Ketika hari - hari menjadi kelabu
Kuberada di depan komputer termanggu, koneksi internetku sudah melebihi kuota. Disini tanpa koneksi internet sama juga dengan hidup di hutan belantara, begitu tergantungnya orang dengan internet, ataukah hanya aku saja? Ternyata berita buruk putusnya koneksi internet merupakan awal dari hari - hariku yang kelabu.
Puncaknya ketika semua hal harus dipertimbangkan, dadaku serasa sesak, trauma masa lalu menyeruak, bayangan buruk melintas dimata. Kenapa mesti terjadi lagi? Apakah yang salah, ternyata kalkulasi naif tidak dapat mengatasi persoalan kehidupan. Sungguh naif dan polos aku ini dalam menghadapi semua, mengubah pandangan pribadi sangat susah, memang musuh yang paling besar adalah diri sendiri. Kuingin merubah dunia tetapi merubah diri sendiri tidak bisa, apalagi mengubah orang lain, keluarga, teman. Menyedihkan.
Dalam kebingungan kuhanya bisa menerawang kehampaan. Kehampaan yang menyempit seakan tahu aku sedang tidak berdaya. Aku terpuruk jatuh kedalam jurang kegelapan yang hitam pekat. Ketika keadaan semakin suntuk yang harus diakhiri dengan komunikasi terhenti, suaraku tercekik, dadaku bergetar sesak. Apakah ini nyata, apakah semua berubah dengan cepat, apakah ini hanya sebuah tes keberanian, ataukah sebuah rencana yang tak terencana, ataukah sebuah berkah yang siap menunggu.
Buruknya cuaca hari itu tidak dapat mengalahkan kacaunya hatiku. Kuingin berteriak, menangis, meronta atas semua yang terjadi pada diriku. Kenapa harus terjadi ketika aku tidak berdaya, ketika aku sudah bertekad, dan ketika aku sudah berencana. Semua lepas kendali, semuanya berjalan sendiri-sendiri, segala keakuan menjadi hilang, ternyata aku hanyalah sebuah debu yang kecil dalam kehidupan. Tergotai-gotai kesana kemari tanpa ada tujuan, sorot mata tak bernyawa, sudah kusia-siakankah hidupku, sudah tercapaikah tujuanku, sudah tahu apa kemauanku, sudah sampaikah pada kebahagiaanku, jadi apa mauku?
Kau tidak sendiri, disini ada penolong-penolongmu, belum tentu semuanya menjadi buruk, itu hanya kekhawatiranmu belaka. Waktu masih ada bukan, apakah kau sudah berusaha sepenuhnya, apakah kau sudah berkeyakinan, apakah kau sudah hilang terpuruk? Belum bukan. Ingatlah dibalik kesulitan ada kemudahan, camkan itu.
Inilah yang terngiang di hatiku, bukankah aku selalu meminta yang terbaik, mungkinkah ini jalan yang harus kulewati, mungkinkan ini jalan yang terbaik, belum tentu semuanya berakhir dengan tragis bukan, semuanya belum terjadi, masih hanya sebuah trauma masa lalu.
Aku mencoba untuk meraih sarung yang ada disampingku, kutersungkur dalam kepasrahan, ya Allah kalau memang ini baik untukku, agamaku, masa depanku, dan hari penghabisanku, kuatkanlah hatiku.
Stuttgart, 24 Mei 2006, 23:10, di kamar fedy
June 1st, 2006 at 5:25 pm
oi, kenapa lo der?
June 26th, 2006 at 4:40 am
wuaaaaaaaaaaaaaaaaaa :(( gw lagi sedih nih:(( wuaaaaaaaaaaa