Degupan yang keras
Dadaku berdegap keras sekali malam ini, apakah ini karena sudah malam dan kecapean, atau karena makan terlalu banyak, ataukah rindu yang sudah tak tertahankan. Memang semuanya sudah terlanjur berjalan, kita semua tidak menyangka ini akan terjadi ketika semuanya terasa sudah pasti. Degupan jantung semakin keras, aku sudah berusaha menyibukkan diri dengan segala macam tugas, pekerjaan, dan bermain. Tapi tetap selalu terasa ada rasa hampa yang menghinggapi diri ini. Rasa hampa yang selalu muncul ketika kusendiri.
Pilihan sudah ditetapkan, apapun yang terjadi adalah yang terbaik yang harus ditempuh. Kalau nasi sudah jadi bubur, jadikanlah dia bubur ayam yang lezat, kata aa gym. Benar juga sih, untuk apa aku menyesal atas keputusan yang telah aku buat. Insya Allah semuanya akan menjadi lebih baik ketika semuanya sudah menjadi jelas.
Degupan sudah mulai berhenti, rasa lemas sekarang mendatang. Memang menjadi dewasa itu sangat sulit, akan selalu ada persimpangan-persimpangan lain yang akan terjadi. Apakah persimpangan itu? Apakah persimpangan yang akan mendorong manusia menjadi lebih dewasa dan bijaksana, ataukah persimpangan yang bisa membuat manusia menjadi lupa untuk apa dia melakukan ini semua.
Tepat disinilah aku sekarang berada. Entah persimpangan yang keberapa yang kualami ataukah ini persimpangan pertama bagiku? Ah sudahlah, memang kadang-kadang kelemahan orang lain lebih terlihat jelas daripada kelemahan diri sendiri. Termenung dan termenung, semoga tidak menjadi tercengang.
Yah sudahlah, pasti ini jalan yang terbaik, aku hanya menyerahkan diri ini pada-Mu. Maafkanlah aku dan dosaku, dosa pada-Mu, dosa pada orang tuaku, keluargaku, kekasihku, guruku, dan temanku.