketerlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja,bahkan kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anakmuda Indonesia terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribumenjadi korbannya. 

KESEPULUH, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racunnikotin 57.000 orang / tahun, maknanya setiap hari 156 orangmati, atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia.Pemasukan pajak 15 trilyun (1996), tapi ongkos pengobatanberbagai penyakit akibatnya 30 trilyun rupiah.

Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam kategorikontributor arus syahwat merdeka ini? Karena sifat addiktifnya,kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses pembentukanketiga addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat manusia. Dalammasyarakat permissif, interaksi antara seks dengan alkohol,narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan. Interaksiini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas berikutnya,seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap hariberita semacam ini dapat dibaca di koran-koran.

KESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalammasyarakat permissif, iklan semacam ini menjadi jembatankomunikasi yang diperlukan. 

KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungansyahwat suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalambentuk perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam halini prostitusi berfungsi.

KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsurpertama di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahanmeningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswaSMP/SMA memperkosa anak SD, satu-satu atau rame-rame, ketikapapi-mami tak ada di rumah dan pembantu pergi ke pasarberbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab dia/mereka memperkosa,selalu dijawab ‘karena terangsang sesudah menonton VCD/DVDbiru dan ingin mencobakannya.’ Praktisi aborsi gelapmenjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi.

Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkanbahwa angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanyasetiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kitameninggal akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor diatas. Inilah produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yangdiakibatkannya. 

Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografidan pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruhkontroversi pro-kontra RUU APP. 

Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yangtotal kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombanggerakan syahwat merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memangmau terbawa di dalamnya.

Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnakanadalah perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta,terhadap kekerasan pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUUini, terlupakan betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12tahun terpapar pornografi, situs porno di internet naik lebihsepuluh kali lipat, lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasasudah melakukan hubungan seks pra-nikah. Sementara anak-anak diAmerika Serikat dilindungi oleh 6 Undang-undang, anak-anak kitabelum, karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidakmelindungi mereka karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yangmenolak total RUU ini berarti menolak melindungi anak-cucu kitasendiri.

Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasibahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi mendestruksimoralitas dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme,pandangannya materialistik, disokong kapitalisme jagat raya. 

Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang ceritapendeknya yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, “Kalaucerpen saya itu dianggap pornografis, wah, sedihlah saya.”Saya waktu itu belum sempat membacanya. Tapi saya kirimkanpadanya pendapat saya mengenai pornografi. Begini.

Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, mengujikarya saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh didalam karya saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri,anak, kakak atau adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan didepan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa dikelas sekolah, anggota pengajian masjid, jamaah gereja; kemudiansaya tidak merasa malu, tiada dipermalukan, tak canggung, takrisi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itubukan karya pornografi.

Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itusaya merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung,risi, muak dan jijik, maka karya saya itu pornografis.

Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika sayamenilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang samajuga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembacabisa melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa. 

Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu ituyang kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalamterlalu banyak hal.

Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy,menumpang taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnyaterbit juga di Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempatpelatihan awal onani pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluhtahun kemudian, dikalahkan internet, sehingga jadilah publikpembaca Playboy dan publik langganan situs porno internet Amerikamasturbator terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk keuntungandari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentukeksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa pasarnyaluarbiasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderetantri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh perempuan danfundamentalis-syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler,Celebrity Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX Teens danseterusnya.

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur PlayboyIndonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuahpercobaan, yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu denganibu kandung, ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuanmereka sendiri. Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelaksuatu hari ketika Playboy Indonesia keluar perilaku aslinya dalammasalah ketelanjangan model yang dipotret. Sekarang mereka masihmalu-malu kucing. Sesudah dibuat dalam edisi dummy, promosikanfoto-foto itu itu di 10 saluran televisi dan 25 suratkabar.Bagaimana? Berani? Malu atau tidak? 

Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalahmenduga-memperkirakan-mengingat akibat yang mungkin terjadisesudah orang membaca karya pornografis itu. Sesudah seseorangmembaca, katakan cerpen yang memberi sugesti secara samar-samarterjadinya hubungan kelamin, apalagi kalau dengan jelasmendeskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah yangdianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akanterangsang. 

Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang palingnekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah,karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan banyak terjaditerhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum haid yang dirumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu pergi kepasar, jam 9-10 pagi. 

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanyakenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno merekaterangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut,mendekati perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebihjauh kasus yang sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisamendapat S-3 lewat tumpukan guntingan koran), mungkin saja anakitu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau komikcabul.

Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi,penularan penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yangmeruyak di kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibatpenggunaan alkohol dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.

Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis

Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan olehpenulis cerpen-puisi-novelis erotis yang umumnya asyik berdandandengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjungke sini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yangmungkin ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novelpasca reformasi sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD pornotertulis. Maukah mereka membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpenatau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratusatau ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh melakukanapa yang disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengansegala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya? 

Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu,beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukanprodusen-pengedar-pembajak-pengecer VCD/DVD porno, beredar(diperkirakan) sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak dimasyarakat kita, masyarakat konsumen pornografi terbesar dantermurah di dunia. Dulu harganya Rp 30.000 sekeping, kini Rp3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok kretek. Mengisap rokokkretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menontonsekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama denganprodusen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telahmenjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktifserba-boleh-apa-saja-genjot, yang dengan bersemangat melabrak apayang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasimeluluh-lantakkan moralitas anak bangsa.

Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang

Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karyapenulis yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpenitu lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secaraklise sering ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergike luar negeri, yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asingdengan perempuan asing negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Silaki-laki Indonesia lupa isteri di kampung. Di akhir ceritamereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja.

Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidakmenyatakan sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu.Akan ke mana hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakahakan sampai pada hubungan pernikahan atau perzinaan, kaburadanya.

Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencurihak orang lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itusecara tidak sah. Pezina melakukan intervensi terhadap ruangprivat alat kelamin yang dizinai. Dia tak punya hak untuk itu.Yang dizinai bersekongkol dengan yang melakukan penetrasi, diajuga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampokpenggunaan alat kelamin orang yang diperkosa. Penggunaan alatkelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suciadanya. 

Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembagapernikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yangtokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalahrombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Merekamaling tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling,karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi merekaglorifikasi, dan penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandisdan penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi,berkomplot dengan maling.

Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra,tapi juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dandirektori semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung taklangsung menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama dan alamattempat berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknyadengan cara membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan.

Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagaimasalah wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysiapengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria,maka di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritasperempuan. Beberapa di antaranya mungkin memang nymphomania atau gilasyahwat, hingga ada kritikus sastra sampai hati menyebutnya“vagina yang haus sperma”. Mestinya ini sudah menjadikasus psikiatri yang baik disigi, tentang kemungkinannya jadiepidemi, dan harus dikasihani.

Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa danSulawesi Selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan,Sultanah atau Ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji,maka di abad 21 ini sejumlah perempuan Indonesia mencari danmemburu tepuk tangan kelompok permissif dan addiktif sebagaipenulis sastra selangkang, yang aromanya jauh dari wangi,menyiarkan bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi merekaparfum sehari-hari.Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa WritingProgram, Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnyagelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arusriaknya sampai ke Indonesia. Kaum feminis Amerika waktu itusedang gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan,terutama liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran,majalah, buku dan televisi. 

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelaminorang lain itu di layar kaca, yang cengengesan danmringas-mringis seperti Gloria Steinem dan semacamnya, banyakorang mual dan jijik karenanya. Mereka tidak peduli terhadapepidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang meruyak menyebar seanteroAmerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupunperempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablasitu.

Di setasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-lakikorban HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah sayamelihat kerangka manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemaksekurus dia itu. Sinar matanya kosong, suaranya parau.

Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalanganseniman di tahun 1970-an, tulis seorang esais, bagaikan kematiandi medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di New York,anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karenakejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu.Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpabangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri.Saya sangat heran. Sungguh memuakkan.

Kalimat bersayap mereka adalah, “This is my body.I’ll do whatever I like with my body.” “Initubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan tubuhkuini.” Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka ituciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kreditmencicil dari Tuhan, cuma satu tingkat di atas sepeda motorJepang dan Cina yang diobral di iklan koran-koran.

Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjurmasyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhandilibatkan dalam urusan. Percuma bicara tentang moral denganmereka. Dengan ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya.Situasi kita kini merupakan riak-riak gelombang dari jauh itu,dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan semangatdan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang selalumeniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu.PenutupCiri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalahbudaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syarafpusat dan rohani mereka, dan tak adanya lagi penghormatanterhadap hak penggunaan kelamin orang lain yangdisabet-dicopet-dikorupsi dengan entengnya. Tanpa memiliki hakpenggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya Gerakan SyahwatMerdeka adalah maling dan garong genitalia, berserikat denganalkohol, nikotin dan narkoba, menjadi perantara kejahatan,mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan aborsi, bersuluh bulan danmatahari.***IPB, 9 Januari 2007

Sampai segitunyakah kita

Wednesday, January 10th, 2007

Ketika itu saya sedang tenang2 saja mengetik kemudian ada temen lama saya men-buzz dan mengajak teman yang lain berbicara. Seperti biasa pembukaan forum diisi sekedar obrolan ngalor ngidul sehingga kadang2 kita mentertawakan diri sendiri tentang apa yang kita kerjakan. Tapi meskipun kita bercanda sampai tertawa, di forum tersebut secara implisit kita tidak boleh memperolok-olok agama karena khawatir kalau itu akan menjadi kebiasaan yang akibatnya kita tidak kuat menanggung akibatnya.
Sekedar ngobrol pun akhirnya selesai dan temannya temenku mengajakku untuk berketik langsung lewat chatting. Sesudah sedikit perkenalan mulailah masuk ke pembicaraan serius sehingga kita agak memasuki daerah perdebatan dalam agama, yang saya terperangah adalah teman baru ini langsung menghakimi saya bahwa saya ini fundamental, kemudian saya bertanya mengapa kok bisa bilang saya fundamental. Karena kita tidak sependapat dalam beberapa hal, saya terperangah dan bertanya kok bisa begitu apa alasannya. Alasannya ternyata hanya itu, titik.
Saya khawatir kejadian yang sama pernah terjadi pada teman2 yang lain, yang pernah dicap sebagai fundamental, padahal yang lebih tegas dan tinggi dari saya lebih sangat banyak apakah mereka disebut raja fundamental atau super fundamental.
Apakah kita dengan alasan tidak setuju atau lebih tegas kemudian mencap yang lain fundamental dan anehnya di sisi lain kita menjunjung pluralisme atau toleransi terhadap agama lain tapi itu tidak berlaku dengan agama sendiri. Saya melihat itu karena kita sudah "sebegitunya" dipengaruhi oleh cap fundamentalis yang dibuat oleh media padahal arti kata sebenarnya fundamental itu adalah yang benar atau berpegang tegang pada akar. Aneh memang kita menjunjung pluralisme tapi menuduh orang lain fundamental:)

Tak terasa hampir 12 tahun (renungan jam 4.52)

Friday, January 5th, 2007

Saya ingat ketika itu saya mau sekolah SMA di Bandung, paling tidak masuk ke SMA 5 ato 3 :) Pilihan pertama sih dulu pengen SMA di Tasikmalaya, tapi tidak diperbolehkan dengan alasan supaya mandiri. Memang pada saat itu saya sangat tidak bisa yang namanya menginap di rumah saudara. Ingin selalu cepat pulang atau minimal bareng orang tua menginapnya. Dan akhirnya pilihan untuk sekolah jatuh pada SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta atau lebih dikenal dengan nama Muhi.
Ternyata di SMA ada ospek tokh, ini baru pertama kali saya rasakan. Kebetulan saya pada saat itu sedang dalam masa penyembuhan jadi masuknya ke tim penyakitan:) bayangkan selama 6 bulan tidak boleh beraktifitas yang membuat diri kecapekan termasuk olahraga. Selama tiga bulan pertama saya selalu menangis di kamar tidur, tentunya menangisnya malam2 karena siang hari tidak ada waktu untuk menangis:)
Tak terasa sekarang sudah 12 tahun saya tinggal tidak bareng orang tua, banyak hikmah yang baru saya rasakan akhir2 ini. Coba bayangkan bila saya tidak disuruh dari SMA bagaimana kalau saya kuliah yang tinggal di Jakarta eh Depok tepatnya:) yang katanya Ibu Kota lebih kejam daripada ibu tiri. Dan sekarang Alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk bersekolah di negerinya Mercy, BMW, Porsche, dan Audi.
Terbayang ketika saya mendapatkan masalah yang cukup pelik di sini, keinginan yang menggebu untuk pulang dan rasa putus asa sudah didepan mata. Tapi untungnya keluarga dan teman2 disini membantu saya untuk bangkit lagi, terima kasih saya ucapkan untuk teman2 disini. Dan terima kasih yang sebesarnya kepada kedua orang tua saya yang memaksa saya untuk sekolah di luar Tasikmalaya dan mendukung saya untuk selalu berkembang. Tanpa kalian semua saya bukan apa-apa.
Ananda,
SAdr LM