Pagi berdarah
Ketika itu hari masih terlalu pagi untuk disebut menjadi siang. Cuaca yang cerah tidak menyurutkan keinginanku untuk melakukannya. Sudah kupikir matang-matang sejak tadi malam apa yang akan aku lakukan pada hari ini. Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun, masih terbayang konsekuensi apa yang akan terjadi bila perbuatan yang kurencanakan dilakukan. Kuasah golok yang sudah aku persiapkan sehingga menjadi sangat tajam, bahkan aku sendiri tidak berani untuk mencobanya.
Waktunya telah tiba, "jangan, jangan, jangan kau lakukan itu", bisik sesuatu dalam hatiku."Lakukan sajalah, apa susahnya sih, cukup sekali semua menjadi beres bukan", sisi lain hatiku membisiki. "Sudah kaupikirkan baik-baik apa yang akan kau lakukan, sudah siap semua yang kaurencanakan, ingat kalau kau sudah melakukannya jangan sampai lepas sehingga dapat dipastikan bahwa ianya telah mati", sebuah nasehat yang sangat lugas diberikan oleh teman seprofesi.
Setelah kuberjalan sebentar ternyata sudah ketemu, tidak susah mencarinya. "Ternyata semuanya sudah sesuai dengan rencana", kataku dalam hati. Langsung saja kudekati, kuikat, lalu kusengkat sehingga ianya terjatuh. Kuikat lagi sekuat-kuatnya sehingga ianya tidak berkutik, ianya hanya bisa mengeluh tanpa bisa berkata apa-apa. Kuangkat golok yang sudah kupersiapkan, jesssss tak terasa darah mengembur dengan deras dari lehernya, kugorok lehernya sampai tidak berkutik lagi. Kutinggalkan dan kumelihat sebentar, terlihat ianya sedang meregang dan menunggu mau menjemput. "Mati juga akhirnya", kataku.
Tapi perasaan di hati ini belum puas juga, aku harus mengulitinya dan mencacah dagingnya. Kutarik tubuhnya yang sudah tidak bernyawa, kutebas kepalanya hingga buntung, dan kubelah dadanya sebagai pembuka. Kukiliti dengan pelan-pelan dan hati-hati, "Masih amatir", kataku dalam hati.
Setelah kukiliti lalu kuacungkan golokku tinggi-tinggi dan crot terdengar bunyi daging yang tercacah-cacah. Setelah semuanya sudah terlambat aku baru tersadar, apa yang aku lakukan, bajuku penuh darah, ditanganku ada golok, didepanku banyak daging yang berserakan. Lemas sudah seluruh tubuhku.
Aku terkaget ketika ada seseorang yang menyentuhku dan berkata "Apa yang kau lakukan?". Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, badanku sudah lemas semuanya. "Mana dagingnya, orang-orang sudah menunggu dari tadi, jadi bikin sate ga, soalnya kalau terlalu siang nanti keburu lapar", kata temenku. "Oh iya sampe lupa, sekarang kan Idul Adha yah", kataku girang.