Archive for July, 2006

Turkish Wedding

Sunday, July 16th, 2006

Hello Sadr, where r u? We’re waiting for you. Will you come to our
friend’s wedding? suara temanku ditelpon, Tussupov mengajakku untuk
menghadiri undangan pernikahan temannya yang orang Turki. Wah, lupa
aku, kalau sekarang ada undangan, pikirku, Ok, I will go to Karlsruhe
right now, please find a suitable cloth for me. Saat itu juga aku
meninggalkan rumah pa Hasan, padahal aku sudah lama tidak mengunjungi
beliau sejak beliau dioperasi kakinya. Karena tergesa-gesanya aku sampe
melupakan aksesoris telepon genggamku.
Vaihingen(Enz) menuju Karlsruhe, 47 menit, sampai sana kira-kira jam 18
kurang. Masih cukup waktu, pikirku. Dijalan aku tertidur, karena dari
pagi aku sudah harus beraktifas. Hari Sabtu selalu dimulai dengan
membereskan rumah, membeli stok selama satu minggu, dan mengerjakan
piket rumah.
Sampai juga di Karlsruhe, telepon berdering, 2 buah sms masuk. Satu
dari temanku Tatang, satu lagi dari Tsupinov, isinya tentang tempat
dimana aku bisa menginap gratis. We wait you at Baumstrasse
Haltestelle, begitu pesan dari Tsupinov, seorang Kazakh yang baru
berumur 22 tahun. Aku mencari Tram no. 3 jurusan Heide, wah mahal amat
yah, 2 euro, kataku dalam hati, coba ah jalan kaki sekaligus
lihat-lihat kota. Ternyata cukup mudah menemukan Haltestelle, Tsupinov
sudah menungguku disana. Wow, naek apa dari Hauptbahnhof, jalan kaki,
tanyanya. Yap, sekalian jalan-jalan liat kota, jawabku. Ayo kita masuk,
ajaknya. Tapi aku tidak pakai pakaian resmi nih, masa cuman kaos
begini, ga enak sama pengantinnya, kamu punya baju yang agak bagus,
kataku. Gampanglah, pokoknya yang penting datang dulu, timpalnya.
Di jalan aku bertemu banyak sekali orang Turki, aku dikenalkan hampir
kepada setiap orang Turki yang berpaspasan dijalan. Ada satu pertanyaan
yang selalu ditanya, Anda Muslim, kujawab, Ya, Alhamdulillah. Mereka
menimpali dengan berkata hamdalah juga. Mereka mengira aku adalah orang
Kazakh seperti Tussupov dan Zupinov, karena bentuk mukanya hampir sama
tetapi mereka lebih pucat kulitnya.
Imgp0973_1

Sampai juga aku di pernikahan orang Turki. Pertama kali masuk tempat
pernikahan, tempat antara pria dan wanitanya dipisah oleh sekat. Tetapi
untuk masuk ke tempat wanita, mereka harus melewati pintu masuk yang
kebetulan cuman satu yaitu berada di dekat tempat pria. Ini juga
memudahkan untuk memanggilkan saudaranya ketika yang wanita mau pulang
dari acara.
Temanku orang Turki, Akhmet dan Hasan, menceritakan tentang budaya
mereka untuk menikah. Bila yang wanita memakai jilbab dapat dipastikan
100% mereka tidak mengenal konsep pacaran ataupun berdua-duaan, tetapi
kalau tidak memakai jilbab biasanya bisa berpacaran terlebih dahulu.
Hmmm,gumamku dalam hati. Jadi dijamin kalau yang pakai jilbab, insya
Allah masih bersih, kata mereka. Bila seseorang berminat untuk
menikahinya, maka pihak lelaki langsung mendatangi pihak wanita, disitu
keluarga pihak wanita menginterogasi dari A sampe Z. Setelah itu baru
kedua belah pihak keluarga berkomunikasi.
Yang lucunya lagi, pas waktu pernikahan itu ada permainan untuk anak
kecil dan orang tua. Permainan sama, yaitu berebut kursi, seperti yang
pernah aku lakukan waktu pesta ulang tahun di taman kanak-kanak,
ditambah dengan operet sabun. Tsupinov bilang ini merupakan ciri khas
dari pernikahan orang Turki, selain pengumuman sumbangan buat pengantin.
Pada terakhir acara, para tamu berdiri untuk memberikan hadiah untuk
kedua mempelai. Setiap hadiah akan diumumkan apa hadiahnya, dan bila
berupa perhiasan, maka perhiasannya itu langsung dipakai oleh
pengantin. Bila uang maka dihitung jumlahnya berapa.
Akhirnya acara pun selesai, setelah waktu Ashar hampir habis. Kita pun pulang dan menginap di rumah Zupinov.