Jam tangan
Jam itu adalah pemberian orang tuaku ketika aku akan berangkat ke jakarta. Jam yang akan mengingatkanku tentang waktu, waktu yang akan selalu berlari. Kulihat jam baruku, modelnya memang elegan tetapi agak kuno, disertai angka yang cukup besar. Tidak sesuai seleraku dalam hati. Perkataan hatiku yang kusesali seumur hidup. Jam itu selalu kupakai dalam segala hal, untuk ujian, menepati janji, dan tentunya untuk mengetahui waktu. Jam itu tidak pernah kurawat, tampilan kacanya sudah bergaret-garet, talinya sudah mau putus. Aku berpikir, biarlah jam ini rusak, biar ada alasan untuk mengganti yang baru.
Apa yang kudapat, hari itu aku akan berangkat ke salemba, kupasang jam ku disertai dengan mengaca dan merapikan rambut. Siap jalan, tas n baju baru disertai dengan sedikit ego atau lebih bisa disebut sedikit sombong, aku berangkat ke salemba dengan kereta listrik (KRL). KRL yang penuh sesak, kadang-kadang kakiku tidak bisa menapak ketika KRL terlalu penuh. Ah dapat tempat duduk rupanya, wuih tumben aku dapat tempat duduk. KRL berhenti di pasar minggu, banyak penumpang turun untuk berganti dengan bus. Kulihat jamku, hmmm masih ada waktu, kataku.
Kulihat seorang ibu yang cukup umur ada di depanku, sebagai lelaki sejati tentunya aku memberikan tempat dudukku kepada ibu tersebut. Silahkan bu, kataku, terima kasih mas, jawab ibu tersebut.
Karcis, karcis, petugas berteriak ke penumpang. Kulihat jam ku lagi, keren. Bu, karcisnya, petugas itu berkata ke ibunya, si ibu mengasih uang seribuan ke petugas…..