Kita bukan kacung

assalamualaikum wr. wb.

tulisan pas dari MP Akmal ttg bangsa kita saat
ini…

wassalamualaikum wr. wb.

——-

assalaamuâ?Talaikum
wr. wb.

Hidup sebagai kacung adalah sebuah tragedi besar. 
Seorang kacung
tidak paham apa pun kecuali apa yang dijejalkan ke dalam
otaknya oleh
orang yang dengan sukarela ia jadikan majikan.  Ia tidak menelan
apa
pun kecuali apa yang disuapkan ke dalam mulutnya, dan lambungnya
akan
mencerna apa pun yang diberikan padanya.

Di jaman
modern seperti ini, ada saja manusia yang dengan senang hati
menjadikan
dirinya sebagai kacung.  Bukan hanya orang kampung yang
tinggal di daerah
terpencil dan tidak makan bangku sekolah saja yang
gampang dibohongi, namun
juga mereka yang sudah memiliki titel
sarjana, kerja kantoran, dan mengenakan
dasi setiap harinya.  Mereka
sendirilah yang telah menobatkan diri sebagai
kacung.  Allah SWT telah
memuliakannya lebih tinggi daripada alam semesta
ciptaan-Nya dan
malaikat-malaikat yang selalu setia pada titah-Nya, tapi
justru
dirinya sendirilah yang memilih untuk merendahkan diri sedemikian
rupa.

Kacung ada di mana-mana.  Ada gadis-gadis muda yang konon
sudah tidak
lagi merasa memiliki derajat lebih rendah daripada laki-laki,
namun
berteriak-teriak histeris sampai pingsan ketika artis pujaan
hatinya
melenggang menuju panggung.  Ada santri yang sudah puluhan kali
khatam
Qurâ?Tan dan ribuan kali memperbarui ikrarnya untuk hanya loyal
pada
perintah Allah, namun fatwa kyai idolanya dianggap lebih
canggih
daripada Kitab Suci.  Ada juga mahasiswa-mahasiswa muda yang siap
mati
demi perjuangan yang tidak jelas juntrungannya.

Sekarang
ini, yang dipertuhankan manusia bukan hanya Allah.
â?~Tuhan-tuhanâ?T itu ada
dimana-mana.  Ada yang mempertuhankan
kesenangan pribadi, sehingga segalanya
halal asalkan memuaskan.  Apa
bedanya istri yang sah dan setia menunggu di
rumah dengan seorang
pelacur yang bisa dibayar untuk kesenangan beberapa
jam?  Tidak ada
yang tahu bagaimana seorang hedonis berpikir, karena mereka
memang
sudah tidak lagi berpikir.

Ada juga yang
mempertuhankan demokrasi.  Segalanya sah asalkan rakyat
menerimanya dengan
suara bulat.  Kalau tidak bulat, mayoritas pun
bolehlah.  Maka minuman keras
di tengah masyarakat pemabuk sah-sah
saja.  Pelacuran di kawasan lokalisasi
adalah wajar.  Rokok pun
menjadi halal-halal saja, karena para â?~ulamaâ?T
banyak yang
menginvestasikan dana dalam industri tersebut.  Suara rakyat
adalah
suara Tuhan!  Begitulah kata Akbar Tanjung dalam sebuah acara
talkshow
di GWW IPB, tahun 1999 silam.  Tapi bukankah Tuhan punya hak
penuh
untuk tidak setuju?

Ada yang mempertuhankan
organisasinya sendiri.  Apa pun yang dikatakan
oleh para petinggi, maka itu
harus dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Apalagi kalau organisasi itu
memakai â?~atributâ?T keislaman, maka
fatwanya bisa dianggap sama dengan
wahyu Allah sendiri.  Bukan main!

Yang paling menakjubkan
tentunya ketika manusia pun dianggap sama
seperti Tuhan.  Seorang raja dengan
congkaknya membiarkan hidup
seorang manusia dan menghukum mati seorang yang
lain, lalu berkata
dengan yakin di hadapan Nabi Ibrahim as. : â?oAku bisa
menghidupkan
dan mematikan seperti Tuhan!â?  Dengan cerdiknya Sang Nabi
berseru,
â?oSesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur,
maka
terbitkanlah dia dari barat!â?  Maka selesailah sudah
perdebatan
tersebut.

Percaya atau tidak, di jaman yang
(katanya) serba maju ini, masih juga
banyak manusia yang berpikir dengan pola
feodalisme, serba menurut
begitu saja pada para idola.  Apa pun yang
dilakukan oleh sang idola
dibenarkannya dengan sepenuh hati.  Jika idolanya
berkata bahwa aurat
bebas dibuka sesuai keinginan sang pemilik tubuh (padahal
tubuh ini
hanyalah milik Allah), maka ia pun akan menurut dengan patuhnya. 
Jika
idolanya beranggapan bahwa â?oassalaamuâ?Talaikumâ? bisa
disubstitusi
saja dengan â?oselamat pagi, siang dan soreâ?, maka para kacung
pun
membenarkannya.  Jika sang idola yang sudah sekolah keluar
negeri
berfatwa bahwa ayat ini bisa dipakai dan ayat itu sudah usang,
maka
kacungwan dan kacungwati pun menyerah tanpa syarat.  Jika ada
yang
mengkritik sang pujaan, maka para kacung pun berbaris
rapat,
mengangkat senjata, menebar ancaman, bahkan kemudian
berpekik
â?oAllaahu akbar!!!â?, padahal Allah sudah jarang sekali ada di
hatinya.

Suatu ketika, almarhum Rahmat Abdullah pernah bercerita
di hadapan
banyak orang di sebuah gedung olah raga di Bandung mengenai
sebuah
pengalamannya menjadi anggota DPR.  Pada suatu hari, rapat
berlangsung
ketat dan makan waktu lama hingga adzan Ashar pun berkumandang.

Dengan santainya sang Ustadz meminta waktu untuk shalat. 
Dalam
perjalanan menuju tempat shalat, seorang â?~ulamaâ?T lain yang
berasal
dari sebuah partai Islam menyalaminya dengan kagum atas
keberaniannya
meminta waktu istirahat untuk melaksanakan shalat.  Ternyata,
selama
ini jarang sekali ada yang minta rapat ditunda untuk shalat sejenak.

Duhai, betapa wakil rakyat yang Muslim pun sudah menjadi kacung
bagi
aturan-aturan anti-Islam.  Sudah berapa lamakah hal ini
terjadi?

Kita boleh saja mengagumi seseorang, menjadikannya
sebagai guru,
menjadikannya teladan, dan memintanya secara khusus untuk
mengajari
kita.  Kita juga boleh aktif terlibat dalam sebuah organisasi,
baik
berupa ormas, LSM, OSIS, DKM, Karang Taruna, atau partai politik.

Tapi kita harus selalu ingat bahwa manusia diciptakan bukanlah
untuk
menjadi hamba yang lain.  Hanya satu yang harus kita jadikan
majikan,
dan tidak boleh tidak.  Kita adalah hamba-Nya, bukan kacung orang
lain.

Anda tidak bisa menjadi Muslim jika masih berpikir seperti
kacung.

wassalaamuâ?Talaikum wr. wb.

2 Responses to “Kita bukan kacung”

  1. Qonita Says:

    tapi kalo ada orang yg berusaha membebaskan dirinya dari kungkungan orang2 yg minta dijadikan idola, kenapa malah diprotes?
    misalnya ada yg mau menafsirkan quran dengan pemahamannya sendiri, eh kacungnya ulama anu marah2 “harusnya ikutin cara ulama itu dong..” hmmm…

  2. Aa SAdr Says:

    Bukannya membebaskan diri dari kungkungan kalau tidak disertai dengan ilmu pengetahuan. Tetapi merusak diri sendiri dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Penafsiran Quran semaunya sendiri tanpa ilmu yang mumpuni adalah salah, seperti ketika ada orang menyatakan bahwa teori Einstein salah tetapi dia tidak tahu metodenya dan langsung menyebarkannya ke masyarakat luas. Tentunya yang ini harus dipermasalahkan, karena menyebarkan fitnah ke masyarakat.
    Soalnya saya melihat orang yang menafsirkan Quran dengan seenaknya sendiri, mereka ketika diajak debat ‘keukeuh’ dengan pendapatnya sendiri tanpa mencari solusi bersama, bukankah kita diajarkan untuk bermusyawarah.

Leave a Reply