Kisah si Budi(1)

Sebut saja namaku Budi, sebuah nama samaran yang simpel, yang diambil dari buku pelajaran membaca kelas 1 SD yang dipinjamkan oleh kakak kelas (pada saat ini kegiatan pinjam meminjam buku dari kakak kelas sudah tidak berlaku lagi sekarang karena tiap catur wulan diwajibkan mengganti buku). Ketika anda membaca kisah ini, mungkin aku sedang berada di penjara atau masih buron atau juga sedang bersenang-senang dengan keluarga.

Aku mempunyai seorang istri dan seorang anak yang masih kecil, maklum usia pernikahan kami masih muda. Keluarga kami adalah keluarga yang harmonis. Pekerjaanku adalah wiraswasta, setelah tidak lulus pada ujian ke-3 di sebuah Bank terkemuka milik pemerintah. Kabar burung yang beredar mengatakan ada sebagian peserta yang tidak terdaftar bisa lolos masuk ujian ke-4, tetapi aku tidak mengambil pusing hal itu. Selain itu dengan keadaan yang sekarang perekonomian keluarga kami bisa dibilang lebih dari cukup.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, imbas krisis ekonomi menerpa juga kepada kami. Pesanan barang menurun drastis, perusahaan untuk sementara merumahkan karyawan. Untuk hidup sehari-hari kami menggunakan tabungan yang sebelumnya disisihkan untuk hari tua.  Dua tahun sejak imbas ekonomi, tabungan sudah berada dititik batas. Tetapi untungnya pesanan barang sudah mulai kembali. Habis gelap terbitlah terang, mungkin perkataan itu cocok sekali dengan perusahaan kami. Pesanan barang meningkat dengan cepat, dan kondisi keuangan yang sekarang sudah tidak mampu lagi untuk membeli barang-barang modal. Kuputuskan untuk meminjam uang di bank. Keputusan inilah yang akan mengubah hidupku untuk selamanya.

Aku memberanikan diri untuk meminjam uang di bank tempat aku mencoba untuk melamar kerja pertama kali. Pilihan memilih bank Pemerintah karena uang yang di bank tersebut adalah uang rakyat, jadinya kalau rakyat ingin meminjam uang maka lebih mudah daripada di bank Swasta. Asumsi yang ternyata terlalu naif. Pihak pemasaran bank tersebut memberikan syarat-syarat normal untuk mengajukan proposal peminjaman uang. Aku sebut syarat-syarat normal karena nanti ada syarat-syarat tidak normal yang akan kuceritakan. Setelah membaca seluruh dokumen dari bank, terbersit senyum optimis. Persyaratannya mudah, semua dokumen yang dibutuhkan sudah tersedia di rumah. Seminggu kemudian aku kembali menemui pihak perbankan untuk memberikan formulir, dokumen, dan proposal. Pihak bank mengatakan akan memproses peminjaman uang, silahkan bapak menunggu jawabannya satu bulan ke depan.

Tak terasa sebulan telah berlalu, telepon yang ditunggu-tunggu pun berbunyi. "Bisa bicara dengan bapak Budi?", "Ya, betul saya sendiri.",jawabku, "Kredit bapak bisa cair minggu ini, tapi pihak kami membutuhkan audit independen terhadap perusahaan bapak", "Bisa, kebetulan saya mempunyai klien sebuah perusahaan audit independen ternama.",jawabku lagi. "Oh kalau begitu silahkan bapak ke kantor kami besok pagi.","Terima kasih pak.". Akhirnya selesai juga semuanya.

Keesokan harinya, ku menemui Pak Pemasaran. "Bagaimana kabarnya pak?"kubuka pembicaraan. Setelah kami berbasa basi sebentar, beliau mengatakan "Tentang perusahaan audit yang bapak katakan kemarin, kami tidak bisa menjamin apakah kredit bisa cair atau tidak.", "Lho kok bisa pak?"tanyaku, "bukankah perusahaan itu sudah diakui secara nasional."."Sebenarnya bukan disitu masalahnya, ehm, begini pak, pihak perbankan kami mempunyai kebijakan bahwa dalam pencairan kredit kami harus menggunakan audit yang benar-benar sudah kami percayai. Jadi kami mempunyai rekanan yang sudah ditunjuk."terang bapak Pemasaran. "Oh tidak masalah, kalau begitu tolong beri saya daftar rekanan yang pihak Bapak percayai."jawabku polos.

Hari itu juga aku menelpon beberapa rekanan. Ada hal yang mengagetkan, semua rekanan yang aku telpon sudah mematok harga yang tidak jauh beda, padahal mereka belum melihat perusahaanku. Bagaimana mereka bisa mematok harga, padahal tidak tahu kondisi kliennya, pikirku dalam hati, daripada tidak dapat, coba saja dulu. "Baik pak Budi, jadi besok kita ketemu di kantor bapak." jawab bapak Rekanan.

"Begini pak, biaya audit sekian juta harus bapak persiapkan terlebih dahulu.",kata Pak Rekanan. "Wah kalau itu terlalu besar, maksimal 30 persen dong, normalnya kan segitu pak.",tawarku. "Wah tidak bisa pak, ini sudah kebijakan semua perusahaan yang sudah menjadi rekanan bank. Kalau bapak tidak mau, kami juga tidak rugi, yang membutuhkan uang kan bapak.". Jawaban dari bapak Rekanan membuatku tersentak. Gila ini pelegalan KKN dengan bungkus audit independen, kenapa aku tidak sadar dari awal, kasihan yang mempunyai profesi sebagai audit, dicoreng dengan adanya hal yang seperti ini. ".

Akhirnya aku menyerah juga, daripada perusahaan tidak berjalan, kusetujui perjanjian itu. Uang tabungan setengahnya sudah terpakai untuk membayar proses pengauditan. "Selamat pak, kredit bapak akan cair dalam waktu satu bulan ke depan.",jawab pak Pemasaran setelah melihat hasil audit. Sebulan kurang dari waktu yang dijanjikan, pak Pemasaran menelpon kembali "Bisa bapak besok kesini, saya menemukan kejanggalan di perusahaan bapak. Saya takut kalau bapak tidak segera menyelesaikan proses pencairan uang bisa tertunda."

Keesokan harinya bapak Pemasaran mengenalkan beberapa orang kepadaku. Dia mengatakan mereka semua adalah yang mengatur semua proses pencairan uang. Aku gembira sekali, ternyata orang-orangnya sudah siap semua, tinggal menunggu uangnya saja. "Begini pak, sebenarnya persyaratannya sudah lengkap, tapi kami harus survei juga ke perusahaan bapak.". "Untuk apa, bukankah sudah diaudit yang rekanan yang bapak tunjuk dan percayai, masa bapak tidak percaya dengan hasilnya?", tanyaku. "Betul pak, tapi ini formalitas untuk pengecekan dokumen audit"."Baik kalau begitu".

Setelah proses survei dilakukan, banyak pengurus pencairan yang menelpon. Ada yang menanyakan bagaimana kabarku, kabar keluargaku, yang anehnya lagi kadang-kadang ada yang menanyakan kabar proses pencairan kredit. Aku jadi berbalik bertanya "kan bapak yang tahu kok tanya ke saya". Sebulan, dua bulan, tiga bulan, telpon yang sama selalu berdering, ketika aku menanyakan ke pak Pemasaran, jawabannya selalu sama "Sedang diproses". Kredit belum cair juga seperti yang telah dijanjikan, padahal uang tabungan sudah terpakai untuk biaya survei dan pengurusan dokumen yang harus dibuat oleh rekanan yang lain. Ketika aku bertemu dengan teman yang bekerja di perusahaan audit, beliau bilang bahwa telpon itu pertanda bahwa mereka minta uang pelicin. Pada saat itu aku tidak percaya sama sekali, soalnya semua dokumenku asli dan memang aku punya niat untuk mengembalikan uang pinjamannya itu. Sudah setengah tahun proses pencairan belum juga selesai , sempat terpikir untuk memakai uang pelicin.

Akhirnya telpon yang ditunggu pun berbunyi "Kredit bapak bisa cair besok". Wah akhirnya. "Begini pak, bapak mempunyai rekening tabungan di bank kami, pencairan uang akan dimasukkan ke rekening tersebut. Tetapi sebelumnya karena bapak belum mengerti juga, bahwa kami disini meminta 10% dari nilai kredit untuk hadiah lebaran. Kalau uang ini sudah kami terima, uang sudah bisa diambil". Aku sempat tertegun mendengar berita itu hadiah lebaran dari uang suap, gila.

Sehari semalam aku tidak bisa tidur memikirkan hal itu, darimana aku bisa mendapatkan uang sebesar itu, apakah waktu 6 bulan menangkis suap harus kalah juga, apakah tidak ada lagi cara untuk mendapatkan uang yang halal, bagaimana dengan anak dan istriku, apakah mereka akan memakan uang dari hasil uang suap, gila, tabungan habis, modal tidak ada, mau nambah modal malah habis modal, ini benar-benar gila. Akhirnya keputusan gila itu kuambil juga, dan kredit pun cair.

Bersambung…

Leave a Reply