Hari pertama
Teringat ketika itu akhir bulan Februari ketika aku pertama kali menjejakkan kaki disini. Terlihat pemandangan putih menyelimuti kota ketika aku masih berada di pesawat. Wuah salju, putih bersih, kataku dalam hati. Akhirnya sampai juga setelah hampir 1 hari penuh aku berada dalam pesawat. Kutarik nafas dalam-dalam seraya melonggarkan otot-ototku yang terasa kaku karena duduk terlalu lama. Kulirik jam di tangan yang menunjukkan pukul 12 siang, seharusnya aku sudah berada disini sejam lebih cepat. Pesawat mengalami keterlambatan karena hujan salju yang cukup banyak.
Sesampainya aku di pintu keluar, ada 2 orang petugas dari bandara memanggilku dan menyuruhku untuk membuka barang-barang yang ada di dalam koper. Aku ditanya tujuan kesini untuk apa, berapa lama akan tinggal disini, ada saudarakah disini. Kulihat pintu keluar yang sudah didepan mata, beberapa orang bule yang datang bersamaku sudah menikmati kebebasan di luar bandara. Sedangkan aku bersama orang-orang asing mengalami interogasi yang memakan waktu setengah jam.
Akhirnya selesai juga, aku berjalan menuju kebebasan dari bandara. Ada orang yang memanggilku dengan nama yang aku belum biasa menjadikkannya sebuah panggilan. Lufti, Lufti disini. Kutoleh arah suara itu. Perempuan berdarah Jerman dengan memakai jaket kulit hitam, celana jeans hitam, sepatu bot sepertiga kaki, dan syal merah memanggilku. Halo apa kabar, namaku Katrin, buddy kamu, sejak hari ini hingga seminggu ke depan aku akan mengantarmu untuk mengurus keperluan mu selama tinggal disini.
Mulailah pengalamanku di Jerman…bersambung