Makan, yah kata ini yang membuatku tersentak. Makan bisa membuat kenyang juga bisa membuat ribut, apalagi kalau lagi rebutan makan tentunya enak sekali:) Makan ini juga yang mengubah sikapku terhadap makanan, sekarang kalau melihat makanan baik gratis maupun engga, keinginan untuk menguasai makanan tersebut besar sekali, bahkan kadang-kadang tidak terbendung dan acuh tak acuh.
Aku juga dapat melihat reaksi teman-teman ketika sedang rebutan makanan, tapi apa mau dikata nafsu telah memenuhi diriku, sikat saja tanpa kasihan, yang tersisa hanya remah-remah untuk orang yang ketinggalan. Gila kok bisa begini sekarang, ada teman yang bilang hal itu wajar saja karena memang harga makanan disini mahal daripada di Indonesia. Lagipula kita semua adalah mahasiswa dengan uang sendiri bukan, tentunya harus hemat. Sambil menghela nafas aku membenarkan perkataan itu, kuberpikir apakah ini memang suatu alasan atau pembenaran.
Teringat aku akan cerita pada jaman para sahabat ketika perang telah selesai dan pencarian korban dilakukan. Terdengar suara orang kehausan, petugas pencari korban mencari sumber suara tersebut, ketika ditemukan petugas membuka penutup botol minuman. Ketika hendak diberikan kepada orang yang kehausan tersebut, terdengar pula suara orang meminta minum. Orang yang kehausan itu berkata mungkin saudara disana lebih membutuhkan. Petugas itu pun mencari kembali asal suara tersebut dan menemukannya. Kejadian seperti pertama terulang kembali, dan orang tersebut mempersilahkan petugas itu untuk mencari orang yang dikhawatirkan lebih kehausan. Petugas itu mengalami hal itu secara berulang-ulang sampai pada akhirnya suara terakhir yang kehausan sudah wafat, dan ketika petugas itu kembali semuanya sudah wafat.
Hebat sekali semangat persaudaraannya. Mana yang lebih membutuhkan dan mendesak daripada kejadian tersebut dibandingkan dengan kejadianku. Tragis sebuah pembenaran dalam kesalahan. Tetapi atas alasan khilaf aku melakukan hal itu lagi dan lagi.
Yah sudahlah…
Apa ada makan gratis???
wass wr wb,
Sadr LM