Pernikahan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dengan Aisyah??The Ancient Myth ExposedBy T.O. Shanavas , di Michigan.C 2001 Minaretfrom The Minaret Source: http://www.iiie.net/
Sumber : http://coolstuff.blubox.us/archives/000180.html atauhttp://www.iiie.net/1/content/view/53/44/
Diterjemahkan oleh : cahyo_prihartono
Seorang teman kristen suatu kali bertanya ke saya, " Akankah andamenikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tuaberumur 50 tahun?" Saya terdiam. Dia melanjutkan," Jika anda tidak akanmelakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?" Saya katakan padanya," Saya tidak punyajawaban untuk pertanyaan
anda pada saat ini." Teman saya tersenyum danmeninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya.Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakatpada saat itu. Jika tidak, Orang-orang akan merasa keberatan denganpernikahan Nabi saw dengan Aisyah.
Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orangyang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas denganpenjelasan seperti itu.
Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontohsehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimanapun, kebanyakan orangdi Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untukmenunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seoranglaki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan sepertiitu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah thdorang tua dan suami tua tersebut.
Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolakpendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumurdibawah 18 tahun , dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidangdalam organisasi-organisasi hukum dan syariah menetapkan untuk tidakmerespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in MuslimFamily Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun dinegara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidakdapat diterima.
Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solid pun selain perhormatan saya thdNabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalammenyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polosberumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalamliteratur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwacerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapahadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saatpernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tsb sangat bermasalah. Saya akanmenyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisyanm ibnu`Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidakbertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.
BUKTI #1: PENGUJIAN THD SUMBER
Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadistyang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atasotoritas dari Bapaknya,Yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harusmencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang diMedinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun barumenceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid diMedinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, dimana Hisham tinggaldisana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.
Tehzibu'l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatanpara periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : " Hisham sangatbisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang diaceritakan setelah pindah ke Iraq " (Tehzi'bu'l-tehzi'b, Ibn Hajar Al-`asqala'ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).
Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hishamyang dicatat dari orang-orang Iraq: " Saya pernah dikasih tahu bahwa Malikmenolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq" (Tehzi'bu'l-tehzi'b, IbnHajar Al- `asqala'ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11,p. 50).
Mizanu'l-ai`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup padaperiwayat hadist Nabi saw mencatat: "Ketika masa tua, ingatan Hishammengalami kemunduran yang mencolok" (Mizanu'l-ai`tidal, Al-Zahbi,Al-Maktabatu'l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).
KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah jelek danriwayatnya setelah pindha ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehinggariwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.
KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalamsejarah Islam:
pra-610 M: Jahiliya (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
610 M: turun wahyu pertama AbuBakr menerima Islam613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat615 M: Hijrah ke Abyssinia.616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah
BUKTI #2: MEMINANG
Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad),Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9tahun.
Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: "Semua anak Abu Bakr (4orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya " (Tarikhu'l-umamwa'l-mamlu'k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara'l-fikr,Beirut, 1979).
Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnyadilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. JikaAisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalamperiwayatannya.
KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.
BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah
Menurut Ibn Hajar, "Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali,ketika Nabi saw berusia 35 tahun... Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah "(Al-isabah fi tamyizi'l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377,Maktabatu'l-Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978).
Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketikaNabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.
KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satusama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7
tahunadalah mitos tak berdasar.
BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma'
Menurut Abda'l-Rahman ibn abi zanna'd: "Asma lebih tua 10 tahun dibandingAisyah (Siyar A`la'ma'l-nubala', Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic,Mu'assasatu'l-risalah, Beirut, 1992).
Menurut Ibn Kathir: "Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]"(Al-Bidayah wa'l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi,Al-jizah, 1933).
Menurut Ibn Kathir: "Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5hari kemudian Asma meninggal. Menurut Riwayat lainya, dia meninggal 10 atau20 hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 harikemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktuAsma Meninggal, dia berusia 100 tahun" (Al-Bidayah wa'l-nihayah, IbnKathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933)
Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: "Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggalpada 73 or 74 H." (Taqribu'l-tehzib, Ibn HajarAl-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi'l-nisa', al-harfu'l-alif, Lucknow).
Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyahberselisuh usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).
Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumahtangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.
Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda'l-Rahman ibn abi zanna'd, usiaAisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20tahun.
Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalambukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannyausia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?
kesimpulan: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.
BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD
Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkandalam hadist Muslim, (Kitabu'l-jihad wa'l-siyar, Babkarahiyati'l-isti`anah fi'l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakansalah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan:"ketika kita mencapai Shajarah". Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyahmerupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenaipastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu'l-jihadwa'l-siyar, Bab Ghazwi'l-nisa' waqitalihinnama`a'lrijal): "Anas mencatatbahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah.[pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Merekamenyingsingkan sedikitpakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb]."Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhudand Badr.
Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu'l-maghazi, Bab Ghazwati'l-khandaq wahiya'l-ahza'b): "Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkandirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabimengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb."
Berdasarkan riwayat diatas,(a) anak-anak berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidakdiperbolehkan ikut dalam perang, dan(b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud
KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikanbahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalamperang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambahbeban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usiapernikahan Aisyah.
BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)
Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelumhijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatatmengatakan hal ini: "Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)"ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, kitabu'l-tafsir, BabQaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa'l-sa`atu adha'wa amarr).
Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(TheBounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkanpada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah padausia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyahin Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas,secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang
barulahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih
sukabermain (Lane's Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadijariyah bukansibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surahAl-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketikadinikah Nabi.
Kesimpulan: riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yangberusia 9 tahun.
BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab
Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertamaRasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untukmenikah lagi, Nabi bertanya kepada nya ttg pilihan yang ada di pikiranKhaulah. Khaulah berkata: "Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atauseorang wanita yang pernah menikah (thayyib)". Ketika Nabi bertanya ttgidentitas gadis tsb (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.
Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalambahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yangtepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah, sepertidinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untukseorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalamandengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris "virgin".Oleh karena itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah "wanita"(bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turathal-`arabi, Beirut).
Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatasadalah "wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan."Oleh karena itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.
BUKTI #8. Text Qur'an
Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita
perlumencari petunjuk dari Qur'an untuk membersihkan kabut kebingungan yangdiciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usiaAisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahandari gadis belia berusia 7 tahun?
Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Adasebuah ayat , yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik danmemperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur'an mengenai perlakuan anak Yatimjuga valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri. Ayat tsb mengatakan: Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurnaakalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allahsebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasilharta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Danujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian
jikamenurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memeliharaharta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)
Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslimdiperintahkan untuk(a) memberi makan mereka,(b) memberi pakaian,(c) mendidik mereka, dan(d) menguji mereka thd kedewasaan "sampai usiamenikah" sebelummempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.
Disini, ayat Qur'an menyatakan ttg butuhnya bukti yang teliti terhadaptingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektifsebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-hartakepada mereka.
Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yangbertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan padaseorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadisbelia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tsb secara tidakmemenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn
Hambal(Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yangberusia 9 tahun lebih tertarik untukbermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Olehkarena itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokohmuslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun denganNabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabimenikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.
Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilahkita memunculkan sebuah pertanyaan," berapa banyak di antara kita yangpercaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelummereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?" Jawabannya adalah Nol besar. Logikakita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita denganmemuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkinkita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahunseperti diklaim sebagai usia pernikahannya?
Abu Bakar merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadidia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yangbelum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur'an. Abu Bakar tidak akanmenikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan darigadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliauakan menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Quran.
Kesimpulan: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukumkedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karena itu, Cerita pernikahan Aisyahgadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.
BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan
Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yangdia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by JamesRobson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dariseorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.
Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan olehgadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagaivaliditas sebuah pernikahan.
Adalah tidak terbayangkan bahwa AbuBakr, seorang laki-laki yang cerdas,akan berpikir dan mananggapi secara keras ttg persetujuan pernikahan gadis7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.
Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seoranggadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main denganbonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.
kesimpulan: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akantidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami ttg klausa persetujuandari pihak isteri. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan Nabimenikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.
SUMMARY:
Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yangberusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah SAW danAisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernah keberatandengan pernikahan seperti ini, karena ini tak pernah terjadi sebagaimanaisi beberapa riwayat.
Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn`Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi denganriwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untukmenerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakarlain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama diIraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslimmenunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usiamenikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalamiinternal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usiaAisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanyakontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.
Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayaiusia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuahkebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsbdan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur'an menolakpernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layakmembebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.
This entry was posted
on Wednesday, May 17th, 2006 at 6:23 am and is filed under Uncategorized.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
June 1st, 2006 at 5:42 pm
Tobh coy. Itulah makanya.. orang2 musyrik ini akan terus menggoyang keimanan orang muslim ya caranya lewat hadits2 yg gak jelas, bahkan hadits yg shahih pun bisa diplesetkan kata2nya. Karena Allah hanya berkata kalau dia akan menjaga kesucian Al-Quran, bukan hadits kan? Sayangnya orang2 islam di indonesia lebih suka sama hadits ketimbang sama Al-Quran. Padahal hadits nya juga bergantung ke interpretasi ustad2 yg memberitahu hadits itu.
Main point nya sih, kalo mau jadi orang islam yg sempurna, harus terus belajar, pintar dan kaya.:D
June 26th, 2006 at 4:37 am
sip, aa Kiky emang tobh