Archive for June, 2006

Aku menjadi muslim ketika…

Friday, June 30th, 2006
Aku sering lihat orang pakai baju muslim ketika dia
menjadi seorang koruptor, seorang pencuri, seorang yang akan bercerai, seorang
yang sedang ribut dengan keluarga, seorang yang membunuh anaknya, seorang
pemerkosa. Aku sering melihat orang memakai jilbab ketika dia sedang bercerai,
ketika dia mencap mempunyai anak dari hubungan haram, ketika orang rebutan
warisan, ketika harta sedang dipersengketakan, ketika dia menjadi penyalur
narkotik.
Apakah ini wajah muslim kita di televisi, muslim
yang hanya menggunakan embel-embel takwa ketika ingin merebut hati pemirsa,
ketika ketakwaan diperlukan untuk menutupi kesalahan. Ketika orang berkata, ah
dia pakai gitu pas ramadan ato pas perlu, dan ketika orang berkata dia memakai
gitu sebagai kamuflase bahwa dia adalah seorang pelacur (tragis)
ya Allah, apakah karena ini azab- Mu turun, apakah
kita sudah menjadi muslim yang fasik, yang derajatnya lebih hina daripada
seorang kafir.
Tetapi ketika kuberpaling pada teman-temanku.
Alhamdulillah semuanya tidak sejelek itu. Tapi bagaimana dengan yang tidak
mempunyai teman-teman seperti temanku?

Prasangka

Friday, June 30th, 2006

Kadang-kadang kejadian terjadi tidak seperti yang kita inginkan, bukan kadang-kadang, tetapi sering. Kok bisa semua terjadi, kok bisa sampai begini. Hati pun jadi bertanya-tanya. Tapi ada yang kita lupa, apa yang kita inginkan adalah dari persepsi kita, persepsi yang melihat hanya dari satu sisi. Persepsi yang kadang-kadang sudah tidak murni, ditumpangi dengan nafsu, ego, dan kesempatan.
Menyalahkan sesuatu memang enak sekali, karena dengan menyalahkan itu diri kita tidak kehilangan muka alias ego masih menjadi nomer satu. Cobalah fikir semua yang terjadi pada kita, pasti ada akarnya, dan akarnya mengenai kita. Meskipun antara kejadian yang satu dengan yang lain kelihatannnya tidak berhubungan.
Aku baru belajar ketika kesalahan tersebut sudah terjadi dan tak dapat direka ulang. Kadang-kadang dengan alasan yang salah bukan diriku, aku masih berkukuh. Ketika aku jatuh cinta, aku sepertinya melupakan cintaku kepada-Nya. Cinta yang selalu harus ada, tidak boleh pernah hilang, karena cinta-Nya adalah abadi. Bukankah tidak enak sekali jika cinta bertapuk sebelah tangan. Ketika aku gagal dari ujian, kusalahkan takdir yang tak mendukungku, padahal aku tidak melakukan yang seharunya aku lakukan, belajar dan mengerti.
Sekali lagi aku tersungkur, pikiran nafsu menguasai diriku, maafkan hamba. Hamba selalu lupa kepada-Mu. Mohon beri petunjuk-Mu, ya Allah, Raja dari segala raja, Raja kerajaan yang abadi.

Musim panas yang indah

Tuesday, June 27th, 2006

Hari ini adalah hari Sabtu, hari dimana orang-orang datang untuk berbelanja, dan hari yang panas sekali. Seperti kebiasaan orang Barat lainnya, ketika hari sedang panas mereka menggunakan baju yang ala kadarnya, alasan mereka sepele, ingin kulitnya menjadi coklat, eksotis katanya. Hmmm berkebalikan dengan bangsa kita yang ingin kulitnya putih.

Ketika aku melewati komplek pertokoan, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Hmmm, boleh juga,kataku. Kupandangi lagi dan kuperhatikan, dadanya montok, pahanya tak berbulu, hmmm lumayan. Dianya terdiam ketika kumelihat. Aku semakin tak tahan untuk memiliki.

Akhirnya aku memberanikan diri bertanya, pak beli ayamnya satu dong, yang bulunya sudah dibersihkan. Terima kasih.

Hmmm musim panas yang indah ditemani oleh ayam goreng yang lezat. Alhamdulillah.

Kita bukan kacung

Monday, June 26th, 2006

assalamualaikum wr. wb.

tulisan pas dari MP Akmal ttg bangsa kita saat
ini…

wassalamualaikum wr. wb.

——-

assalaamuâ?Talaikum
wr. wb.

Hidup sebagai kacung adalah sebuah tragedi besar. 
Seorang kacung
tidak paham apa pun kecuali apa yang dijejalkan ke dalam
otaknya oleh
orang yang dengan sukarela ia jadikan majikan.  Ia tidak menelan
apa
pun kecuali apa yang disuapkan ke dalam mulutnya, dan lambungnya
akan
mencerna apa pun yang diberikan padanya.

Di jaman
modern seperti ini, ada saja manusia yang dengan senang hati
menjadikan
dirinya sebagai kacung.  Bukan hanya orang kampung yang
tinggal di daerah
terpencil dan tidak makan bangku sekolah saja yang
gampang dibohongi, namun
juga mereka yang sudah memiliki titel
sarjana, kerja kantoran, dan mengenakan
dasi setiap harinya.  Mereka
sendirilah yang telah menobatkan diri sebagai
kacung.  Allah SWT telah
memuliakannya lebih tinggi daripada alam semesta
ciptaan-Nya dan
malaikat-malaikat yang selalu setia pada titah-Nya, tapi
justru
dirinya sendirilah yang memilih untuk merendahkan diri sedemikian
rupa.

Kacung ada di mana-mana.  Ada gadis-gadis muda yang konon
sudah tidak
lagi merasa memiliki derajat lebih rendah daripada laki-laki,
namun
berteriak-teriak histeris sampai pingsan ketika artis pujaan
hatinya
melenggang menuju panggung.  Ada santri yang sudah puluhan kali
khatam
Qurâ?Tan dan ribuan kali memperbarui ikrarnya untuk hanya loyal
pada
perintah Allah, namun fatwa kyai idolanya dianggap lebih
canggih
daripada Kitab Suci.  Ada juga mahasiswa-mahasiswa muda yang siap
mati
demi perjuangan yang tidak jelas juntrungannya.

Sekarang
ini, yang dipertuhankan manusia bukan hanya Allah.
â?~Tuhan-tuhanâ?T itu ada
dimana-mana.  Ada yang mempertuhankan
kesenangan pribadi, sehingga segalanya
halal asalkan memuaskan.  Apa
bedanya istri yang sah dan setia menunggu di
rumah dengan seorang
pelacur yang bisa dibayar untuk kesenangan beberapa
jam?  Tidak ada
yang tahu bagaimana seorang hedonis berpikir, karena mereka
memang
sudah tidak lagi berpikir.

Ada juga yang
mempertuhankan demokrasi.  Segalanya sah asalkan rakyat
menerimanya dengan
suara bulat.  Kalau tidak bulat, mayoritas pun
bolehlah.  Maka minuman keras
di tengah masyarakat pemabuk sah-sah
saja.  Pelacuran di kawasan lokalisasi
adalah wajar.  Rokok pun
menjadi halal-halal saja, karena para â?~ulamaâ?T
banyak yang
menginvestasikan dana dalam industri tersebut.  Suara rakyat
adalah
suara Tuhan!  Begitulah kata Akbar Tanjung dalam sebuah acara
talkshow
di GWW IPB, tahun 1999 silam.  Tapi bukankah Tuhan punya hak
penuh
untuk tidak setuju?

Ada yang mempertuhankan
organisasinya sendiri.  Apa pun yang dikatakan
oleh para petinggi, maka itu
harus dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Apalagi kalau organisasi itu
memakai â?~atributâ?T keislaman, maka
fatwanya bisa dianggap sama dengan
wahyu Allah sendiri.  Bukan main!

Yang paling menakjubkan
tentunya ketika manusia pun dianggap sama
seperti Tuhan.  Seorang raja dengan
congkaknya membiarkan hidup
seorang manusia dan menghukum mati seorang yang
lain, lalu berkata
dengan yakin di hadapan Nabi Ibrahim as. : â?oAku bisa
menghidupkan
dan mematikan seperti Tuhan!â?  Dengan cerdiknya Sang Nabi
berseru,
â?oSesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur,
maka
terbitkanlah dia dari barat!â?  Maka selesailah sudah
perdebatan
tersebut.

Percaya atau tidak, di jaman yang
(katanya) serba maju ini, masih juga
banyak manusia yang berpikir dengan pola
feodalisme, serba menurut
begitu saja pada para idola.  Apa pun yang
dilakukan oleh sang idola
dibenarkannya dengan sepenuh hati.  Jika idolanya
berkata bahwa aurat
bebas dibuka sesuai keinginan sang pemilik tubuh (padahal
tubuh ini
hanyalah milik Allah), maka ia pun akan menurut dengan patuhnya. 
Jika
idolanya beranggapan bahwa â?oassalaamuâ?Talaikumâ? bisa
disubstitusi
saja dengan â?oselamat pagi, siang dan soreâ?, maka para kacung
pun
membenarkannya.  Jika sang idola yang sudah sekolah keluar
negeri
berfatwa bahwa ayat ini bisa dipakai dan ayat itu sudah usang,
maka
kacungwan dan kacungwati pun menyerah tanpa syarat.  Jika ada
yang
mengkritik sang pujaan, maka para kacung pun berbaris
rapat,
mengangkat senjata, menebar ancaman, bahkan kemudian
berpekik
â?oAllaahu akbar!!!â?, padahal Allah sudah jarang sekali ada di
hatinya.

Suatu ketika, almarhum Rahmat Abdullah pernah bercerita
di hadapan
banyak orang di sebuah gedung olah raga di Bandung mengenai
sebuah
pengalamannya menjadi anggota DPR.  Pada suatu hari, rapat
berlangsung
ketat dan makan waktu lama hingga adzan Ashar pun berkumandang.

Dengan santainya sang Ustadz meminta waktu untuk shalat. 
Dalam
perjalanan menuju tempat shalat, seorang â?~ulamaâ?T lain yang
berasal
dari sebuah partai Islam menyalaminya dengan kagum atas
keberaniannya
meminta waktu istirahat untuk melaksanakan shalat.  Ternyata,
selama
ini jarang sekali ada yang minta rapat ditunda untuk shalat sejenak.

Duhai, betapa wakil rakyat yang Muslim pun sudah menjadi kacung
bagi
aturan-aturan anti-Islam.  Sudah berapa lamakah hal ini
terjadi?

Kita boleh saja mengagumi seseorang, menjadikannya
sebagai guru,
menjadikannya teladan, dan memintanya secara khusus untuk
mengajari
kita.  Kita juga boleh aktif terlibat dalam sebuah organisasi,
baik
berupa ormas, LSM, OSIS, DKM, Karang Taruna, atau partai politik.

Tapi kita harus selalu ingat bahwa manusia diciptakan bukanlah
untuk
menjadi hamba yang lain.  Hanya satu yang harus kita jadikan
majikan,
dan tidak boleh tidak.  Kita adalah hamba-Nya, bukan kacung orang
lain.

Anda tidak bisa menjadi Muslim jika masih berpikir seperti
kacung.

wassalaamuâ?Talaikum wr. wb.

Jam tangan

Thursday, June 15th, 2006

Jam itu adalah pemberian orang tuaku ketika aku akan berangkat ke jakarta. Jam yang akan mengingatkanku tentang waktu, waktu yang akan selalu berlari. Kulihat jam baruku, modelnya memang elegan tetapi agak kuno, disertai angka yang cukup besar. Tidak sesuai seleraku dalam hati. Perkataan hatiku yang kusesali seumur hidup. Jam itu selalu kupakai dalam segala hal, untuk ujian, menepati janji, dan tentunya untuk mengetahui waktu. Jam itu tidak pernah kurawat, tampilan kacanya sudah bergaret-garet, talinya sudah mau putus. Aku berpikir, biarlah jam ini rusak, biar ada alasan untuk mengganti yang baru.
Apa yang kudapat, hari itu aku akan berangkat ke salemba, kupasang jam ku disertai dengan mengaca dan merapikan rambut. Siap jalan, tas n baju baru disertai dengan sedikit ego atau lebih bisa disebut sedikit sombong, aku berangkat ke salemba dengan kereta listrik (KRL). KRL yang penuh sesak, kadang-kadang kakiku tidak bisa menapak ketika KRL terlalu penuh. Ah dapat tempat duduk rupanya, wuih tumben aku dapat tempat duduk. KRL berhenti di pasar minggu, banyak penumpang turun untuk berganti dengan bus. Kulihat jamku, hmmm masih ada waktu, kataku.
Kulihat seorang ibu yang cukup umur ada di depanku, sebagai lelaki sejati tentunya aku memberikan tempat dudukku kepada ibu tersebut. Silahkan bu, kataku, terima kasih mas, jawab ibu tersebut.
Karcis, karcis, petugas berteriak ke penumpang. Kulihat jam ku lagi, keren. Bu, karcisnya, petugas itu berkata ke ibunya, si ibu mengasih uang seribuan ke petugas…..

Degupan yang keras

Wednesday, June 7th, 2006

Dadaku berdegap keras sekali malam ini, apakah ini karena sudah malam dan kecapean, atau karena makan terlalu banyak, ataukah rindu yang sudah tak tertahankan. Memang semuanya sudah terlanjur berjalan, kita semua tidak menyangka ini akan terjadi ketika semuanya terasa sudah pasti. Degupan jantung semakin keras, aku sudah berusaha menyibukkan diri dengan segala macam tugas, pekerjaan, dan bermain. Tapi tetap selalu terasa ada rasa hampa yang menghinggapi diri ini. Rasa hampa yang selalu muncul ketika kusendiri.
Pilihan sudah ditetapkan, apapun yang terjadi adalah yang terbaik yang harus ditempuh. Kalau nasi sudah jadi bubur, jadikanlah dia bubur ayam yang lezat, kata aa gym. Benar juga sih, untuk apa aku menyesal atas keputusan yang telah aku buat. Insya Allah semuanya akan menjadi lebih baik ketika semuanya sudah menjadi jelas.
Degupan sudah mulai berhenti, rasa lemas sekarang mendatang. Memang menjadi dewasa itu sangat sulit, akan selalu ada persimpangan-persimpangan lain yang akan terjadi. Apakah persimpangan itu? Apakah persimpangan yang akan mendorong manusia menjadi lebih dewasa dan bijaksana, ataukah persimpangan yang bisa membuat manusia menjadi lupa untuk apa dia melakukan ini semua.
Tepat disinilah aku sekarang berada. Entah persimpangan yang keberapa yang kualami ataukah ini persimpangan pertama bagiku? Ah sudahlah, memang kadang-kadang kelemahan orang lain lebih terlihat jelas daripada kelemahan diri sendiri. Termenung dan termenung, semoga tidak menjadi tercengang.
Yah sudahlah,  pasti ini jalan yang terbaik, aku hanya menyerahkan diri ini pada-Mu. Maafkanlah aku dan dosaku, dosa pada-Mu, dosa pada orang tuaku, keluargaku, kekasihku, guruku, dan temanku.

NU dan Stigmatisasi Kaum Liberal

Monday, June 5th, 2006
 
Sein, 22 Mei 2006 - 14:01:03 WIB

Alih-alih mengalihkan perhatian orang karena produk sekularismenya tak laku
di pasaran, kalangan liberal mengeluarkan idiom dan stigma baru bernama ‘bahaya
wahabisasi’

 

Oleh:  Ainul Yaqin *)

Wacana liberalisme
Islam yang diperkenalkan ke lingkungan NU telah direspon sangat baik oleh
sebagian besar generasi mudanya. Namun, di kalangan generasi tua NU liberalisme
Islam telah dianggap sebagai penyimpangan yang harus diluruskan. Bahkan pada
muktamar NU di Boyolali yang lalu, sempat muncul usulan agar kepengurusan NU
bersama organisasi-organisasi di bawahnya dibebaskan dari pengaruh orang-orang
yang berhaluan liberal.

Walaupun penolakan ini pada praktiknya tidak
efektif untuk mencegah masuknya orang-orang liberal ke dalam kepengurusan NU dan
organisasi dibawahnya –karena kaum tua belum membuat definisi yang belum jelas
tentang liberalisme– tetapi hal ini telah cukup dirasakan sebagai ancaman bagi
masa depan gerakan liberalisme di tubuh NU.

Menyadari kenyataan tersebut,
tak pelak lagi para aktivis liberal merasa perlu membuat strategi baru yang
lebih diterima. Gus Dur –yang selama ini menjadi bemper– bagi masuknya arus
liberalisasi di NU mengkritik pernah Ulil (dalam hal ini dianggal icon gerakan
liberalisme di tubuh NU) sebagai orang yang telah terjebak dalam label yang
dibuat sendiri (www.gusdur.net).

Gus Dur ini secara implisit memberikan
catatan, bahwa untuk menawarkan ide liberalisme di lingkungan NU, harusnya tak
perlu menggunakan cara gembor-gembor karena cara-cara seperti ini malah bisa
jadi bumerang.

Stigma Wahabi

Entah karena kritik Gus Dur, atau
karena tidak punya tempat di hati banyak umat Islam –khususnya di kalangan NU–
namun yang jelas, pasca penolakan banyak pihak terhadap ide-ide liberalisme itu
kini, para pengusung paham liberal boleh dikatakan sedang "berganti haluan".
Alih-alih bersembunyi atau mengalihkan perhatian,  mereka kini melakukan teknik
baru dengan cara melakukan stigmatisasi.

Akhir-akhir ini beberapa aktivis
liberal menggulirkan isu wahabisasi. Isu wahabisasi ini untuk menunjuk kepada
setiap upaya yang dilakukan oleh kelompok Islam apa saja yang mempunyai faham
berseberangan dengan dirinya (pengusung liberalisme). Bahkan dalam kasus
kontroversi RUU APP pun kelompok liberalisme tak segan-segan ‘menuduh’ yang pro
terhadap RUU APP sebagai wahabian.

Adalah Abdul Moqsith Ghazali misalnya,
di dalam tulisannya di www.wahidinstitute.org mengatakan ,bahwa gerakan
untuk mewahabikan umat Islam di Indonesia sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi
bahkan tidak hanya dilakukan di kota-kota besar, tetapi juga telah masuk ke
desa-desa.

Menurut si penuduh, gerakan wahabisme sudah menjangkiti banyak
pihak di Indonesia, termasuk NU. Moqsith juga menyebutkan banyak tokoh Wahabi
Timur Tengah yang pikirannya mempunyai pengaruh kuat terhadap aktivis Islam di
Indonesia, yang salah satunya adalah Abdul Qadir Zallum (harusnya yang benar
Abdul Qadim Zallum pendiri Hizbut Tahrir di Yordania ).

Tuduhan lain juga
datang dari M. Mas’ud Adnan, wakil ketua Balitbang PW NU Jatim (Jawa Pos;
28/03/06) yang menengarahi bahwa beberapa kiai-kiai di NU pun telah terpengaruh
gerakan wahabi. Hal ini didasarkan atas indikasi adanya beberapa kiai NU yang
mempunyai latar belakang studi di Saudi Arabia tetapi tidak melalui studi
akademik sampai S2 atau S3 sehingga sedikit banyak terpengaruh pada faham
Wahabi.

Selain menggulirkan isu wahabisasi, dalam waktu yang bersamaan
juga dilakukan upaya pembelokan makna terhadap idiom kembali ke khitthah
26.

Idiom ini pada dasarnya mempunyai makna mengembalikan NU pada arah
perjuangan semula yaitu menjadi jam’iyah yang bergerak dalam bidang
kemasyarakatan dan keagaamaan serta melepaskan NU dari keterlibatannya dalam
politik praktis.

Idiom ini dibelokkan pengertiannya menjadi mengembalikan
NU pada dakwah kultural dimana istilah ini telah dipertentangkan dengan istilah
dakwah struktural, dengan suatu pengertian bahwa dakwah struktural adalah upaya
formalisasi agama (syari’at), maka sebaliknya dakwah kultural berarti menolak
formalisasi.

Pembelokan serupa dilakukan pula terhadap konsep
tawassuth, tasammuh, dan tawazzun. Ke tiga istilah tersebut
sebenarnya merupakan istilah untuk mensifati teologi ahli sunnah atau Asyariyah
yang dianut oleh NU yang merupakan konsep teologi tengah-tengan antara
rasionalisme qodariyah dan antropomorfisme jabariyah.

Namun para aktivis
liberal ini telah menggeser (bisa disebut juga memelintir) maknanya sebagai
konsep yang menolak ekstrimitas atau dengan kata lain berpihak pada penolakan
terhadap formalisasi agama, karena formalisasi agama adalah sikap yang ekstrim
ke kanan.

Tafsiran seperti di atas antara lain terlihat dari tulisan
Mas’ud Adnan mengomentari dukungan PB NU terhadap RUU APP (Jawa Pos:
28/03/06).

Menurutnya NU yang berwatak tawassuth, tasammuh, dan
tawazzun lebih pas memilih solusi partikelir dari pada menjadi stempel
kelompok Islam formalis. Serupa dengan itu Gus Dur juga secara tegas mengatakan
bahwa KH Hasyim Asy’ari adalah orang yang tidak setuju dengan formalisasi
agama.(Jawa Pos: 7/04/06 )

Pemecah Ukhuwah

Isu wahabisasi patut
diduga sebagai akal-akalan kaum liberal yang dimaksudkan untuk menyekat warga NU
dari kelompok-kelompok yang menolak ide liberal. Dengan isu ini harapannya warga
NU menjadi curiga dan waspada terhadap kelompok-kelompok yang menolak ide
liberal dan sebaliknya menjadi tidak kritis terhadap ide-ide kelompok liberal
sendiri, sehingga dalam kesempatan ini tanpa disadari ide-ide liberalisme dapat
diterima. Isu wahabisasi dipilih karena NU pernah mempunyai pengalaman yang
tidak menyenangkan terhadap gerakan Wahabi. Bahkan latar belakang berdirinya NU
yang merupakan kelanjutan dari Komite Hijaz adalah untuk menangkal terhadap arus
wahabisasi.

Namun tuduhan bahwa kelompok-kelompok yang selama ini
berseberangan dengan aktivis liberal sebagai Wahabian terlalu
digeneralisasi.

Memang diakui bahwa kelompok Wahabi seperti Salafi
merupakan kelompok yang berseberangan dengan kelompok liberal, tetapi tidak
semua yang berseberangan liberalis adalah wahabi.

Syeikh Abdul Qodim
Zallum misalnya, jelas bukan Wahabi. Abdul Qodim Zallum merupakan tokoh yang
banyak mengkritisi Wahabi. Dalam bukunya Kaifa Hudimat al-Khilafah, Syeikh
Zallum mengkritik keras peran gerakan Wahabi yang terlibat dalam konspirasi
meruntuhkan kekhilafahan Usmaniah di Turki.

Dus, tidak pula bisa
digeneralisasikan seolah-olah setiap mahasiswa NU yang nyantri di Saudi
terpengaruh Wahabi.  Banyak kiai NU yang kritis terhadap kelompok liberal
mempunyai latar belakang studi di Saudi Arabia, tetapi mereka tidak belajar pada
ulama Wahabi. Di antara mereka banyak yang belajar pada (alm) Sayyid Muhammad
bin Alwi al-Maliki.

Sebut misalnyal; Luthfi Basori misalnya, seorang
kiyai muda NU yang kritis terhadap liberal adalah murid beliau. Demikian pula
tokoh FPI, Abdurrahman Assegaf, anggota Dewan Imamah Nusantara (DIN) seperti
Habib Thohir Al-Kaff dan K.H. Najih Maimun juga murid beliau.

Sayyid
Muhammad bin Alwi al-Maliki adalah seorang ulama Saudi yang banyak berseberangan
dengan orang-orang Wahabi. Bahkan beliau pernah divonis sebagai ulama sesat oleh
tokoh-tokoh wahabi seperti Syeikh Abdullah bin Baz maupun Syeikh Sulaiman bin
Mani’ dan atas rekomendasi ulama wahabi pula dicekal tidak boleh mengajar di
Masjid al-Haram oleh pemerintah Saudi.

Pencekalan itu akhirnya dicabut
sebelum beliau wafat karena kepiawaiannya memenangkan perdebatan dengan
tokoh-tokoh wahabi.

Ada misi utama yang dibawa oleh para aktivis liberal
dengan strateginya, yaitu mensosialisaikan faham sekularisme. Dalam berbagai
kesempatan para aktivis liberal senantiasa menyampaikan misi ini. Penolakannya
terhadap RUU APP pun dilakukan karena misi ini.

Kaum liberal memandang
bahwa RUU APP terlampau jauh mengatur masalah moralitas yang dalam pandangannya
yang sekuler, hal tersebut merupakan wilayah privat. Dikotomi privat dan publik
inilah merupakan ciri dari faham sekularisme. Berbagai upaya yang dilakukan
mulai dari pengguliran isu wahabisasi, pembelokan idiom-idiom NU dapat dibaca
sebagai strategi sekularisasi khususnya yang dilakukan terhadap NU.

Patut
disadari oleh para nahdliyin bahwa NU sejak kelahirannya tidak berfaham sekuler
dan tidak pula anti formalisasi. Bahkan, NU memandang formalisasi syari’at
menjadi sebuah kebutuhan. Hanya saja yang ditempuh NU dalam melakukan upaya
formalisasi bukanlah cara-cara paksaan dan kekerasan, tetapi menggunakan cara
gradual yang mengarah pada penyadaran. Hal ini karena sepak terjang NU
senantiasa berpegang pada kaidah fiqhiyah seperti maa laa yudraku kulluh la
yutraku kulluh (apa yang tidak bisa dicapai semua janganlah kemudian
meninggalkan semua) dan kaidah dar’ul mafasid muqoddamun ala jalbil masholih
(mencegah kerusakan lebih didahulukan dari pada mengambil
kemaslahatan).

Sejarah NU menjadi bukti bahwa sejak kelahirannya NU
justru concern pada perjuangan formalisasi Islam. Dalam kerangka ini NU pernah
mengukuhkan pemerintah Soekarno sebagai waliyy al-amri al-dlorui bi
al-syaukah.

Adanya pengukuhan ini merupakan kebutuhan syar’i yang
terkait dengan masalah perwalian pernikahan khususnya wali hakim, di mana hanya
sah apabila diangkat oleh pemerintah yang sah pula secara syari’at. Dalam kasus
ini pemerintah Soekarno untuk sementara masih dapat ditolelir sebagai pemerintah
yang sah secara syari’at. Namun, karena sifatnya yang belum kaffah maka
dikatakan al-dloruri.

Penggunaan kata al-dloruri (sementara)
yang disifatkan pada kata walyy al-amri menunjukkan adanya pengakuan bahwa
proses perjuangan menuju formaliasai syari’at belum selesai. Maka upaya menuju
ke arah yang lebih sempurna masih terus dilakukan. Hal ini dapat dicermati dari
sepak terjang NU pada masa-masa berikutnya seperti perjuangan NU dipimpin KH
Bisri Samsuri melalui fraksi PPP menggolkan UU Perkawinan serta menolak
penetapan aliran kepercayaan sebagai agama.

Karenanya, kita patut
wasapada dengan cara pengalihan perhatian dengan pelabelan wahabisasi yang
dilakukan kalangan liberal. Di tengah hubungan NU dengan gerakan-gerakan Islam
lain yang sudah makin baik selama sepuluh tahun terakhir ini, stigmatisai dan
pelabelan istilah itu boleh jadi pemecah ukhuwah antara kaum nahdhiyyin dengan
kelompok Islam lain.[]

*) Warga NU, Aktivis Lembaga Kajian
Islam Hanif (L-Jihan)

Duka untuk saudara

Saturday, June 3rd, 2006

Telpon berdering ketika saya sedang dijalan. Telpon dari seorang kawan, wawan. Dia menanyakan ttg tawaran bantuan dari teman2 di Muslim Stuttgart. Saya cukup terkejut mendengarnya, mereka sangat tanggap sekali dengan masalah yang terjadi.
Ketika saya bertanya kepada mereka ttg spontanitas mereka. Mereka hanya berkata Kita semua saudara, bila satu tubuh tersakiti maka tubuh lain pun merasakannya. Jangan malu untuk meminta bantuan apapun kepada kita. Itulah maknanya Ukhuwah Islamiyah.
Terima kasih saudaraku