Archive for April, 2006

Jaringan Gerakan

Tuesday, April 25th, 2006

Assalamuàlaikum wr wb.

Waktu kita ngumpul di IMM Yogya, kita sempat berbicara tentang jaringan
Muhammadiyah. Kita simpulkan perlunya mempunyai basis gerakan yang dapat
memenuhi dirinya sendiri. Contoh : seperti Radio internet, yang kebetulan
dibicarakan di rapat PP bidangnya (maaf penulis lupa), kita menjumpai beberapa
masalah, pertama ketidaksiapannya para pemimpinnya, kedua tidak tersedianya dana
untuk mengelola radio tersebut, ditambah dengan kurangnya sumber daya manusia
yang siap 24 jam. Yang kami titik beratkan disini adalah tidak tersedianya dana
untuk mengelola radio.

Bagaimana dapat membuat basis gerakan
yang swasembada, sebaiknya gerakan dimulai dari bisnis perorangan ataupun
kelompok. Kemudian setelah mapan atau ketika berjalan kita selalu mengadakan
konsolidasi. Kami menawarkan ide bagaimana kalau kita kembali ke kampung
masing-masing dan membuat radio. Dari sisi bisnis, radio merupakan peluang yang
sangat menguntungkan, pertama anda dapat memperoleh rezeki disitu, dan kedua
anda mempunyai akses kemanapun karena anda bisa bertindak sebagai wartawan.
Bayangkan bila kita mempunyai radio, untuk awal di pulau Jawa, bila kita ingin
mempublikasikan sesuatu, kita tinggal mengontak jaringan yang lain maka otomatis
dalam sekejap seluruh Jawa tahu berita tersebut. Bukankah ini bagus buat
publikasi? Bila ingin menawarkan sesuatu, kita sudah punya jaringannya. enak
bukan.

Mengapa harus dari bisnis perorangan dan kelompok,
karena hal ini dapat membuat anda semua semangat bukan? Anda mau semuanya
berjalan sekaligus bukan, dunia dan akhirat dapat.

Mungkin
sebagian orang berpendapat, wah bikin ijinnya susah, modalnya mana. Solusinya
buat apa kita punya dedengkot2 Muhammadiyah, masa mereka tidak punya koneksi
ataupun masa tidak ada kader Muhammadiyah yang bergerak di departemen tersebut,
masa tidak ada penanam modal yang berani. Kalau kita punya kerangka kerja dan
rencana kerja yang pasti, insya Allah dapat. Makanya penulis salut dengan mas
Arif Nur Kholis atas gerakannya. Hebat coy.

wass wr
wb,
Sadr LM

Pagi berdarah

Thursday, April 20th, 2006

Ketika itu hari masih terlalu pagi untuk disebut menjadi siang. Cuaca yang cerah tidak menyurutkan keinginanku untuk melakukannya. Sudah kupikir matang-matang sejak tadi malam apa yang akan aku lakukan pada hari ini. Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun, masih terbayang konsekuensi apa yang akan terjadi bila perbuatan yang kurencanakan dilakukan. Kuasah golok yang sudah aku persiapkan sehingga menjadi sangat tajam, bahkan aku sendiri tidak berani untuk mencobanya.

Waktunya telah tiba, "jangan, jangan, jangan kau lakukan itu", bisik sesuatu dalam hatiku."Lakukan sajalah, apa susahnya sih, cukup sekali semua menjadi beres bukan", sisi lain hatiku membisiki. "Sudah kaupikirkan baik-baik apa yang akan kau lakukan, sudah siap semua yang kaurencanakan, ingat kalau kau sudah melakukannya jangan sampai lepas sehingga dapat dipastikan bahwa ianya telah mati", sebuah nasehat yang sangat lugas diberikan oleh teman seprofesi.

Setelah kuberjalan sebentar ternyata sudah ketemu, tidak susah mencarinya. "Ternyata semuanya sudah sesuai dengan rencana", kataku dalam hati. Langsung saja kudekati, kuikat, lalu kusengkat sehingga ianya terjatuh. Kuikat lagi sekuat-kuatnya sehingga ianya tidak berkutik, ianya hanya bisa mengeluh tanpa bisa berkata apa-apa. Kuangkat golok yang sudah kupersiapkan, jesssss tak terasa darah mengembur dengan deras dari lehernya, kugorok lehernya sampai tidak berkutik lagi. Kutinggalkan dan kumelihat sebentar, terlihat ianya sedang meregang dan menunggu mau menjemput. "Mati juga akhirnya", kataku.

Tapi perasaan di hati ini belum puas juga, aku harus mengulitinya dan mencacah dagingnya. Kutarik tubuhnya yang sudah tidak bernyawa, kutebas kepalanya hingga buntung, dan kubelah dadanya sebagai pembuka. Kukiliti dengan pelan-pelan dan hati-hati, "Masih amatir", kataku dalam hati.

Setelah kukiliti lalu kuacungkan golokku tinggi-tinggi dan crot terdengar bunyi daging yang tercacah-cacah. Setelah semuanya sudah terlambat aku baru tersadar, apa yang aku lakukan, bajuku penuh darah, ditanganku ada golok, didepanku banyak daging yang berserakan. Lemas sudah seluruh tubuhku.

Aku terkaget ketika ada seseorang yang menyentuhku dan berkata "Apa yang kau lakukan?". Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, badanku sudah lemas semuanya. "Mana dagingnya, orang-orang sudah menunggu dari tadi, jadi bikin sate ga, soalnya kalau terlalu siang nanti keburu lapar", kata temenku. "Oh iya sampe lupa, sekarang kan Idul Adha yah", kataku girang.

Ketidakberdayaan

Monday, April 10th, 2006
Assalamu’alaikum wr wb,
 
Setelah tersentak dengan majalah porno
aksi internasional yang katanya mirip majalah populer (saya belum melihatnya)
bisa terbit juga di Indonesia. Saya lebih tersentak ketika mendengar cerita dari
seorang teman yang mungkin cerita ini cerita basi karena sudah sering
terjadi.
 
Ketika itu temen saya ingin mengikuti kontes Putra
dan Putri daerah ,
kebetulan dia memakai jilbab,
ketika ditanya apakah bisa dilepas jilbabnya, dia mengatakan tidak. Yah akhirnya
dia pun tidak lolos menjadi finalis. Pada awalnya dia tidak percaya
bahwa ketidaklolosan sebagai finalis terjadi karena perkataannya tentang ketidak
mauan dia untuk melepas jilbab, tapi beberapa temannya yang lolos dan kebetulan
temannya pun ada yang menjadi panitia mengkonfirmasikan berita itu. Kebetulan
pemenang dari acara ini adalah perempuan yang memakai jilbab tapi sewaktu
menjadi finalis dia harus membuka jilbabnya itu.
 
Ada juga teman saya yang mau ikut audisi menjadi
presenter di sebuah televisi swasta, apakah yang terjadi ketika wawancara, dia
ditanya apakah bisa jilbabnya dibuka, dia bilang tidak. tapi kelanjutan nasibnya
tidak diketahui karena audisinya masih berlangsung.
 
Apakah ini realitas bangsa kita ketika kesadaran
agama tidak dihargai sama sekali? Ini lebih menghinakan daripada yang di
Prancis, ketika seseorang dengan prinsipnya berjilbab kemudian dikeluarkan.
Kalau di Prancis mereka dengan tegas melarang pemakaian jilbab di sekolah
tertentu. Tapi di kita, dengan pertanyaan bisakah jilbabnya dibuka? Ini
merupakan pelecehan dan pengrusakan agama, kenapa tidak ditulis pelamar tidak
boleh menggunakan jilbab, bukannya ini lebih jelas. Apakah mereka takut kalau
pernyataan ini ditulis akan didemo oleh masyarakat sekitar seperti ketika salah
satu departemen store mencantumkan hal tersebut. Menurut saya departemen store
tersebut lebih bermoral dan tidak munafik seperti acara audisi tersebut. Dengan
pertanyaan begitu mereka menganjurkan kepada kita bahwa kalau mau sukses
hendaklah buka jilbab, atau kalau mau lebih ekstrim, kalau mau sukses
lacurkanlah agama anda? Gila ga negara kita, negara dengan mayoritas muslim
malah melecehkan Islam.
 
wass wr wb.
Sadr LM