Free Wine, Girls, and Gempa

Assalamu’alaikum wr wb

wah udah lama ga ngisi blog nih. Memang yogya itu kota yang penuh kenangan, apalagi kenangan pada saat SMU. dari ketika aku nangis terus selama 3 bulan sampe akhirnya aku menuju kedewasaan dan merasakan nikmatnya angin berhembus di sela2 ketika berkendara. Setelah pasca gempa ini, aku sempat juga jalan2 kembali untuk sekedar menikmati kenikmatan Allah yang berupa hembusan angin. Segar tetapinya sayangnya kurang sehat, karena di Yogya sudah terlalu banyak polusi terutama asap. Kalau saya hitung di lampu merah yang tidak begitu ramai, setiap lampu hijau kira2 30 motor berlalu lalang dalam arah yang sama. Bisa dibayangkan jika itu ada 4 arah dan jam padat biasanya antara jam 8 sampe 16. Berapa banyak motor yang ada. ckckckckck

Kulewati jalan dari kaliurang menuju Ahmad Dahlan, begitu banyak cafe bermunculan disana-sini. Malahan kadang2 ada yang menawarkan free wine, atau free entry ticket for ladies, atau kadang2 dua2nya sekaligus. Sempet hati ini bertanya kepada orang yang bergerak di bidang marketing bar n diskotek. Apa ga rugi tuh nawarin free untuk ladies? Mereka bilang ga rugi, malahan mereka akan mendapat untung yang besar karena jadi banyak laki2 yang datang pada hari itu, sedangkan laki2 harus bayar. Laki2 yang datang akan berharap menemukan banyak ladies disitu. Hmmm ide marketing yang bagus. Tapi kenapa komnas perempuan tidak pernah memprotes ini, padahal ini sudah sangat jelas, ladies hanya dijadikan sebagai objek. Apakah karena menurut mereka hal ini sangat wajar? ataukah mereka memang menyukai hal2 begini? ataukah mereka tidak mengetahui hal ini? tapi alasan terakhir terlalu mustahil, karena mereka bisa mengetahui ketika ada seorang wanita memakai jilbab dengan cadar melaksanakan poligami di ujung desa yang saya sendiri tidak tahu ada desa itu di Jawa Barat, tetapi mereka bisa mengetahui, lengkap beserta data penduduknya. Hebat banget dah informannya, sayangnya terlalu dipaksakan mencari kesalahan orang.

Kuberjalan lagi dengan menumpang mobil bos MPM :) Arif, untuk keliling daerah gempa. Hmmm keadaan yang berbeda sekali. Rumah-rumah habis rata, sekolah hancur luluh, sungguh kehidupan yang berbeda. Tetapi untunglah semenjak gempa, mesjid menjadi kembali penuh, mereka seakan tersadar bahwa umur adalah rahasia Allah. Kami bersujud pada-Mu ya Allah.

wass wr wb,
Sadr LM,8 Oct 2006,5.40,yogyakarta

Leave a Reply